Damainya Pagi di Bukit Batu Kursi

Hari masih gelap, matahari bahkan belum memperlihatkan batang hidungnya saat mobil pribadi yang kami kendarai memuat 7 orang berjalan perlahan menuju bagian barat Pulau Bali. Sembari kami menahan kantuk menikmati perjalanan, fajar pagi mulai naik perlahan.

Setelah lebih dari setahun, akhirnya saya kembali melakukan perjalanan menuju Singaraja dengan tujuan ke Bukit Batu Kursi yang terletak di daerah Gerokgak, Buleleng. Perjalanan kali ini agak berbeda dibandingkan dengan perjalanan kami sebelumnya ke Buleleng. Jika sebelumnya lebih sering ber-snorkeling menikmati keindahan bawah air di Pulau Menjangan, maka perjalanan kali ini saya tidak berbasah-basah ria, hanya ingin menyapa pagi di salah satu bukit yang semakin tersohor berkat pesonanya.

Rute yang ditempuh pun juga berbeda. Biasanya saya dan kawan-kawan lebih suka mengambil jalur Denpasar-Bedugul-Singaraja karena menurut kami lebih dekat dan waktu tempuh pun sedikit lebih singkat. Kali ini kami memilih melewati daerah Pupuan, Tabanan. Sebenarnya jarak yang harus ditempuh dari Kota Denpasar menuju Buleleng tidak terlalu berbeda jika mau lewat Bedugul atau Pupuan. Namun karena ingin menikmati suasana perjalanan yang sedikit berbeda, kami sepakat mengambil jalu Pupuan.

Memasuki wilayah Pupuan, mentari semakin meninggi. Sayup-sayup Tri Sandya terdengar di radio yang sinyalnya mulai timbul tenggelam. Rasa kantuk juga mulai berganti dengan rasa lapar. Sarapan! Kami butuh sarapan pagi! Mobil mulai memasuki dekat pusat keramaian Pupuan. Sedikit celingak-celinguk, beberapa warung yang menjajakan menu sarapan pagi nampak ramai dengan pembeli. Mobil berjalan pelan sebelum akhirnya menepi di salah satu sudut jalan dekat Pasar Desa Bantiran, Pupuan. Suasana di Pupuan sendiri sejuk dan damai. Bahkan selimut kabut masih terlihat jelas menemani kami menikmati sarapan pagi.

Setelah perut sudah cukup terisi, mata pun sudah cukup terbuka, kami kembali melanjutkan perjalanan. Sekira 3,5 jam perjalanan santai dari Denpasar, kami sampai di Bukit Kursi. Untung saja pagi kali ini cuaca cerah setelah berhari-hari hujan mengguyur Pulau Bali. Kesejukkan wilayah Bukit Kursi langsung terasa begitu kami turun dari kendaraan. Kami sampai disana berbarengan dengan beberapa warga yang tangkil dan melakukan persembahyangan di Pura Batu Kursi.

Kawasan Wisata Bukit Batu Kursi ini terletak di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Dengan ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, puncak bukit ini menawarkan pemandangan alam yang unik. Tidak ada retribusi khusus yang perlu dibayar, cukup berupa sumbangan sukarela yang dananya dipakai untuk pengembangan dan perawatan tempat ini. Setelah mobil terparkir rapi, barang bawaan disiapkan, kami langsung bergerak menyusuri tangga beton menuju puncak.

 

Tangga menuju puncak bukit.

 

Setapak demi setapak kami melangkahkan kaki sembari menghirup udara pagi yang benar-benar bersih di alam terbuka. Sesekali kami berhenti untuk berfoto (dan selfi tentu saja :D), sembari mengumpulkan semangat buat melibas anak tangga yang agak membuat dengkul nyaris menyerah. Tak berapa lama sampailah kami di puncak. Dan waoooowwww, pemandangan dari puncak bukit benar-benar luar biasa! Di depan mata terbentang luas perairan Buleleng Barat, serta barisan bukit yang ditutup rimbunnya pepohonan. Kami yang terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan, langsung melek ketika mendapatkan pemandangan menakjubkan begini.

Di puncak bukit dibuat sebuah ayunan serta sebuah pagar beton kecil yang bisa digunakan untuk selfie. Sayangnya, masih kami menemukan sampah sisa-sisa yang ditinggalkan begitu saja. Bukannya dibawa kembali turun ke bawah dan dibuang di tempat sampah, sisa-sisa bungkus makanan dan minuman hanya dikumpulkan dalam tas kantong plastik dan ditumpuk di salah satu sudut. Hmmpff…… 🙁

 

Pura Batu Kursi yang berada di puncak bukit.

 

Ayunan yang berada di puncak Bukit Batu Kursi.

 

Sejauh mata memandang di Bukit Batu Kursi (Photo by Lambertus Moory).

 

Di bagian lain dari puncak bukit, ada jalan bercabang menuju Pura Bukit Kursi. Di sisi ini nampak warga mengenakan pakaian adat Bali putih bersih terlihat berlalu lalang, ada yang naik menuju pura untuk bersembahyang, ada pula yang turun telah usai melakukan sembahyang. Suasana yang damai dan menenangkan. Bukit-bukit dengan hamparan rumput maupun rimbun pepohonan membentang sejauh mata memandang. Ditambah lagi suara desir angin yang beriringan dengan suara kicau burung liar. Sementara personil piknik lainnya mempersiapkan senjata utamanya membidik gambar, saya pilih duduk leha-leha menikmati suasana pagi di Bukit Kursi yang benar-benar memanjakan mata. Damai sekali rasanya!

 

Beberapa warga setempat yang selesai sembahyang.

 

Bukit ini juga disebut sebagai “Bukit Dua Musim. Jika berkunjung saat musim kemarau, maka hamparan rumput di puncak bukit akan terlihat kering kerontang dengan warna rumput yang mengering. Sedangkan jika berkunjung saat musim penghujan, bukit akan terlihat hijau seperti ini. Dinamakan Bukit Batu Kursi karena di puncak ini terdapat pura suci yang di dalamnya ada sebuah batu berbentuk kursi dengan diameter sekitar 20 meter. Saya sarankan untuk membawa perbekalan sendiri karena menuju puncak cukup menguras tenaga dan tidak ada pedagang makanan maupun minuman di atas. Tapi ingat ya, sampah-sampah dikumpulkan, dibawa kembali turun dan dibuang di tempat sampah yang tersedia.

Jika berkunjung ke wilayah Buleleng, Bukit Batu Kursi bisa menjadi salah satu destinasi yang kalian kunjungi untuk sekedar bersantai dari kesibukan sehari-hari. Menikmati segarnya udara alam terbuka, sembari duduk bercengkerama, maupun bercanda tawa bersama.

Yuk piknik!

 

 

 

In frame (left-right-left): @kurniategar @bettamjon @natdonat @thomasbig @lambertusmoory @ninaningnong @aryoangelo @calvinemil

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM