Barong Brutuk Desa Trunyan

Pagi-pagi buta kami sudah melajukan sepeda motor menuju ke Bangli. Kali ini kami akan berkunjung ke Desa Trunyan untuk melihat pertunjukkan Barong Brutuk.

Beberapa hari sebelumnya, Calvin mengajak melihat tradisi tersebut pertama kalinya (pada Oktober 2014). Tradisi ini baru akan dilaksanakan setelah belasan tahun vakum karena adanya bencana alam di desa tersebut. Untung saja saat itu adalah waktu kami libur sebagai pekerja kantoran. Tanpa pikir panjang, saya, Bettam, Nina, Mas Fani, Calvin serta bapak dan adiknya, menuju ke desa yang terkenal akan keunikan pemakamannya.

Setelah sekitar 1,5 jam hingga 2 jam perjalanan santai dengan sepeda motor, kami sampai di Desa Trunyan. Kami langsung disambut dengan kesibukan warga desa serta ramainya para penonton yang sudah berkumpul sebelum prosesi Barong Brutuk dimulai.

Barong Brutuk adalah sebuah tari barong kuno yang berlangsung saat upacara Ngusaba Gede Ratu Brutuk dan hanya ada di Desa Trunyan saja. Tari ini menggambarkan kehidupan para leluhur pada zaman dahulu. Konon Barong Brutuk merupakan unen-unen atau anak buah dari leluhur orang Trunyan, yaitu Ida Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar (perempuan) dan Ratu Sakti Pancering Jagat (laki-laki).

Tradisi ini dilakukan setiap dua tahun sekali jika tidak ada halangan. Penarinya adalah anggota perkumpulan pemuda atau truna, dan merupakan remaja laki-laki yang belum menikah. Para pemuda ini dipilih sebagai penari karena dianggap masih suci atau murni oleh masyarakat Trunyan.

Sebelum menarikan Barong Brutuk, para penari harus melakukan proses penyucian diri selama 42 hari. Selama masa penyucian diri, mereka tinggal di sekitar Bhatara Datonta untuk bertugas membersihkan halaman pura dan mempelajari nyanyian kuna yang disebut Kidung. Kegiatan lainnya selama proses ini, mereka menumpulkan daun-daun pisang yang ada di desa, dikeringkan, dan kemudian dirajut dengan tali kupas hingga dijadikan kostum untuk para penari Barong Brutuk. Selain itu, selama proses ini mereka juga mempunyai beberapa pantangan seperti tidak minum minuman beralkohol, tidak berhubungan dengan perempuan di desanya, dan tidak berjudi.

 

Penari Barong Brutuk yang sudah siap untuk menari I.

 

 

Penari Barong Brutuk yang sudah siap untuk menari II.

 

Setiap penari akan memakai dua atau tiga rangkaian busana dari daun pisang kering tersebut. Sebagian digantungkan di pinggang, dan sebagian lagi dipakai pada bahu serta bawah leher. Penggunaan daun pisang ini sudah tradisi turun temurun, serta sebagai bentuk pendekatan diri dan ungkapan syukur masyarakat Trunyan terhadap hasil alam desa tersebut.

Kostum Barong Brutuk dilengkapi dengan topeng yang terbuat dari batok kelapa. Topeng ini berbentuk wajah bulat sederhana berwarna hitam, dengan lukisan mata berwarna putih atau cokelat. Topeng ini disimpan dalam sebuah tempat penyimpanan khusus, dan konon topeng ini bisa berubah-ubah jumlahnya setiap kali tempat penyimpanan dibuka. Kadang jumlah topeng ada 19, ada 20, atau 21 topeng. Namun hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihat dan mengetahui hal tersebut.

Saat kostum dan topeng dipakai, para penari pun siap memasuki area pura untuk mulai menari. Mulai dari jeroan, jaba tengah, hingga jaba pura, mereka berjalan keliling bersama dengan pecalang serta warga laki-laki lainnya yang tidak menari. Kemudian para penari berlari-lari dan memecut ke arah para penonton. Pecutan Barong Brutuk berawal dari penyakit cacar dan penyakit kulit lainnya yang pernah mewabah di Desa Trunyan. Zaman dahulu, masyarakat mengobati penyakit itu dengan menggunakan pecut hingga luka berdarah, dan akhirnya kering dengan sendirinya. Oleh karena itu, pecutan Barong Brutuk ini dipercaya sebagai kesembuhan dan keselamatan.

 

Penari Barong Brutuk yang siap memecut.

 

Sebagian penonton ada yang kabur karena takut tercambuk. Ada juga penonton yang menyerahkan diri untuk dicambuk karena mereka percaya bahwa cambukan tersebut merupakan tamba atau obat untuk menyembuhkan penyakit.

“Mriki Tu, tiang nunas tamba.”, teriak penonton kepada penari Barong Brutuk.

Banyak juga penonton yang mengambil serpihan daun kraras atau daun pisang kering yang berjatuhan, kemudian diselipkan di telinga mereka. Nantinya daun tersebut akan dibawa pulang ke rumah dan disimpan sebagai keselamatan atau disebar di sawah mereka untuk kesuburan. Selain itu, Barong Brutuk juga akan melemparkan buah-buahan yang nantinya akan menjadi rebutan masyarakat. Buah ini mempunyai makna yang sama, yaitu dipercaya dapat memberi kesehatan serta keselamatan.

Kami memilih untuk berdiri dibalik pagar pura sambil sesekali mengintip Barong Brutuk, kemana mereka mengarahkan cambuknya. Bahkan setelah setengah pertunjukan Barong Brutuk ini, saya terkena cambuk di bagian belakang leher. Otomatis saya langsung mengucap syukur dalam hati dan memohon kesehatan serta keselamatan sambil meringis kesakitan.

 

Salah satu penari Barong Brutuk yang mencari penonton untuk dipecut.

 

Para penonton yang sembunyi di balik tembok pura.

 

Barong Brutuk ini berlangsung selama seharian penuh. Berbeda dengan pertunjukkan Barong pada umumnya, Barong Brutuk tidak menggunakan iringan musik apapun dan tariannya tidak menggunakan pakem tari pada umumnya. Para penari menari dengan sendirinya sambil mengarahkan pecut panjang mereka.

Menjelang sore hari, akhir pementasan Barong Brutuk ditandai dengan para penari melepas topeng serta kostum mereka. Kemudian mereka melukat atau mandi di danau. Setelah itu, upacara ditutup dengan melakukan sembahyang bersama serta megibung (tradisi makan bersama).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM