Speechless Moment di Raja Ampat II

Betapa beruntungnya saya punya kesempatan ikut dalam Open Trip Raja Ampat bersama Anak Papua Tour mulai dari selatan, tengah, dan utara sekaligus. Semoga suatu hari kalian punya kesempatan yang sama ya… Setelah seharian menjelajah Misool, hari kedua dan ketiga kami habiskan di bagian tengah dan utara Raja Ampat, yakni Piaynemo serta Wayag yang menjadi ikon Raja Ampat. Sayangnya hari kedua kami ditemani langit mendung dan hujan disepanjang perjalanan sejak pagi hari. Meskipun begitu, kami tetap semangat jalan-jalan dong, jangan takut sama hujan air.

Setelah persiapan cukup lengkap dan tenaga terisi penuh, Bang Ais, nakhoda kapal cepat langsung mengemudikan kapal menuju Piaynemo. Tak berapa lama kami merapat di dermaga menuju puncak Piaynemo. Turun dari kapal cepat, gerimis serta merta menyambut kedatangan kami. Beres dengan urusan tiket masuk dan ijin, kami bergegas menapaki satu demi satu anak tangga kayu menuju puncak.

Piaynemo berada di Distrik Waigeo Barat dan kerap disebut dengan Pulau Wayag mini karena gugusan karst yang terhampar berukuran lebih kecil dibandingkan dengan Wayag. Meskipun lebih kecil, pesonanya tak kalah cantik dibandingkan dengan gugusan karst di tempat lainnya di Raja Ampat. Untuk menuju puncak Piaynemo, kami harus mendaki ratusan tangga yang terlihat masih baru dibangun dan kondisinya pun masih apik. Berbeda dengan Puncak Harfat sebelumnya yang di kanan-kiri kami terlihat pemandangan laut yang begitu megah, disini kami dikelilingi pepohonan rimbun yang menyejukkan. Sekitar 20 menit, kami tiba di puncak dan menikmati lanskap Piaynemo yang megah!

 

Tangga kayu menuju Puncak Piaynemo

Tangga menuju Puncak Piaynemo

 

Berfoto dengan latar perairan Piaynemo

 

Awak kapal sedang bersantai di dermaga Puncak Piaynemo

Dermaga menuju Puncak Piaynemo, tempat para awak kapal bersantai

 

Puas mengabadikan puncak Piaynemo lewat rekam kamera dan ponsel, kami beranjak menuju dermaga. Sebelum bertolak dari Piaynemo, sajian kelapa muda segar yang dijajakan penduduk setempat di dermaga sukses menuntaskan dahaga.

Perjalanan berlanjut ke spot berikutnya menuju Kampung Wisata Arborek. Beruntung cuaca kembali cerah. Matahari kembali bersinar, langit biru membingkai dan burungpun bernyanyi riang. Jarak dari Piaynemo menuju Kampung Wisaata Arborek tidak terlalu jauh. Sekitar 1 jam mengarungi lautan luas, Bang Ais menurunkan kecepatan dan bersiap sandar di dermaga kampung. Belum benar-benar merapat, mata saya terbujuk rayu perairan yang super jernih di seputar dermaga.

“Mau snorkeling ngga Nat? Di bawah dermaga jernih sekali airnya dan banyak ikan-ikan kecil yang bakalan kamu suka. Tapi hati-hati ya, arusnya lagi kenceng ini. Kalau kamu ngga pengen snorkeling, jalan-jalan ke kampung aja. Kampung wisatanya bersih dan nyaman,” tutur Moory sambil membantu awak kapal untuk sandar.

Setelah kapal sukses sandar, tanpa ba bi bu lagi saya langsung ambil google dan snorkel, melepas pakaian dan……Byuurrrrrrr.!! Airnya benar-benar jernih dan ikan-ikan mungil berwarna-warni lalu lalang di depan saya. Sensasinya luar biasa!

Tanpa terasa hampir 1 jam berlalu saya snorkeling kesana kemari kegirangan. Sayangnya usai snorkeling, saya tak sempat menjelajah Kampung Wisata Arborek karena hari sudah semakin sore dan kami harus bergegas kembali ke penginapan. Semoga kunjungan berikutnya (jika diijinkan Yang Maha Kuasa), saya dapat menjelajah kampung wisata tersebut.

Usai menjelajah bagian tengah Raja Ampat, keesokan harinya kami menuju wilayah utara, tepatnya menuju Wayag. Sebagai ikon Raja Ampat, konon katanya jika ke Raja Ampat harus berkunjung kesini. Pulau Wayag terletak di Desa Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Wilayah ini mempunyai warna air laut yang cukup unik, biru muda yang bergradasi menjadi turquoise. Serupa dengan pulau-pulau lainnya di Raja Ampat, Wayag juga mempunyai pulau-pulau kecil berupa bukit kapur (karst) dan membentuk gugusan dengan rimbun pepohonan di atasnya. Bedanya karst di Wayag kebanyakan lebih rendah dibandingkan dengan karst-karst di Pulau Misool yang cenderung tinggi menjulang. Sehingga panasnya matahari di Wayag lebih terasa dibandingkan di Misool. Ditambah lagi, Wayag berada di lintasan garis imajiner Khatulistiwa, yang menyebabkan udara disini benar-benar panas menyengat.

Setelah (merasa cukup) mengoleskan tabir surya, menutup wajah dengan topi, saya yang duduk di atas kapal cepat bersama Moory serta para awak kapal bersiap menempuh perjalanan menuju Puncak Wayag 2 yang menjadi spot kami. Cuaca yang sedang cerah-cerahnya (dan burung-burung juga masih bernyanyi riang) membuat gugusan karst hijau yang berdiri gagah terlihat menakjubkan berlatar langit biru. yang tak berbatas. Meskipun duduk di atas kapal, ini (sungguh) sangat panas namun saya benar-benar terpana dengan pemandangan selama perjalanan. Benar-benar menakjubkan!

