Menyusuri Kawasan Denpasar Heritage

Sore itu, suasana jalan Gajah Mada Denpasar lengang. Setelah mengajak dan mengenalkan Diki dengan Kopi Bhineka Djaja, kami blusukan di kawasan Denpasar Heritage.

Kota Tua Denpasar ini terletak di Jalan Gajah Mada. Dengan panjang jalan sekitar 1,5 kilometer, kawasan ini menyimpan berbagai bangunan tua yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Selain itu, daerah ini juga dikenal sebagai pusat bisnis sejak dulu. Ditambah lagi terdapat pasar terbesar di Denpasar yang bernama Pasar Badung, sehingga menjadi tempat berkumpulnya para pedagang. Mereka yang mendirikan bangunan di wilayah ini bukan hanya masyarakat lokal Bali saja. Seiring dengan perkembangannya, Denpasar Heritage menjadi tempat tinggal orang-orang dari berbagai etnis.

Sebelum mulai perjalanan, kami mampir menikmati secangkir kopi di kedai favorit saya, Bhineka Djaja. Kebetulan kedai ini terletak di Denpasar Heritage juga.

Puas ngopi, kami mulai menyusuri jalan Gajah Mada. Di sepanjang kiri dan kanan, kami ditemani bangunan tinggi dengan nuansa Tionghoa dan Arab yang kental. Beberapa pilar bangunan terlihat kusam, menandakan bangunan yang telah dimakan zaman. Di ujung jalan ini, terdapat titik nol kilometer Denpasar dan Patung Catur Muka yang menjadi landmark Kota Denpasar.

 

Patung Caturmuka Denpasar

Patung Catur Muka Denpasar.

 

Patung yang mempunyai empat wajah, dan masing-masing menghadap keempat arah mata angin ini bukan hanya sekadar hiasan belaka. Patung ini menggambarkan sosok Dewa Brahma dengan empat sifat berbeda. Wajah yang menghadap ke timur disebut Sanghyang Iswara yang mewakili sifat bijaksana. Wajah yang menghadap ke barat disebut Sanghyang Mahadewa yang mewakili sifat kasih sayang. Kemudian wajah yang menghadap ke utara disebut Sanghyang Wisnu atau sifat kuat dan mensucikan jiwa. Yang terakhir wajah menghadap ke selatan disebut dengan Sanghyang Brahma, mewakili sifat menjaga ketentraman.

Kami melanjutkan perjalanan dengan berbelok ke Jalan Veteran. Disini kami melihat bangunan gedung tua dengan desain arsitektur kolonial, yaitu Inna Bali Heritage. Hotel ini berdiri pada Agustus 1927 dan menjadi saksi sejarah Bali prakemerdekaan. Bangunan bergaya vintage ini juga pernah menjadi tempat persinggahan tokoh dunia sejak dulu.

Perjalanan kami lanjutkan dengan masuk gang-gang di seputar Denpasar Heritage. Rumah-rumah penduduk berjajar rapi, seperti pemukiman kota pada umumnya. Arsitekturnya pun sudah beragam, ada yang berupa rumah biasa, dan juga rumah adat Bali. Hanya ada satu dua rumah tua yang masih berdiri kokoh dimakan zaman.

 

Rumah sederhana dengan jendela vintage.

 

Kawasan pemukiman yang terlihat dari lantai 4 Pasar Badung.

 

Bangunan rumah tua lainnya yang bisa ditemukan di kawasan Denpasar Heritage.

 

Setelah berjalan memutar, kami kembali ke Jalan Gajah Mada. Hingga akhirnya berujung pada Tukad Badung yang memisahkan Pasar Badung dan Pasar Kumbasari. Sungai sepanjang 22 kilometer ini sudah ditata dan dipercantik dengan taman di tepiannya. Ada teras berundak dengan pepohonan rindang yang bisa digunakan untuk duduk santai menghabiskan waktu. Selain itu, sungai ini juga dihias dengan air mancur serta lampu warna-warni saat malam hari. Tukad Badung sering juga disebut dengan Tukad Korea karena seperti Sungai Cheonggyecheon di Seoul yang ditata sedemikian rupa secara estetis dan ekologis.

 

 

 

Kami naik ke lantai teratas Pasar Badung yang sudah direnovasi. Dari sini, kami melihat hiruk pikuk kawasan Denpasar Heritage. Pertokoan yang sudah dimakan umur panjang lebih jelas terlihat coraknya. Meskipun terlihat tua, bangunan-bangunan ini terlihat cantik dengan dekorasi tanaman yang menghiasinya. Beberapa juga mempunyai rooftop kosong di atasnya. Kami pun bergumam, enak ya kalau bisa duduk di atas sana sambil menikmati secangkir kopi.

 

Pemandangan dari sisi lain lantai 4 Pasar Badung.

 

Salah satu mural yang menghiasi Pasar Badung.

 

Perjalanan sore yang sungguh menyenangkan. Berjalan kaki santai, sambil menikmati hiruk pikuk Kota Denpasar. Melihat lebih dalam bangunan dan suasana kota tua yang tak pernah pudar oleh waktu.

Yuk piknik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *