Camping Bertabur Bintang di Danau Tamblingan

“Weekend ini kalian mau jalan-jalan kemana?”

Pertanyaan yang cukup sering dilontarkan kepada saya dan Bettam. Meski sudah menikah, kami berdua masih tak bisa meninggalkan begitu saja nikmatnya piknik di akhir pekan. Ditambah lagi Bettam sekarang menjalani kerja kantoran sebagai ‘buruh pengabdi mesin absen dan gaji bulanan’ yang waktunya sangat padat saat hari kerja. Liburan akhir pekan ibarat pelampiasan yang dinanti-nanti. Sedangkan saya, kadang-nggak-mau-jalan-sendiri-karena-takut-linglung. Hahaha…

Setelah melalui perbincangan berat tak tentu arah dengan Bang Calvin; si ‘Sobat Ambyar Cendol Dawet’ yang sayangnya jago sekali memotret, kami putuskan untuk menikmati akhir pekan dengan camping di Danau Tamblingan. Untungnya, peserta PERSAMI kali ini bukan hanya kami bertiga. Pasangan lovebirds Aryo dan Nia turut dalam rombongan. Berangkatlah kami; 2 pasangan dan 1 pemuda penuh kasih pencari cinta, ke arah utara. Gasss!!

Danau Tamblingan sendiri berada di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Danau ini merupakan salah satu dari tiga danau yang berdekatan serta terbentuk dari letusan kaldera Gunung Lesung berabad-abad yang lalu. Di sebelah timur Danau Tamblingan, terdapat Danau Buyan dan Danau Beratan yang diapit oleh hutan di sekelilingnya. Letaknya yang berada di dataran tinggi menjadikan ketiga danau ini nampak seperti kolam berselimut awan jika dilihat dari atas Bukit Munduk.

Jalan menuju Danau Tamblingan bisa dibilang sangat gampang ditemukan, baik menggunakan peta online maupun lewat papan petunjuk arah di sepanjang perjalanan. Kami memang sudah pernah berkunjung ke Danau Tamblingan beberapa kali, namun bukan untuk berkemah. Biasanya kami kemari jika ingin menikmati momen sunrise yang begitu magis. Selain itu, kami juga lebih sering berkemah di Danau Buyan. Jadi rasanya tak adil jika belum pernah mampir menginap di Danau Tamblingan.

Setelah berkendara santai sambil beberapa kali berhenti di warung-warung pinggir jalan, sekiranya pukul 15.00 kami memasuki pintu masuk danau. Masing-masing dikenakan biaya retribusi sebesar Rp10.000,-. Mobil dipacu perlahan melewati jalanan tanah bergelombang. Tak lama sampailah kami di tepi danau. Untung saja saat ini adalah musim kemarau dan air danau sedikit surut sehingga tersedia tempat sangat luas untuk berkemah. Bettam memilih salah satu sudut di utara pura, dengan view langsung ke arah danau. Selain itu supaya tidak terlalu berdekatan dengan tenda-tenda lain yang sudah lebih dulu dibangun. Sebenarnya kami tak menduga lokasi ini akan seramai ini, tapi ya sudahlah ya…namanya juga camping.

 

Samar-samar langit senja di tepi Danau Tamblingan.

 

Setelah tenda berdiri, dengan cekatan Bettam segera mempersiapkan bahan makanan untuk makan malam. Lumayan banggalah saya, punya suami yang rajin bekerja dan jago memasak meski paling anti cuci baju dan seterika…(pssst…jangan marah ya, sayang :p) Kami juga tidak hanya diam dan menyaksikannya memasak kok…kami jalan-jalan sambil berburu foto…hasilnya ya foto di atas itu. Maaf ya, sayang. Hahahahahaha 😀

Angin dingin bertiup cukup kencang. Kami merapat ke arah api unggun yang sudah menyala sejak gelap memeluk. Sedangkan Calvin mendadak menghilang. Biasanya jika hilang tanpa pesan saat malam hari, dia sedang menunaikan ibadah photo hunting.

“Berburu indahnya Milky Way“, katanya suatu hari dengan lagak berpujangga (Halaahh….mbok mendingan berburu gadis-gadis haus belaian sana)

Makan malam pun siap, tapi Calvin tak kunjung juga kembali. Sempat terlintas pikiran, jangan-jangan ini anak kecemplung di danau. Beberapa kali kami coba menghubungi ponsel-nya, tapi tak ada respon.

“Udah biarin aja. Paling juga lagi berkhayal tentang mbak-mbak berambut pendek dan cerita cinta dari luar angkasa”, potong Bettam sambil menyuap sesendok nasi dengan potongan daging babi masakannya.

Tak berselang lama usai kami menyantap makan malam, Calvin muncul dari kegelapan sambil menyungging senyum tak bersalah. Kami berempat saling pandang keheranan. Tanpa basa-basi ia ambil sepiring nasi yang sudah disiapkan.

“Ini makananku kan? Makasih lhoo udah disiapin”. Singkat, lugas dan…edyaaann.

Malam itu langit Danau Tamblingan memang benar-benar cerah. Sebelumnya kami sempat khawatir akan turun hujan, karena saat berangkat tadi, awan mendung nampak menggelayut di utara. Terlebih karena daerah dataran tinggi ini cukup sering hujan dan berkabut mulai dari sore hingga malam hari. Tak mau kehilangan momen langit malam nan cerah ini, saya langsung meminjam tripod Calvin untuk mengabadikan milky way.

 

Difotoin si ‘Sobat Ambyar Cendol Dawet’ setelah dia selesai makan malam.

 

Cerahnya langit malam yang bikin jauh cinta.

 

Malam itu kami lewati diiringi suara merdu Aryo yang kadang terdengar seperti perpaduan suara alm. Mike Mohede dan Judika. Suara saya? Jangan tanya, saya anteng saja sambil menahan dingin dan angin malam yang makin kencang. Sudah puas menikmati Milky Way, sudah bahagia berdendang lagu bersama, kami masuk ke dalam tenda berharap untuk tertidur dengan lelap. Namun sayangnya itu hanya harapan belaka. Suara dengkuran Bettam, Aryo, dan Calvin bersahutan bak mesin diesel yang baru saja diservis. Malam semakin larut dan dingin menggigil. Akhinya setelah satu jam lebih terlewati mendengarkan perlombaan dengkuran, rasanya mata saya menyerah pada kantuk yang mendera.

Matahari pagi yang bersinar keemasan membangunkan tidur saya yang tak terlalu lelap. Sang mentari merangkak perlahan, menyeruak malu-malu dari balik selimut kabut yang bertiup beringsut menutup permukaan air danau. Beberapa fotografer yang nampaknya mulai datang di pagi buta terlihat mencari-cari posisi terbaik. Ada 2 pasang calon pengantin dengan busana Payas Agung Bali yang turut memanfaatkan momen terbitnya mentari untuk dijadikan latar foto pre-wedding. Beberapa orang warga sekitar dengan balutan kain sarung dan jaket tebal juga bersiap dengan perahu mereka untuk mengantarkan para tamu untuk berkeliling danau atau berfoto di spot yang ada agak di tengah danau.

 

Pagi di Danau Tamblingan I.

 

Tentu saja difoto oleh fotografer pribadi, Calvin Damas Emil.

 

Pagi di Danau Tamblingan II.

 

Sambil terus bergerak agar tak kedinginan, Bettam mempersiapkan sarapan pagi. Kopi dan mi instan masih menjadi sarapan favorit kami setiap berkemah, tapi kali ini ditambah menu sosis serta scramble egg spesial oleh Bettam. Demi konten “breakfast with a view” tentu saja, hahahaha.

Perut kenyang, mata benar-benar terbuka, saatnya untuk beberes pulang. Satu lagi destinasi berkemah di Bali sudah terpenuhi. Waktunya kembali ke kota, dengan pikiran segar dan hati riang gembira.

Yuk piknik!

 

Peserta PERSAMI di Danau Tamblingan. (Tentu saja diabadikan melalui kameran si bujang kece, Calvin Damas Emil)

 

2 Comments

    1. natnat Post author Reply

      Wah, makasih banyak Praveen sudah mampir. Tinggal ngajuin cuti, terus cuss kesana bareng-bareng yookkk 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM