Camping Seru di Bukit Sari

Pagi itu suasana di ruang kamar saya sudah mulai riuh. Diantara celoteh saling mengingatkan agar barang-barang tak tertinggal, ditambah sebagian barang lain masih berserakan tak beraturan. Bettam juga sibuk mempersiapkan bekal di dapur, sementara saya masih berupaya menyusun baju-kamera-dan perbekalan agar muat dalam 1 ransel. Sembari menunggu Nina, Moory, Calvin, dan Aryo yang akan turut serta piknik kali ini.

Setelah sekian lama berencana camping lagi, akhirnya terwujudlah rencana yang hampir saja menguap menjadi wacana kosong belaka. Hanya beberapa hari sebelum libur panjang Lebaran kami sepakat berangkat berkemah. Lokasi kemah jatuh ke sebuah desa bernama Bukit Sari, sebuah lokasi yang kerap disebut di pelbagai artikel traveling namun tanpa petunjuk arah yang jelas. Ini adalah tempat camping terjauh kami selama tinggal di Bali dan awalnya belum terbayangkan bagaimana akses jalan kesana. Tapi kalau tidak dicoba, kita tidak akan pernah tahu kan?

Setelah semua barang selesai dikemas, sepeda motor matic keluaran 8 tahun lalu kami pacu perlahan ke arah utara, menuju Kintamani. Perjalanan santai kami tempuh selama 2,5 jam, setelah beberapa kali berhenti untuk makan siang dan mampir beli jajan. Menurut peta digital yang kami nyalakan sejak memasuki Ubud, begitu tiba di arah Penelokan, kami harus mengambil jalan turun menuju Danau Batur. Ikuti  jalan hingga pertigaan dekat dermaga Batur lalu belok kiri ke arah Toya Bungkah. Jalannya yang turun memang cenderung agak curam, dipadu dengan tikungan dus kelokan yang kadang tak terlihat ujungnya. Tiba di ujung, tepatnya di pelataran Pura Ulun Danu Batur, penunjuk arah di telepon pintar tuntas kehilangan sinyal. Alhasil, kami gunakan cara lama…bertanya pada penduduk sekitar hahahahaha.

Seorang bapak setengah baya memberitahu bahwa menuju lokasi kemah harus belok di sebuah jalan di dekat pintu masuk pelataran. Pesannya satu; “Jalannya agak menanjak, gus. Pelan-pelan saja nggih..” Semangat karena merasa tujuan sudah dekat, sepeda motor kami pacu agak kencang sampai…tadaaaaa……. tanjakkannya ekstrim sekali! Sepeda motor matic yang sudah agak berumur dipadu dengan berat badan kami yang ‘tidak terlalu ideal’ rupanya bukan tandingan untuk melewati tanjakan ini. Akhirnya kami yang membonceng memilih turun dan jalan kaki agar sepeda motor bisa naik tanjakan dengan lancar. Beruntung sebuah mobil pickup melintas menawarkan tumpangan. Mana mungkin kami tolak. ya kan?! *smirk*

“Mau kemping, dik? Ayo naik di bak. Jalannya masih lumayan bisa kurus nanti kalau jalan kaki”, seloroh si bapak empunya pickup.

Tanpa banyak tanya kami melompat ke atas bak, sementara para pengendara motor masih setengah memaksa sepeda motor kami melampaui tanjakan ini. Kami diantar sampai ke gerbang masuk Bukit Sari. Beberapa pemuda dan seorang bapak-bapak bersarung menghampiri dan bertanya dengan bahasa Bali, apakah kami mau berkemah di atas. Sedikit negosiasi dengan kemampuan berbahasa Bali seadanya, kami diwajibkan memberi sumbangan retribusi se-ikhlasnya. Syukurlaaahhh…lokasi seindah ini dikelola dengan baik tanpa sumbangan-suka-maksa. Oiya, di pos penjagaan tersebut juga bisa menitipkan kendaraan yang kita bawa dan menyewa ojek motor warga lokal jika merasa kurang mampu menempuh jalan naik turun yang cukup terjal. Kami sendiri memilih tetap membawa kendaraan kami masing-masing sampai ke Bukit Sari karena informasi dari penjaga pos medannya yang akan kami tempuh selanjutnya tidak terlalu menanjak seperti sebelumnya.

Dari pos penjaga, kami masih berkendara melewati beberapa bukit dengan jalan aspal yang cukup memadai. Sekitar 1 kilometer kemudian, kami memasuki jalan tanah yang sempit (hanya ada 1 jalur untuk motor saja). Dari sini, kendaraan dan keteguhan hati kami mau lanjut atau tidak mulai diuji. Ada beberapa tanjakan yang harus ditempuh, dengan kondisi jalan berupa tanah kering berdebu. Berkali-kali kami yang membonceng kembali turun dari motor agar bisa naik tanjakan dengan lancar. Akhirnya tak berselang lama, kami sampai di sebuah rumah warga dengan taman yang tertata rapi dan cantik.

“Selamat datang di Bukit Sari, bligus. Silahkan duduk dulu beristirahat dan menikmati pemandangan. Untuk tempat camping-nya berada di atas, nanti bapak akan antar kalian.”, ujar sang bapak penjaga Bukit Sari sambil senyum ramah menyambut kami.

 

Salah satu view Bukit Sari.

 

Mendung tipis-tipis.

 

Setelah meregangkan otot sejenak, bergegas kami melangkah ke lokasi camping di puncak bukit. Warung yang ada di sana menyediakan juga kayu bakar, mi instan, dan beberapa minuman ringan lainnya. Oya, disini setiap orang yang berkemah dikenakan retibusi Rp25.000/orang sebagai biaya sewa lahan. Sesampainya di spot camping, meski lelah dan berkeringat, semuanya terbayar tuntas. Di depan kami pemandangan Danau Batur, sementara di bagian belakang Laut Jawa membentang membatasi pesisir utara pulau Bali. Sementara dari ujung barat ke timur membentang gunung Batur, gunung Abang dan gunung Agung di kejauhan.

Karena Kintamani merupakan dataran tinggi, kami segera mendirikan tenda dan mengeluarkan semua perlengkapan yang diperlukan sebelum petang menjelang. Alasan lainnya sih kami juga harus selalu bergerak biar nggak kedinginan. Setelah tenda berdiri dan semua perlengkapan siap, kami bersantai sambil menyeduh kopi guna menghangatkan badan.

Sekitar pukul 16.00 Wita, selimut kabut perlahan merengkuh puncak Bukit Sari, Kintamani. Kayu bakar mulai kami susun teratur agar mudah disulut. Beruntunglah, sekitar pukul 18.00 Wita kabut agak menipis dan ulaalaaaaaa, matahari terbenam menampakkan kecantikannya.

 

Senja yang sedikit malu-malu.

 

Sebelum gelap malam datang (Photo by Calvin Damas Emil).

 

Pemandangan syahdu menjelang malam.

 

Malam tiba dengan syahdu, perlahan gelap memungkasi teater mentari senja yang beranjak pulang. Gemeritik suara dahan kayu bakar meronta dibakar api yang menyala.

Bekal makan malam mulai dihangatkan. Rupanya lelah perjalanan malah makin membuat makan malam kami makin lahap. Kami makan bersama, bersantai bersama, bercerita bersama dengan beratapkan langit penuh bintang. Untungnya lagi malam itu tidak turun hujan. Alhasil pemandangan malam di Kintamani, ditambah langit yang bertabur bintang, syahdu sekali.

 

Waktunya menghangatkan badan.

 

Langit cerah, saatnya berburu milkyway (Photo by Calvin Damas Emil).

 

Keesokan paginya, matahari terbit menyapa kami yang terlihat jelas berlatarkan pegunungan. Sejuk dan segarnya udara tak ada tandingannya. Meskipun masih menahan kantuk yang belum usai, kami terus bergerak kesana kemari menyibukkan diri agar tidak merasa kedinginan. Secangkir kopi dan mi instan adalah sarapan bintang lima pagi ini. Untunglah, mas suami yang pintar memasak sangat sigap menyiapkan sarapan ekstra micin di pagi yang dingin bagi kami.

Tak berselang lama, tenda sudah dibongkar, perlengkapan lain selesai dikemas. Saatnya untuk beranjak pulang, kembali menuju hiruk pikuk kota. Rasanya cukup berat memang meninggalkan semua keindahan yang berada di depan mata. Meskipun begitu, kami puas. Sangat-sangat puas. Piknik singkat yang benar-benar menakjubkan. Suatu hari lagi, tentu kami ingin bernostalgia kembali lagi ke Bukit Sari. Entah kapan. Tapi kami akan kembali suatu saat nanti.

Yuk piknik!

 

Spot camping paling kece! (Photo by Lambertus Moory).

 

Detik-detik terakhir menikmati pemandangan yang luar biasa.

 

 

Fun fact camping di Bukit Sari:

  • Tanjakan menuju bukit ini sangat tinggi dengan kemiringan hampir 90 derajat jadi kondisi kendaraan harus cukup prima.
  • Bisa membawa mobil kesini, namun nanti dititipkan di bawah atau di pos penjaga. Menuju lokasi camping bisa naik ojek warga atau trekking.
  • Dengan letak Kintamani yang berada disekitar 1.500 meter dari permukaan laut, suhu disini cukup dingin dikala malam hingga pagi hari sehingga persiapkan kebutuhan yang tepat saat ingin berkemah disini. Terkadang juga turun hujan sehingga jangan lupa membawa jas hujan.
  • Jika tidak membawa tenda sendiri, pengelola Bukit Sari juga menyewakan tenda. Selain itu mereka juga menjual kayu bakar, makanan dan minuman ringan.
  • Tersedia kamar mandi yang cukup bersih dan bisa digunakan.
  • Ada beberapa spot yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Tapi menurut saya spot dengan pemandangan paling bagus berada di paling atas bagian bukit.
  • Sinyal ponsel masih terjangkau disini. Tapi alangkah baiknya kita meninggalkan ponsel sejenak dan menikmati apa yang tersaji di depan mata.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM