Menghabiskan Waktu di Kota Medan Bisa Piknik Kemana Saja?

Usai pesta pernikahan menakjubkan ala Batak dan melihat kemegahan Danau Toba, kami harus melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Medan. Sayang memang, namun kami tak punya waktu yang lama untuk menjelajah Sumatra Utara. Ditambah lagi Bettam dan Mba Nian yang pekerja kantoran tak punya cuti banyak.

Pagi hari kami sudah berada di pool Paradep, menunggu kendaraan yang akan membawa kami balik ke Medan. Hari ini kami punya waktu hingga malam hari, sebelum terbang meninggalkan Sumatra Utara.

Saya ingat perjalanan pagi itu tak banyak yang kami lakukan. Kecuali tidur. Iya, kami menyadari dengan usia yang tak lagi belia, tak ada tenaga sisa-sisa yang bisa berlarian kesana kemari. Sehari penuh mengikuti acara pernikahan ditambah dua hari perjalanan, lelahnya bukan main. Membuat kami nggak ngoyo buang-buang tenaga lagi.

Menjelang tengah hari, kami sudah sampai di Kota Medan. Sama dengan kota-kota besar lainnya, Medan pun ramai, panas, dan macet di beberapa titik jalan raya. Turun di pool Paradep, kami langsung memesan taksi online. Lapar, kami butuh makan. Bettam yang penggila babi pun langsung mengarahkan pesanan taksi online ke warung BPK (lagi! Hahahahaha).

 

I. Graha Santa Maria Annai Velangkanni

Sudah kenyang, tenaga terisi penuh, lanjut jalan lagi kita. Destinasi pertama yang kita kunjungi adalah Graha Santa Maria Annai Velangkanni. Sebuah Gereja Katolik dengan arsitektur khas Indo-Mughal serta menyerupai sebuah kuil Hindu. Memasuki gerbang utamanya, saya sudah terkagum-kagum dengan keindahan bangunannya. Gereja ini terdiri dari kombinasi warna coklat, abu-abu, dan merah, pagoda di bagian atasnya, serta dua tangga berkelok-kelok di bagian depan. Cantik sekali!

 

 

 

Dibangun pada tahun 2005, gereja ini didesain oleh Pastor James Bharataputra S.J. Dia mempunyai visi untuk membuat Graha Maria menjadi sebuah tempat dimana semua orang dari berbagai ras, agama, kaya, maupun miskin dapat menyebutnya rumah untuk mencari kedamaian, penyembuhan, pelipur lara, dan juga mendekatkan diri dengan Tuhan. Oleh karena itu, bangunan ini tidak ada ciri khas Katolik khusus yang terlihat. Semua orang diperbolehkan datang dan masuk ke dalam gereja ini, siapapun itu.

Sambil memandang takjub, saya berkeliling pelan melihat gereja ini. Tak hanya bangunan utama saja yang menarik perhatian saya. Disini juga terdapat patung-patung orang dari berbagai ras dan budaya Indonesia di salah satu dinding gereja yang melambangkan kesatuan diantara umat Tuhan. Patung-patung ini juga sebagai simbol bahwa setiap orang selalu disambut disini, terlepas dari latar belakang iman maupun budaya mereka. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah gereja ini menyematkan salam maria dalam berbagai bahasa di bangunannya.

 

 

 

II. Istana Maimun

Dari Graha Santa Maria Annai Velangkanni, kami melanjutkan persinggahan berikutnya yaitu Istana Maimun. Banyak yang bilang belum sah rasanya ke Medan kalau belum mampir ke tempat ini. Bangunan ini memang menjadi salah satu ikon Kota Medan dan juga saksi bisu jayanya Kesultanan Deli pada zaman dahulu.

Istana ini dibangun pada tahun 1887 silam oleh Sultan Deli yang memindahkan ibu kota dari Kota Labuhan ke Medan. Dengan luas tanah 4,5 hektar dan bangunan seluas 2.700 meter persegi, istana ini dibangun dengan paduan beragam gaya arsitektur seperti Timur Tengah, Arab Saudi, dan Eropa.

 

 

Sayangnya saat kami berkunjung kesini, sedang ada pembongkaran beberapa tenda di halaman istana usai acara. Sehingga halaman istana terlihat sedikit berantakan dan kotor. Kami pun tak lama berada disini, karena sudah semakin sore dan kami harus segera menuju ke bandara.

Saatnya pulang, saatnya kembali ke kesibukan sehari-hari. Terima kasih Sumatra Utara atas kehangatan, keramahan, dan keindahan dalam perjalanan kami.

Yuk piknik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *