Mencari Ketenangan di Battambang

“Sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara Internasional Phnom Penh, mohon isi formulir berikut ini untuk keperluan pemeriksaan imigrasi saat Anda tiba di terminal kedatangan.”, ujar sang pramugari sebelum pesawat mendarat.

Setelah hampir 2 jam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Phnom Penh, tibalah saya dan Steffi di ibukota Kamboja. Kali ini kami berdua melanjutkan menjelajah Kamboja selama 5 hari 4 malam dengan mendatangi 3 kota di Kamboja, yaitu Phnom Penh, Battambang, dan Siem Reap.

Setelah selesai urusan ke-imigrasi-an di Phnom Penh, kami pun melangkah keluar bandara untuk mencari tuk-tuk menuju penginapan kami. Baru juga keluar dari pintu kedatangan, para sopir tuk-tuk berseragam pun langsung menyerbu kami menawarakan jasanya dengan sedikit tidak sopan. Hampir sama dengan kondisi di Bali, kami langsung ditawari untuk naik tuk-tuk mereka dengan harga yang cukup tinggi plus sedikit paksaan. Karena kami tidak nyaman (terutama saya sangat tidak suka dengan paksaan), dengan serbuan mereka yang kurang sopan, kami pun hanya diam saja dan berniat mencari tuk-tuk di luar wilayah bandara. Untung saja selang beberapa menit ada tuk-tuk yang tidak berseragam menurunkan penumpang di kedatangan bandara, tanpa babibu, kami pun langsung menyambangi bapak tuk-tuk tersebut dan menawar dengan harga yang lebih rendah menuju penginapan kami.

Sebagai ibukota Kamboja, Phnom Penh juga mempunyai kondisi yang sama dengan Jakarta. Gedung-gedung perkantoran yang menjulang cukup tinggi, hiruk pikuk kendaraan bermotor yang berlalu lalang tak henti, serta debu-debu yang sedikit berterbangan menemani kami selama perjalanan menuju penginapan. Sekitar 30 menit – 45 menit kemudian, kami pun sampai di penginapan. Setelah urusan check in dan tetek bengek lainnya di penginapan, kami pun beristirahat dan bersiap mencari santapan makan malam.

Di kota terbesar di Kamboja ini, kami tidak berniat untuk menjelajah karena kami hanya transit saja sebelum esok paginya kami melanjutkan perjalanan menuju Battambang. Setelah kami puas berjalan kaki sekitar penginapan dan menyantap makan malam, kami pun beristirahat.

Esok hari, penjemput dari pihak bus yang sudah kami pesan sebelumnya ternyata datang terlambat, dan jadwal kami sampai ke Battambang pun terlambat beberapa jam. Mengecewakan? Sangat! Dengan sedikit muka jutek dan dilipat, kami pun menikmati perjalanan sekitar 5 jam hingga 6 jam menuju Battambang.

Memasuki Kota Battambang, suasana nyaman dan tenang langsung terasa. Berbeda dengan Phnom Penh, kota terbesar kedua di Kamboja ini cukup menawan dengan gedung-gedung peninggalan sejarah, taman kota yang dihiasi berbagai patung seni, serta bangunan kuil-kuil yang menarik hati. Sesampainya kami di pemberhentian bus, kami langsung dijemput bapak tuk-tuk yang sopan dan baik hati bernama Mr. Bunchan dari pihak hotel. Hanya beberapa menit kemudian kami pun sampai di hotel dan membereskan beberapa barang bawaan kami.

Setelah beberes dan berganti pakaian, kami pun langsung keluar hotel untuk melanjutkan perjalanan berkeliling Battambang. Pertama kali tempat yang kami datangi adalah Sala Khaet atau Kediaman Gubernur terakhir Thailand, Chhum Aphaiwong yang masih dirawat dengan sangat baik. Bangunan ini bergaya Eropa dengan halaman berupa taman cantik dan sedap dipandang. Meskipun gedung ini tidak dapat dimasuki, kami cukup puas menikmati suasana teduh taman yang berlatarkan dengan bangun tersebut.

 

 

Sang bapak pun melajukan tuk-tuknya lagi ke tujuan utama kami yaitu Bamboo Train. Namun sebelum sampai ke tujuan utama, kami melewati Neak Ta Dambang Kragnoung, landmark Kota Battambang yang berada di jalan utama Kota Battambang. Patung ini sangat mudah ditemukan karena letaknya berada di pusat kota. Konon ada pepatah yang mengatakan belum ke Battambang jika belum menginjakkan kaki di sini. Setelah sang bapak menghentikan tuk-tuk, kami pun mengambil beberapa foto sebentar karena ada beberapa orang yang sedang sembahyang dan memberikan persembahan di Kawasan patung tersebut.

 

 

 

Tak sampai 30 menit berikutnya, sang bapak meminta kami membayar biaya bamboo train dan bersiap untuk menikmati pengalaman berikutnya. Wisata kereta bambu ini merupakan salah satu kegiatan yang ditawarkan kepada wisatawan di Battambang. Warga lokal memodifikasi kereta bambu ini dengan menggunakan sumber tenaga aki, kemudian mereka memanfaatkan sepenggal rel yang sudah tak terpakai untuk menjelajah desa.

Sudah bayar dan duduk manis di atas kereta, pengemudi pun menyalakan mesin dan kereta pun langsung meluncur cepat. Kurang lebih selama 7 kilometer jarak yang kami tempuh menggunakan kereta bambu ini. Selama perjalanan kami pun diam terlena dengan pemandangan yang tersaji di kanan kiri kami. Hamparan tanah luas dengan rimbun pepohonan, ditambah angin sepo-sepoi yang menerpa wajah kami, siapa yang ngga takjub? Kami pun hanya ber waw-wow ria sambal sesekali mengarahkan kamera dan smartphone kami untuk mengambil beberapa gambar.

Di ujung perjalanan, kami berhenti di salah satu desa bernama O Srav Lav dan diberikan waktu sekitar 15 menit untuk berkeliling dan membeli buah tangan khas Kamboja. Setelah puas, kami pun kembali ke tempat asal mula kereta bamboo berangkat.

 

Persiapan sebelum kereta bambu meluncur.

 

Saya dan Steffi yang terlalu bersemangat naik kereta bambu. Hahaha.

 

O Srav Lav yang menjual banyak cinderamata khas Kamboja.

 

Sore itu masih ada cukup waktu untuk berkeliling Battambang. Mr. Bunchan pun menawarkan kami untuk menuju Killing Caves Phnom Sampeau. Kami berdua menyewa ojek untuk sampai ke atas gua. Puas berkeliling gua dan kuil di atas, kami kembali turun.

“Tunggu sebentar disini sampai senja datang. Kalian akan menikmati pemandangan matahari terbenam dengan siluet kelelawar yang keluar dari gua untuk mencari makan. Ini ada makanan ringan buat kalian sembari menunggu matahari terbenam.” Ujar Mr. Bunchan ringan.

Kita berdua pun cuman bias tersenyum speechless, dan berkata dalam hati mimpi apa kita semalam bias dapat pengendara tuk-tuk yang luar biasa baik dan murah hati ini. Sekitar 15 menit kemudian, suara berisik pun terdengar dari dalam gua dan ribuan kelelawar pun berterbangan keluar, bersiap mencari santapan makan malam. Jangan ditanya bagaimana pemandangannya, luar biasa!

 

Killing Caves Phnom Sampeau yang cukup ramai pengunjung menjelang senja.

 

Para kelelawar yang keluar kandang untuk mencari makan.

 

Thank you Battambang, you’re stole my heart!

Yuk piknik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM