natnat

Speechless Moment di Raja Ampat II

Betapa beruntungnya saya punya kesempatan ikut dalam Open Trip Raja Ampat bersama Anak Papua Tour mulai dari…

Continue reading

Speechless Moment di Raja Ampat I

Setelah sekian lama saya menyimpan angan untuk menjejakkan kaki di Raja Ampat, kepulauan yang maha indah di kepala burung Papua, akhirnya mimpi itu terwujud. Sebenarnya hal ini masih terasa seperti mimpi, terlebih membayangkan nominal rupiah yang bakal dihabiskan untuk tiket pesawat dan segala perintilan lainnya. Well, mimpi selalu punya jalannya sendiri untuk berubah menjadi nyata bukan? Kali ini saya akan berbagi tentang cerita Open Trip Raja Ampat yang saya ikuti beberapa waktu lalu.“Minggu depan ke Raja Ampat mau ngga, Nat? Berangkat Selasa, hari Minggu sudah kembali ke Denpasar.” Tawaran yang “MANA MUNGKIN DITOLAK SIH”  ini datang nyaris di penghujung malam dari saudara ipar saya, Moory, yang kebetulan mengelola trip wisata Raja Ampat.Mulanya hanya diam dan berpikir, “Mimpi kali nih..”Hingga akhirnya, “Hah? Seriusan? Mau banget lah!”Jadilah di hari Selasa malam, kami bertolak dari Denpasar menggunakan penerbangan ke Sorong via Makassar. Trip kali ini sekaligus membantu saudara ipar saya mengurus tamu rombongan dari Jakarta.Setelah menempuh penerbangan transit dengan total perjalanan selama sekitar 8,5 jam, saya pun sampai di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong. Hari pertama kami bermalam di Sorong terlebih dahulu untuk mempersiapkan segala kebutuhan selama menjelajah Raja Ampat keesokan harinya. Setelah semua urusan selesai dan kebutuhan lengkap, esok paginya kami bersama dengan rombongan pun bersiap berangkat. Raja Ampat, I’m coming! Pemandangan di Pelabuhan Sorong saat kita berangkat menuju Misool. Pulau Misool menjadi tujuan pertama kami. Perjalanan dari Sorong menuju Misool kira-kira 4 jam menggunakan kapal cepat. Bang Ais, sang nahkoda kapal, dengan santai melambatkan laju kapal ketika kami memasuki perairan Misool. Gugusan bukit karst di samping kanan kiri, mulai dari yang kecil hingga yang menjulang tinggi seakan menyapa ramah ditingkahi gemericik air laut yang diterpa haluan kapal.Misool merupakan satu dari empat pulau besar di Kepulauan Raja Ampat yang berbatasan langsung dengan Laut Seram, dan termasuk di daerah segitiga karang dunia. Bahkan ekosistem bawah airnya pun termasuk salah satu yang paling kaya di dunia. Selain itu, bentang lautnya yang luas menjadikan perairan Misool sebagai jalur migrasi ikan paus. Menurut anak buah kapal yang menemani kami kala itu, waktu terbaik untuk mengunjungi Misool antara bulan Oktober – Februari. Sedangkan pada bulan Juni – September tidak disarankan datang ke Misool karena cuaca buruk, yakni angin kencang dan ombak yang sangat tinggi.Spot pertama yang kami kunjungi adalah Balbulol, sebuah laguna dengan batuan besar seperti kerucut yang mempunyai tinggi mencapai puluhan meter mengelilinginya. Perairan yang mengelilinginya pun jernihnya minta ampun! Balbulol benar-benar menyajikan pemandangan yang megah dan menakjubkan.   Setelah kapal berhenti menemukan tempat bersandar, tanpa menunggu komando lebih lama saya segera berganti pakaian dan terjun ke air. Kira-kira setengah jam lamanya kami menghabiskan waktu di Balbulol. Untungnya, saat itu belum ada kapal pengunjung lainnya yang sandar di Balbulol. Jadi benar-benar laguna itu seperti milik kami sendiri!  Puas bermain air dan berfoto ria, kami beranjak ke spot berikutnya. Tujuan kami kedua adalah Dapunlol atau yang sering dikenal dengan Puncak Harfat Jaya. Moory berkata, Pulau Misool memang menakjubkan, tapi akan terlihat lebih menakjubkan lagi apabila dipandang dari atas. Nah di puncak ini lah kita melihat langsung lanskap Misool yang benar-benar menakjubkan itu. View selama trekking. Trekking menuju puncak tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya 30 menit kurang lebih. Jalur trekking pun sudah dibuat tangga dan mudah untuk dilewati. Hanya saja pengunjung biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama karena selalu berhenti untuk menikmati pemandangan dan berfoto ria selama trekking, termasuk saya. Bagaimana tidak, selama trekking, samping kita tersaji pulau-pulau karang dengan sela-sela perairan yang berwarna toska. Benar-benar menyegarkan dan membuat saya terkagum-kagum. Begitu sampai di puncak, tak kalah hebatnya, udara yang menyegarkan dan pemandangan yang menakjubkan ada di depan mata. Saya hanya terpana melihat semua keindahan itu, dan semua rasa lelah selama trekking terbayar sudah. Sampai puncak duduk santai menikmati pemandangan yang tak kalah ciamik! Spot ketiga yang kami tuju yakni Dafalen. Keindahannya sukses membuat saya melongo terkagum-kagum sambil melihat kanan kiri saya yang selalu penuh dengan karst-karst menjulang. Begitu kapal berhenti dan membuang jangkar, ada satu karst tinggi di hadapan saya yang mirip pohon natal alami, yang tak perlu hiasan gantung untuk menjadi indah dan menakjubkan.“Yuk snorkeling, Nat. Kamu harus ngerasain snorkeling disini, airnya jernih banget dan banyak ikan-ikan kecil juga.”, tutur Moory.Saat itu juga saya pun langsung nyebur, berenang kesana kemari kegirangan. Airnya benar-benar jernih! Bahkan tanpa snorkeling pun kita bisa melihat pemandangan bawah laut Dafalen dari atas kapal.Jika ingin melihat pemandangan yang lebih ciamik, kami harus naik ke bebatuan tinggi. Dari puncak, konon katanya kita bisa melihat pemandangan yang tak kalah indah, puluhan karst tersebar dengan sapuan warna lautan toska dan biru gelap. Bahkan saat air surut, kita bisa melihat bentuk tanda cinta dari atas bebatuan. Namun sayangnya kala itu waktu sudah semakin sore dan perairan Dafalen juga sedang pasang. Sehingga kami hanya menghabiskan waktu untuk snorkelihg saja. Saking terpesona dan terpana melihat keindahan alam di Pulau Misool, saya sendiri tak banyak mengabadikan gambar dengan kamera saya, hanya menyimpan serta mengingatnya dalam memori saya sendiri.Bagi saya, Misool benar-benar surga yang sukar terjamah namun akan membuatmu jatuh cinta, sangat!Buat kalian yang ingin join trip bersama Anak Papua Tour, kalian bisa langsung menghubunginya melalui:Telepon/Whatsapp: 6285296043961Email: info@anakpapua.netWebsite: www.anakpapua.netYuk piknik!      

Continue reading

Menghabiskan Waktu di Kota Medan Bisa Piknik Kemana Saja?

Usai pesta pernikahan menakjubkan ala Batak dan melihat kemegahan Danau Toba, kami harus melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Medan. Sayang memang, namun kami tak punya waktu yang lama untuk menjelajah Sumatra Utara. Ditambah lagi Bettam dan Mba Nian yang pekerja kantoran tak punya cuti banyak.Pagi hari kami sudah berada di pool Paradep, menunggu kendaraan yang akan membawa kami balik ke Medan. Hari ini kami punya waktu hingga malam hari, sebelum terbang meninggalkan Sumatra Utara.Saya ingat perjalanan pagi itu tak banyak yang kami lakukan. Kecuali tidur. Iya, kami menyadari dengan usia yang tak lagi belia, tak ada tenaga sisa-sisa yang bisa berlarian kesana kemari. Sehari penuh mengikuti acara pernikahan ditambah dua hari perjalanan, lelahnya bukan main. Membuat kami nggak ngoyo buang-buang tenaga lagi.Menjelang tengah hari, kami sudah sampai di Kota Medan. Sama dengan kota-kota besar lainnya, Medan pun ramai, panas, dan macet di beberapa titik jalan raya. Turun di pool Paradep, kami langsung memesan taksi online. Lapar, kami butuh makan. Bettam yang penggila babi pun langsung mengarahkan pesanan taksi online ke warung BPK (lagi! Hahahahaha). I. Graha Santa Maria Annai VelangkanniSudah kenyang, tenaga terisi penuh, lanjut jalan lagi kita. Destinasi pertama yang kita kunjungi adalah Graha Santa Maria Annai Velangkanni. Sebuah Gereja Katolik dengan arsitektur khas Indo-Mughal serta menyerupai sebuah kuil Hindu. Memasuki gerbang utamanya, saya sudah terkagum-kagum dengan keindahan bangunannya. Gereja ini terdiri dari kombinasi warna coklat, abu-abu, dan merah, pagoda di bagian atasnya, serta dua tangga berkelok-kelok di bagian depan. Cantik sekali!   Dibangun pada tahun 2005, gereja ini didesain oleh Pastor James Bharataputra S.J. Dia mempunyai visi untuk membuat Graha Maria menjadi sebuah tempat dimana semua orang dari berbagai ras, agama, kaya, maupun miskin dapat menyebutnya rumah untuk mencari kedamaian, penyembuhan, pelipur lara, dan juga mendekatkan diri dengan Tuhan. Oleh karena itu, bangunan ini tidak ada ciri khas Katolik khusus yang terlihat. Semua orang diperbolehkan datang dan masuk ke dalam gereja ini, siapapun itu.Sambil memandang takjub, saya berkeliling pelan melihat gereja ini. Tak hanya bangunan utama saja yang menarik perhatian saya. Disini juga terdapat patung-patung orang dari berbagai ras dan budaya Indonesia di salah satu dinding gereja yang melambangkan kesatuan diantara umat Tuhan. Patung-patung ini juga sebagai simbol bahwa setiap orang selalu disambut disini, terlepas dari latar belakang iman maupun budaya mereka. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah gereja ini menyematkan salam maria dalam berbagai bahasa di bangunannya.   II. Istana MaimunDari Graha Santa Maria Annai Velangkanni, kami melanjutkan persinggahan berikutnya yaitu Istana Maimun. Banyak yang bilang belum sah rasanya ke Medan kalau belum mampir ke tempat ini. Bangunan ini memang menjadi salah satu ikon Kota Medan dan juga saksi bisu jayanya Kesultanan Deli pada zaman dahulu.Istana ini dibangun pada tahun 1887 silam oleh Sultan Deli yang memindahkan ibu kota dari Kota Labuhan ke Medan. Dengan luas tanah 4,5 hektar dan bangunan seluas 2.700 meter persegi, istana ini dibangun dengan paduan beragam gaya arsitektur seperti Timur Tengah, Arab Saudi, dan Eropa.  Sayangnya saat kami berkunjung kesini, sedang ada pembongkaran beberapa tenda di halaman istana usai acara. Sehingga halaman istana terlihat sedikit berantakan dan kotor. Kami pun tak lama berada disini, karena sudah semakin sore dan kami harus segera menuju ke bandara.Saatnya pulang, saatnya kembali ke kesibukan sehari-hari. Terima kasih Sumatra Utara atas kehangatan, keramahan, dan keindahan dalam perjalanan kami.Yuk piknik!

Continue reading

Pertama Kali ke Sumatra Utara, Tak Lupa Berkunjung ke Danau Toba

Horas!Setelah menempuh perjalanan cukup panjang (yang tentunya berbekal tiket murah dari Denpasar), akhirnya saya dan Bettam menginjakkan kaki di tanah Sumatra Utara. Perjalanan kali ini sekaligus dalam rangka menghadiri kondangan sepupu, Nina & Moory, calon suaminya yang orang Batak tulen. Selain itu, jalan-jalan tentu menjadi agenda wajib kami saat bepergian ke tempat yang baru.Setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Kualanamu, kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Pematangsiantar menggunakan bus Paradep yang mudah ditemukan di pintu luar bandara. Selama perjalanan darat, kami berencana untuk tidur sebentar menyimpan tenaga, namun sayangnya sopir antar kota di Medan ini sedikit lebih ngawur dibandingkan di pulau Jawa. Dengan mata terus terbuka serta perut dikocok melewati jalanan yang kadang rata dan kadang tidak, akhirnya kami sampai di Pematangsiantar 3 jam kemudian.Kami langsung menuju penginapan yang sudah dipesan sebelumnya. Saya ingat waktu itu masih sore hari. Kami turun di pangkalan Paradep, kemudian lanjut menggunakan taksi online. Sembari menunggu taksi online datang, saya menikmati keramaian pusat kota Pematangsiantar dikala sore hari. Sama seperti kota-kota lainnya di Jawa maupun Bali, disini pun tak kalah ramai orang hilir mudik. Ada yang duduk-duduk santai menikmati sore, ada yang pulang dari rumah atau sekolah, dan juga angkutan-angkutan umum yang ngetem di salah satu sudut kota. Satu hal yang paling khas dari kota ini adalah adanya Bentor atau becak motor yang menggunakan motor Birmingham Small Arm (BSA). Yang bikin Bettam bengong terkagum-kagum terus memandanginya tanpa henti (namanya juga laki-laki ya kan…).Selama di Pematangsiantar, kami tidak banyak mengeksplor tempat-tempat piknik. Kami hanya sempat mampir ke warung BPK (babi panggang karo) untuk mengobati lapar yang sudah tak tertahan. Kemudian kami hanya santai di penginapan saja, bersiap untuk acara pernikahan keesokan harinya.Selain ini pertama kalinya kami menginjakkan kaki di Pulau Sumatra maupun Pematangsiantar, ini juga pertama kalinya kami mengikuti pernikahan secara adat Batak dari awal hingga akhir. Benar-benar menakjubkan! Kita diajak untuk benar-benar berpesta bersukacita atas terlaksananya pernikahan ini dengan iringan musik dan tarian selama seharian penuh. Benar-benar hari yang melelahkan, namun kami semua sangat bahagia.Keesokan harinya, petualangan baru dimulai. Setelah mengantarkan rombongan keluarga besar yang akan pulang lebih dulu ke Jawa, saya, Bettam, Mba Nian, dan Mas Agung berkendara menuju Danau Toba. Setelah 1,5 jam perjalanan santai dengan kendaraan pribadi, akhirnya kami sampai di Parapat, salah satu akses menuju danau terluas di Indonesia ini.   Pelan-pelan langit mendung mulai merayap ke arah kami. Tanpa berpikir lebih lama lagi, kami langsung bergabung dengan kapal penumpang yang akan membawa kami semua ke Pulau Samosir. Naik kapal ini kami cukup membayar Rp10.000,- per orang dengan perjalanan bolak-balik kembali ke Parapat.Tak berselang lama setelah kami masuk, kapal mulai berjalan pelan membelah perairan Danau Toba yang saat itu tenang sekali. Tiba-tiba langit gelap sudah di depan mata, gerimis pelan pun datang. Membuat suasana di Danau Toba semakin syahdu.Danau Toba merupakan danau berkawah dengan luas sekitar 1.130 kilometer persegi, yang diperkirakan terbentuk setelah letusan gunung api sekitar 73.000 – 75.000 tahun lalu. Oleh karena itu danau ini ditempatkan sebagai danau terluas di Asia Tenggara dan terbesar kedua di dunia. Danau ini mempunyai kedalaman sekitar 450 meter dan termasuk danau terdalam di dunia. Di bagian tengah danau terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Samosir yang luasnya sekitar 630 kilometer persegi. Danau dan pulau ini merupakan keindahan alam yang belum terjamah, tak heran jika menjadi tujuan wisata sejak lama.   Sebelum merapat ke Samosir, sang nakhoda kapal mengajak kami untuk melihat Batu Gantung di salah satu tepi Danau Toba. Batu ini merupakan legenda cerita rakyat tentang seorang gadis cantik yang bunuh diri karena akan dinikahkan oleh ayahnya dengan naborunya. Calon suaminya ini seorang laki-laki bodoh dan berasal dari keluarga yang kaya. Akhirnya gadis tersebut melarikan diri dan memutuskan terjun dari tepi jurang bersama dengan anjing kesayangannya. Pada saat terjun, rambut gadis ini tersangkut di salah satu pepohonan yang tumbuh di tepi jurang. Hingga tubuhnya tergantung saja disana bersama dengan anjingnya, dan menjadi batu hingga sekarang.  Kapal melaju kembali dan kami pun sampai di dermaga Tomok, sebuah kampung wisata di Samosir. Kami turun dari kapal dan membayar retribusi Rp3.000,- per orang. Kami berkeliling sebentar disini. Dari dermaga, kami masuk ke dalam sebuah pasar yang menjajakan makanan maupun oleh-oleh khas Danau Toba seperti kain Ulos, kaos, maupun pernak-pernik lainnya.  Semakin masuk ke dalam, kami menjumpai Kawasan Kampung Batak dengan rumah adat yang khas dan dilengkapi dengan boneka sigale-gale. Disini kita bisa ikut menari tor-tor atau tarian sigale-gale, lengkap dengan menggunakan pakaian khas Batak. Kami sendiri tidak ikut mencoba menari, hanya menikmati pertunjukkan tersebut sambal berkeliling melihat rumah adat.  Tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah komplek makam Raja Sidabutar berumur sekitar lebih dari 460 tahun. Raja ini merupakan manusia pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Samosir. Sebelum memasuki kawasan makam, kami diminta untuk mengenakan ulos yang diletakkan di atas bahu untuk menjaga kesopanan. Konon, jika kita melanggar aturan tersebut, sang raja akan menghampiri kita melalui mimpi.Perlahan masuk ke dalam makam, kami langsung disambut dengan makam batu yang tertata rapi dengan ornamen warna merah, putih, dan hitam. Makam sang raja ini terbuat dari batu utuh tanpa sambungan yang dipahat. Selain itu, makam ini juga tidak dikubur dalam tanah, melainkan diletakkan di atas permukaan tanah.Keunikan lainnya dari makam ini adalah dihiasi oleh sebuah simbol, bukan dihiasi oleh batu nisan. Ada gambar lukisan kepala besar yang melambangkan Raja Sidabutar, lalu ada ukiran kepala lebih kecil di bagian ujung satunya yang melambangkan makam permaisuri atau Boru Damanik. Disamping itu, terdapat juga ukiran laki-laki yang ada di bagian bawah kepala raja merupakan simbol dari Panglima Guru Saung Lang Meraji. Tak hanya mereka saja, semua keturunan dan ajudan sang raja juga dimakamkan disini.    Tak terasa waktu semakin sore dan mendung kembali datang menghantui kami. Waktunya untuk pulang, sebelum hujan lebat. Kami segera beranjak menuju dermaga Tomok, masuk ke dalam kapal yang sudah menunggu kami. Tapi sebelum itu, tentu saja mampir untuk beli buah tangan sebagai kenang-kenangan. Jalo asi das jumpa, Toba!Yuk piknik!

Continue reading

Nyore di Ubud: Menanti Kokokan Pulang

Beberapa minggu belakangan ini, minat untuk piknik atau sekadar jalan-jalan ringan menghabiskan waktu luang seakan sedang menguap entah kemana….

Continue reading

Sehari Menjelajah Kemegahan Angkor

  Pukul 04.00 waktu setempat, saya dan Steffi sudah bersiap di lobby penginapan…

Continue reading

FOLLOW @ INSTAGRAM