 

Perairan menuju Wayag

Pemandangan selama perjalanan menuju Wayag

 

Anak bermain di dermaga desa Serpele

Salam hangat dari anak-anak Serpele

 

Sebelum tiba di spot yang kami tuju, kapal cepat kami sandar sejenak dan melapor ke Kampung Serpele untuk membayar retribusi. Usai dari Kampung Serpele, kami memasuki Pos Wayag untuk melapor kembali, termasuk menunjukkan serta memeriksa PIN Raja Ampat kepada petugas pos sebelum naik ke puncak. Tak lama setelah kami lapor, gugusan karst-karst yang letaknya cukup berdekatan sudah terlihat dan Bang Ais melambatkan laju kapalnya, bersiap untuk sandar di salah satu karst tersebut.

“Siap-siap ya teman-teman, saya sudah sediakan sarung tangan bagi kalian dan tak perlu membawa barang banyak. Kalau mau foto-foto di atas bisa bawa kamera saja atau handphone saja. Minuman juga sudah kami siapkan,” ujar Moory.

Saya pun melongo heran, dimana pantainya? Dimana jalan menuju Puncak Wayag 2 itu? Kenapa kapal cuman sandar di pinggir karst persis?

Ternyata oh ternyata kami harus melangkah langsung dari kapal ke dinding karst yang cukup tajam dan terjal. Moory bersama awak kapal lainnya langsung melangkah menuju dinding karst terlebih dahulu untuk membantu kami.

 

Mendaki bukit karang di Puncak Wayag

Tempat sandar kapal sekaligus pijakan pertama menuju Puncak Wayag

 

Menuju Puncak Wayag 2, dibutuhkan waktu sekitar 15 menit hingga 30 menit tergantung kemampuan masing-masing orang. Saya memilih menjadi orang terakhir yang naik bersama beberapa awak kapal yang membawakan minuman. Mendaki karst menuju puncak menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Benar-benar pengalaman yang pertama kalinya, dan dinding karst cukup tajam dengan kemiringan sekitar 75 derajat, saya harus pintar-pintar memilih pijakan. Awak kapal yang menemani saya menjadi peserta terakhir dengan sabar menunjukkan mana yang harus menjadi pegangan, dan mana yang menjadi jalur termudah untuk didaki. Panasnya matahari pun tak terasa begitu menyengat karena banyak pepohonan yang tumbuh di karst tersebut.

Sesampainya di puncak, meskipun terengah-engah lelah mendaki, mata saya terbelalak takjub akan pemandangan yang terpampang di depan mata saya. Saya tak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan keindahannya.

 

Bentang perairan Wayag melatari perjalanan menuju puncak bukit

Pemandangan selama perjalanan menuju Puncak Wayag

 

Pemandangan dari Puncak Wayag

Puncak Wayag yang mempesona (@wisatarajaampat)

 

Usai semua berfoto ria, akhirnya kami turun perlahan kembali ke kapal. Rasanya masih ingin duduk santai di atas sambil menikmati pemandangan yang benar-benar wow. Tapi mau tak mau karena diburu waktu dan harus bergantian dengan pengunjung lainnya, kami pun turun. Setelah semuanya berkumpul di bawah, mesin kapal kembali menderu mengajak kami kembali menuju Pos Wayag untuk lapor lagi sekaligus makan siang.

Uniknya lagi, disini kami makan siang ditemani dengan hiu-hiu yang berlalu-lalang (riang gembira) di dermaga. Setelah santap siang, kami menuju pantai untuk berenang bersama hiu-hiu tersebut. Hiu ini berjenis Black Tip Shark dan masih berukuran kecil atau baby shark (doo doo doo doo doo doo baby shark….sing it!!). Hiu-hiu ini dirawat oleh warga setempat sehingga cenderung jinak dan kami bisa berenang sesuka hati bersama mereka. Namun kami tetap berhati-hati jangan sampai ada bau darah atau sedikit darah yang ke luar dari tubuh. Bisa-bisa jadi cemilan si hiu!

 

Berenang bersama hiu di perairan Wayag

Kalian berani ngga renang sama hiu? (@wisatarajaampat)

 

Sudah puas main dan kenyang, kami bersiap kembali menuju penginapan untuk beristirahat. Tak terasa 3 hari penuh perjalanan menjelajah Raja Ampat ini harus berakhir. Memang belum banyak yang saya singgahi disini, dan waktu pun berlalu begitu cepat. Namun saya benar-benar jatuh cinta kepada Raja Ampat dan suatu saat saya ingin kembali menjelajah lebih banyak lagi, dan mengenal lebih banyak lagi keluarga disini.

 

Kapal kayu milik penduduk setempat

 

Lambertus Moory, pemilik Anak Papua Tour

Bersama Moory, dalang dibalik Anak Papua Tour atau @wisatarajaampat

 

 

Buat kalian yang ingin join trip bersama Anak Papua Tour, kalian bisa langsung menghubunginya melalui:

Telepon/Whatsapp: 6285296043961

Email: info@anakpapua.net

Website: www.anakpapua.net

 

 

Yuk piknik!

2 Comments

  1. theresiaeka Reply

    Foto sama ceritanya bener2 bikin ngiler… kapaann aku bisa kesanaaa… Semoga yang indah2 begini kalo udah terkenal gak rusak karena wisatawan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM