natnat

Menyimak Sunyi di Balik Deru Air Terjun Tukad Cepung

Beberapa hari sebelum tahun 2019 berakhir, Calvin yang akan mudik ke Yogyakarta berkirim pesan singkat lewat WhatsApp, “Kamu kira-kira sedang sibuk nggak? Ada Tasya, teman kita satu kampus sedang di Bali, tolong ditemani jalan-jalan ya.” Padat, jelas, dan susah banget untuk ditolak. Beberapa hari kemudian, saya akhirnya bersua dengan Tasya untuk menentukan akan piknik kemana. Saking banyaknya tempat piknik di Bali ini, akhirnya kami memilih untuk berkunjung ke Air Terjun Tukad Cepung dan Air Terjun Tibumana. Dua air terjun tersohor di Kabupaten Bangli. Mengingat Bali sedang ramai-ramainya liburan akhir tahun dan juga cuaca yang tidak menentu, kadang panas menyengat, kadang juga mendadak mendung serta hujan, piknik ke air terjun kami pikir merupakan pilihan yang pas. Pagi hari kami sudah memulai perjalanan menuju Tukad Cepung. Dengar-dengar air terjun itu sudah ramai pengunjung sejak sering masuk dalam postingan Instagram para traveler. Jadi saya usulkan untuk berangkat pagi dari Denpasar agar sesampainya di sana, kami masih bisa menikmati suasana sepuasnya. Air terjun ini terletak di Dusun Penida Kelod, Tembuku, Kabupaten Bangli dan bisa ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan dari Denpasar. Sesampainya di lokasi, beberapa tempat sudah diubah menjadi lebih baik dan lebih rapi, berbeda dengan dua tahun lalu pertama kali saya kesini. Tempat parkir yang luas sudah tersedia sekarang. Lalu ada tulisan nama objek wisata, sebagai tanda jalan masuk ke air terjun. Kami pun langsung membeli tiket masuk seharga Rp15.000,- per orang, kemudian mulai menuruni beberapa anak tangga. Trekking pun dimulai dari loket tiket masuk turun menuju air terjun. Di jalur ini saya pun kaget, sekarang sudah banyak penjaja makanan, minuman, hingga oleh-oleh khas Bali. Padahal dulu hanya ada satu warung saja yang menjual makanan dan minuman ringan. Kami terus berjalan santai sambil sesekali senyum kepada mereka yang menjajakan dagangannya. Belum juga sampai ke air terjun, masa sudah belanja hehehehe. Sekitar 15 – 20 menit melewati jalur trekking tangga beton dan jalan setapak, kami disambut dengan sungai kecil yang sangat jernih. Segarnya udara dan angin sepoi-sepoi menemani kami. Hingga sampai di tangga menurun terakhir menuju air terjun.       Sampai di bawah, kami ambil jalan ke kiri. Di sini pemandangan yang tersaji benar-benar sangat asri, dengan bebatuan tinggi di kanan kiri, ditambah pancaran sinar matahari menembus sela-selanya. Pelan-pelan sambil sesekali berhenti menikmati pemandangan. Mencapai air terjun, kami masih berjalan hingga menemukan batu besar yang menutup jalur. Kami harus masuk melalui celah batu tersebut, dan Tukad Cepung yang tersembunyi pun terlihat di depan mata. Air terjun ini mempunyai ketinggian sekitar 15 meter dengan latar dinding padas yang terukir datar dan langsung mengalir ke dalam sungai kecil di depannya. Hanya beberapa orang saja disana. Berangkat pagi-pagi menuju kesini merupakan pilihan yang tepat. Namun sayangnya, 5 menit kemudian berbondong-bondong orang datang memenuhi lokasi air terjun. Dan tentu saja semuanya antri hanya untuk berfoto ria. Debit air di Tukad Cepung sedang tinggi, sehingga air yang turun pun deras sekali. Meskipun sedang berdiri agak jauh dari air terjun, sekujur tubuh kami tetap saja basah. Harap hati-hati jika sedang membawa kamera atau ponsel untuk berfoto disini, karena bisa basah terkena percikan air.       Puas menikmati kesegaran Air Terjun Tukad Cepung dan mengabadikan momen bersama Tasya, kami pun beranjak. Melanjutkan perjalanan menuju air terjun berikutnya, Tibumana.   Yuk piknik!            

Continue reading

Bhineka Djaja, Kopi, dan Obrolan yang Tak Pernah Habis

Januari 2020Sudah cukup lama saya tidak mampir ke tempat ini. Menikmati secangkir Cappuccino hangat di tengah hiruk pikuk lalu lintas sudut kota tua Denpasar. Ini jadi kali pertama di tahun yang baru, saya datang kembali ke kedai kopi ini.Tulisan kali terasa sangat spesial buat saya. Cerita ini saya anggap sebagai hutang lama yang baru bisa saya lunasi untuk sebuah tempat yang lebih dari 6 tahun telah menemani hari-hari saya saat masih menjadi wartawan sebuah harian nasional. Di tempat ini pula saya bertemu dengan banyak orang baru, sesama penggemar kopi yang kemudian menjadi kerabat dan sahabat.Awal pindah ke Kota Denpasar, saya dan Bettam yang juga penggemar kopi cukup kebingungan karena susah sekali mencari warung kopi. Sampai suatu hari, Nina, sepupu saya yang sudah lebih dulu pindah ke Bali berkata, “Kamu harus mampir ke Bhineka Djaja, tempat ngopi enak dan murah di Denpasar”. Pikir saya waktu itu, “Bhineka Djaja kan merek kopi, mosok ada tempat ngopinya”.    Letaknya berada di jajaran ruko-ruko Pecinan di pusat kota Denpasar. Bangunan-bangunan tua di kawasan ini sekarang dijadikan salah satu kawasan heritage Kota Denpasar, tepatnya di jalan Gajah Mada, Denpasar Utara. Jangan bayangkan kalo kedai kopi ini seindah coffee shop yang fancy macam di film Filosofi Kopi. Bangunannya adalah sebuah ruko dengan pilar bata berwarna terracotta. Di bagian luar ada beberapa meja bulat kecil dengan empat kursi, sementara di bagian dalam terdapat juga meja kayu dengan bangku yang muat untuk 2 orang di setiap sisinya. Di bagian sudut kanan, sebuah Nuova Simonelli betengger gagah di atas meja. Di sisi lain rak-rak besi berisi beragam varian kopi dalam kemasan tertata rapi. Sementara untuk membatasi pandangan dari sisi luar, dipasang rak pajang kaca yang diisi berbagai alat giling kopi manual, moka pot, kompor kecil untuk menyeduh kopi Syphon.Hampir setiap sisi dinding berpanel kayu yang dicat dengan warna coklat natural terpampang pigura-pigura dengan foto-foto, potongan koran tahun 90-an, serta beberapa lukisan dari kopi. Ada juga sebuah “alat giling kopi kuno” dengan wadah keramik warna putih gading bertuliskan ‘Cafe’ di antara pigura-pigura tadi. Beberapa orang staf yang sudah paruh baya sigap menyeduh kopi dan menyajikannya untuk para pelanggan. Yang kini bikin makin nyentrik, ada sebuah Vespa klasik tahun 1983 berwarna putih dilukis dengan apik dengan guratan warna coklat bertekstur kasar (belakangan saya diberitahu bahwa cat itu dibuat dari campuran bubuk kopi). Nah, jadi bayangkan, berkunjung ke Bhineka Djaja itu ibarat melompat ke dalam mesin waktu sembari melarutkan diri dalam buaian secangkir kopi.      Usaha kopi ini mulai dirintis sejak tahun 1935. Awalnya bermula sebagai pengepul biji kopi Bali yang kemudian diolah dan dijual dalam kemasan kiloan dengan merek Kupu-kupu Bola Dunia. Merek ini memang ibarat “mbah buyut-nya” kopi Bali. Bermula dari memperdagangkan kopi Bali, Bhineka Djaja mulai menambah barang dagangannya dengan menjual ragam kopi lain dari seantero Nusantara, misalnya kopi Papua, kopi Toraja, hingga kopi Sumatera. Ragam Arabika, Robusta hingga house-blend semua tersedia.    Kedai ini mulai buka pukul 09.00 Wita hingga tutup pukul 15.30 Wita. Kesan pertama saat mencicip kopi di Bhineka Djaja, saya langsung jatuh cinta. Rasa kopinya unik sekali. Kalau meminjam istilahnya Bettam “Roastingannya pas banget, robustanya bold tapi enggak pahit. Kopi arabika-nya juga berasa banget taste citrus-nya tapi engga terlalu asem”. Jadi tak heran jika tempat ini selalu ramai pengunjung. Hampir setiap hari saya datang untuk menikmati secangkir kopi di sini, berkenalan dengan orang-orang baru, om-om hingga bapak-bapak yang rasanya setiap hari pasti nongkrong di sini. Hingga suatu hari saya disapa oleh Wirawan Tjahjadi, yang akrab dipanggil Om Wewe, sang pemilik Bhineka Djaja.“Bagaimana kopinya? Kalau ada yang kurang bilang saja ya.”, ujarnya ramah.Selain kopi yang enak dan murah, kesederhanaan, kehangatan, serta keramahan Bhineka Djaja pun membuat saya takjub. Dari yang awalnya hanya menikmati satu cangkir kopi, lama-lama kemudian menikmati dua cangkir kopi dalam sekali kunjungan. Dari awalnya datang hanya sekitar satu jam menikmati kopi, lama-kelamaan selalu nongkrong dari siang hingga sore sampai toko tutup. Bahan obrolan tidak akan pernah habis. Mulai dari obrolan ringan dengan selingan canda tawa, hingga obrolan berat mulai dari bisnis sampai dengan politik.    Keramahan ini yang susah saya temukan di coffeeshop-coffeeshop lain. Di tempat lain, barista adalah jagoannya. Di sini lain cerita. Para pembelilah yang jadi jagoannya. Benar-benar warung kopi yang saya bayangkan, di mana ada obrolan hangat, candaan seru (yang kadang juga ngga mutu). Meski baru pertama datang, jangan sungkan untuk bergabung dengan pengunjung lainnya dan dijamin obrolan pun akan terus mengalir tanpa henti. Kerapkali Om Wewe menyapa para pengunjung dan ikut duduk ngobrol dengan mereka. Di waktu lain yang tak terduga, suatu kali Om Wewe pernah menawarkan secangkir kopi Luwak yang harganya selangit di coffeeshop di hotel berbintang for FREE alias gratis. Opo yo ngga ajaib kedai kopi ini. Selalu ada saja bahan untuk bercanda atau mengobrol bersama, hingga rasanya waktu benar-benar berjalan lambat di sini.Sudah 6 tahun lebih dan Bhineka Djaja masih menjadi tempat ngopi favorit saya dan (mungkin) tak tergantikan. Sungguh, mesin waktu itu bernama Bhineka Djaja.Yuk piknik!  Bersama Om Wewe, pemilik Bhineka Djaja.

Continue reading

Staycation Seru di Kayangan Villa Ubud

Beberapa hari terakhir ini cuaca di Bali memang sedang panas-panasnya. Merunut informasi di kanal berita daring, karena…

Continue reading

Barong Brutuk Desa Trunyan

Pagi-pagi buta kami sudah melajukan sepeda motor menuju ke Bangli. Kali ini kami akan berkunjung ke Desa Trunyan untuk…

Continue reading

Camping Bertabur Bintang di Danau Tamblingan

“Weekend ini kalian mau jalan-jalan kemana?” Pertanyaan yang cukup sering dilontarkan kepada saya dan Bettam. Meski sudah menikah, kami berdua…

Continue reading

Begini Rasanya Menginap di The Royal Pita Maha, Campuhan, Ubud

Sampai sekarang Ubud masih menjadi salah satu tempat yang paling nyaman untuk weekend escape atau sekedar mencari pengalih perhatian dari rutinitas. Bagi saya dan Bettam yang tinggal di Denpasar, suasana Ubud seperti penyejuk yang menyegarkan. Apalagi jaraknya tak terlalu jauh, maka bagi kami Ubud selalu jadi pilihan jika ingin lari dari penatnya keseharian. Deretan resor dan penginapan tersebar nyaris di seluruh penjuru Ubud. Mulai dari kelas backpacker hingga resor super mewah berharga jutaan rupiah semalam. Beruntungnya, saya dan Bettam mendapat kesempatan untuk merasakan tinggal di The Royal Pita Maha, sebuah resor menawan di kawasan perbukitan Campuhan, Desa Kedewatan, Ubud, Bali. Lokasinya yang jauh dari pusat keramaian Ubud menjadikannya tempat yang tepat untuk beristirahat sejenak dari kesibukan harian. Ini merupakan sebuah kado pernikahan yang tak terkira sebelumnya dari Pak Cok Ace (beliau sekarang menjabat sebagai Wakil Gubernur Bali), salah satu narasumber saya yang sangat ramah saat masih menjadi kuli tinta dulu. The Royal Pita Maha merupakan sebuah resor dengan tata lansekap yang unik dan menarik. Terletak di tepi Sungai Ayung, resor ini dibangun sedemikian rupa sehingga elemen Bali terasa dengan begitu kentalnya hampir di setiap sudut resor. Mulai dari ukiran, hiasan interior hingga warna-warni kembang yang tumbuh hingga di bagian dalam villa privat yang kami tinggal waktu itu.   Teduhnya jalan menuju kamar.   Pool Villa yang kami tempat saat di The Royal Pita Maha.     Beruntungnya lagi kami mendapatkan Private Pool Villa yang lokasinya berada di salah satu bagian tebing Sungai Ayung. Sebuah vila berukuran luas dengan kolam renang pribadi di sisi luar sebelah belakang. Vila ini terdiri dari sebuah kamar tidur dengan dipan berukuran King size, tentu saja lengkap dengan kain kelambu dan deretan bantal nan empuk. Sebuah ruang keluarga dengan televisi besar terletak di satu sisi. Sementara sisi seberangnya adalah kamar mandi yang dilengkapi dengan bath up dan shower room. Tepat di depan tempat tidur, sebuah pintu kaca besar dengan rangka kayu yang kokoh menjadi pembatas antara kamar tidur dengan kolam di bagian luar. Cahaya lampu temaram menerangi kolam sedalam 1,5 meter, sedangkan di tepi kolam terdapat 2 buah dipan kayu dengan payung menaunginya. Sebuah kado romantis yang sangat pas buat pasangan honeymoon seperti kami berdua, bukan begitu? Hehehee   Pemandangan dari dalam kamar.   Tempat bersantai tepi kolam.   Setiap sudut halaman kamar yang penuh dengan bunga dan dedaunan.   Kolam renang terbuka yang menghadap langsung ke lembah dan Sungai Ayung ini jadi spot favorit kami saat tinggal di sana. Saking takjub dan kagum akan keindahan resor ini, kami tak banyak mengambil foto. Saya ingat, malam itu kami menghabiskan waktu setelah santap malam di kolam renang. Mulai dari duduk-duduk santai di tepi kolam, hingga berenang di bawah redupnya bulan di Campuhan. Iya, kami tak peduli resiko masuk angin saat itu. Demi romantisme pasangan baru tentu saja…oops! Esok harinya, sejuk udara di Campuhan membangunkan kami, yang menggigil kedinginan. Disambung dengan keruyuk suara perut yang minta perhatian dan asupan makanan. Pertama yang terlintas dalam pikiran kami adalah kopi dan sarapan. Selesai cuci muka seadanya, kami bergegas menuju salah satu restoran The Royal Pita Maha untuk mengambil jatah sarapan pagi. Pemandangan di restoran ini ternyata lebih menakjubkan lagi. Berada di sisi tebing yang lain, restoran ini berlatar hijaunya sawah dan hutan kecil di kaki Campuhan. Kopi, sosis panggang, bacon dan roti yang kami santap pagi itu benar-benar terasa super nikmat. Rupanya ini yang disebut para bule-bule traveller kelas jetset itu dengan “Breakfast with a view”.   Pemandangan di salah satu restoran The Royal Pita Maha.   Sebenarnya kami ingin berlama-lama menikmati waktu di restoran ini. Sayangnya, sudah dua gelas kopi dan tambahan 3 potong sosis kami habiskan. Tak tega kami jika harus mengambil tambahan makanan lagi…tau kan…bukan malu, sama sekali bukan. Cuma tidak tega itu tadi.. Bergegas kami kembali ke vila kami. Sedikit jepret-jepret demi eksistensi konten tak lupa kami ambil sembari berjalan. Sebelum mandi, Bettam memilih untuk berenang barang satu-dua putaran. Biar agak sehat katanya..(hahahhaa….gayamu!). Lepas mandi, kami mulai berkemas. Tak lupa ambil beberapa foto interior kamar yang extra cozy ini. Berharap suatu hari nanti kami bisa kembali ke sini. (Pak Cok, berharap boleh kan ya? Ya..ya..ya.. #bukankode) Pengalaman menginap di The Royal Pita Maha bagi kami jadi salah satu yang paling berkesan. Bukan sekedar weekend escape biasa, tapi kali itu benar-benar luxury escape yang sesungguhnya! Yuk piknik!      

Continue reading