Dimulai dari Pinggan, Hingga ke Savana

Pagi-pagi buta, saya, Calvin, Mba Atre, Shu, dan Bobby dengan muka-muka mengumpulkan nyawa sudah berkumpul di lobby hotel di daerah Seminyak. Sekitar pukul 04.30 Wita, kami berlima sudah bersiap menuju Desa Pinggan, Kintamani. Menyambut pagi nan sejuk disana.

Karena saya dan Calvin yang sudah pernah ke Desa Pinggan sebelumnya, Calvin dapat bagian nyetir mobil dan saya menjadi asistennya supaya tidak ngantuk. Mobil pun melaju perlahan hingga kecepatan di atas rata-rata menembus gelapnya jalanan subuh. Jalan mulai menanjak, menandakan kami akan masuk ke dalam daerah dataran tinggi, hujan turun dengan derasnya. Semakin naik lagi, hujan berganti dengan kabut yang cukup tebal dan membuat pendeknya jarak pandang. Saya dan Calvin terus menahan kantuk sembari memperhatikan jalan di depan, sedangkan ketiga teman kami di belakang tertidur pulas.

Setelah menempuh sekitar 2,5 jam perjalanan, kami sampai di tujuan. Bukit Pinggan yang tersohor akan pemandangan matahari terbit di desa berselimut kabut tipis. Sayangnya mendung dan kabut tebal menyelimuti pemandangan Desa Pinggan pagi ini. Sesekali kabut tebal tertiup angin, dan desa di bawahnya terlihat begitu jelas. Menggigil menahan dingin dan menyantap makanan ringan, kami menikmati pagi di Desa Pinggan.

 

Desa Pinggan yang bekabut tebal.

 

Bersama Shu, Mba Atre, Bobby, dan Calvin menahan dinginnya Desa Pinggan.

 

Puas menikmati syahdunya Desa Pinggan dan berfoto ria, kami pun bersiap beranjak. Namun sebelum masuk ke dalam mobil, kami masih bingung akan melanjutkan perjalanan kemana. Hingga akhirnya Calvin menyetir mobil perlahan turun ke bawah sambil ditemani rintik-rintik hujan yang mulai turun.

“Kita cari warung kopi dulu saja sambil menghangatkan tubuh,” ujar saya sambil terus menggigil kedinginan.

Tanpa babibu lagi, Calvin menepi mencari parkir di samping sebuah warung kecil pinggir jalan. Kami langsung masuk dan memesan minuman hangat. Untungnya lagi, warung ini juga menjajakan mie instan. Tanpa pikir panjang, kami semua langsung memesan mie rebus panas. Sambil menghabiskan minuman dan makanan penghangat tubuh, kami masih membicarakan akan lanjut kemana setelah dari Kintamani. Pertanyaan yang setelah semua hidangan habis, belum ada jawaban pasti. Hahahaha.

Akhirnya diputuskan destinasi selanjutnya adalah padang savana di Tulamben. Yang notabene berjarak sekitar 2 jam perjalanan lagi dari Kintamani. Benar-benar luar biasa perjalanan kali ini, mulai dari bagian utara Pulau Bali hingga ke bagian ujung timur Pulau Bali. Untung saja semangkok mie rebus beserta kopi susu panas sudah membuat mata kami benar-benar terbuka.

Sebagai asisten sopir, saya pun segera membuka aplikasi peta online sebagai penunjuk jalan. Perjalanan dimulai dengan melalui hutan pinus yang menjulang tinggi, dengan obrolan ngalor-ngidul disertai gerimis. Tak berselang lama, tiba-tiba keheningan menyelimuti mobil. Otomatis saya langsung menoleh ke belakang, dan Calvin melihat melalui kaca spion tengah mobil. Ternyata Mba Atre, Shu, dan Bobby terlelap (lagi).

Selama perjalanan ini, kami lewat jalur yang diluar dugaan, namun benar-benar menakjubkan. Saya sendiri belum pernah melewati jalur ini. Dimulai dengan hutan pinus di kanan kiri jalan sambil sesekali gerimis menemani kami. Kemudian melewati sebuah tebing tinggi menjulang, dengan pepohonan rindang di sekelilingnya. Saking penasarannya, saya melihat peta online sudah sampai di daerah mana. Meskipun sinyal telepon pintar timbul tenggelam, namun masih menunjukkan arah dan tujuan. Ternyata kami melewati Desa Songan B, dan Desa Kubu. Saya dan Calvin yang masih terjaga pun kagum dengan pemandangan sepanjang perjalanan.

Sesampainya di Tulamben, kami berdua kebingungan karena peta online menunjukkan jalan yang tidak bisa dilewati oleh mobil. Shu yang sudah bangun dan sudah pernah ke padang savana sebelumnya ikut mencari arah jalan yang tepat. Masuk gang pertama, kami ragu karena tak terlihat ujungnya. Mundur dan putar balik, lalu mencoba gang sebelahnya. Mobil berjalan perlahan hingga ada satu pohon berdiri gagah diantara ilalang-ilalang. Ini dia spot instagramable yang dicari-cari.

 

Savana di Tulamben.

 

Perairan Bali Timur yang terlihat di Savana Tulamben.

 

Kebalikan dengan Kintamani yang dingin dan kabut tebal, Tulamben siang itu panas menyengat serta angin yang bertiup kencang. Spot ini hanya berupa sebuah bukit dengan hamparan ilalang menguning. Dari kejauhan terlihat laut timur Bali yang membentang luas, beratapkan langit biru menawan. Inilah kecantikan Bali yang sesungguhnya, alami, sederhana, dan apa adanya tanpa ditambah atau diubah lagi.

Kami berlima langsung menyebar, mencari tempat untuk menikmati keindahan savana ini. Saya sendiri hanya memandanganya takjub sebelum mengarahkan kamera untuk mengabadikan gambar.

 

Menikmati Savana Tulamben (difoto Calvin).

 

Kalau yang ini difotoin Shu.

 

Bersama Mba Atre yang kepengen banget ke Savana Tulamben ini.

 

Puas menikmati dan berfoto ria, kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke Seminyak yang masih panjang. Kali ini giliran Bobby yang menyetir, dan ditemani oleh Shu. Saya dan Calvin pindah duduk di belakang, ditemani dengan Mba Atre, yang tak berselang lama gantiaan kami berdua yang tertidur lelap menuju  pulang.

Ini merupakan pengalaman pertama saya piknik bersama Mba Atre, Shu, dan Bobby. Pengalaman pertama kalinya menyusuri jalan jauh dan tak terduga akan pemandangan yang mempesona di Bali hanya satu hari. Lelah? Tentu saja. Tapi seru dan kebahagiaan selama perjalanan tak ada yang menandinginya. Mendapat teman baru, pengalaman baru, berbagi kesialan dan kesenangan, bukankah itu inti dalam sebuah perjalanan?

 

Yuk piknik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM