Nyore di Ubud: Menanti Kokokan Pulang

Beberapa minggu belakangan ini, minat untuk piknik atau sekadar jalan-jalan ringan menghabiskan waktu luang seakan sedang menguap entah kemana. Bahkan keinginan hanya untuk menerbitkan rencana short-hangout pun seperti ‘kehilangan kompas’ (halah!). Hingga suatu hari yang tanpa diduga, di Sabtu siang nan terik di kota Denpasar, seorang kawan dari Jakarta mengirim pesan singkat.

“Nat lagi sibuk ngga? Besok jalan-jalan muter Ubud yuk mumpung aku sedang di Bali ini.”

Tanpa pikir panjang saya pun langsung meng-iya-kan ajakan tersebut. “Yuk! Mau jalan kemana aja di Ubud?”

Irsa, demikian nama kawan saya ini. Seorang pemain piano dan keyboard handal yang sudah melanglang buana mengiringi banyak musisi nasional. Kawan saya ini mengatakan ingin mengunjungi beberapa tempat di Ubud. Salah satunya Desa Petulu Ubud, Gianyar. Selama hampir 5 tahun saya tinggal di Bali, saya pribadi hanya pernah mendengar nama desa tersebut beberapa kali saja dan belum pernah kesana. Padahal dari Denpasar ke Ubud cuma berjarak 1 jam perjalanan, dan saya sering pergi ke Ubud. Tapi ke Desa Petulu….?? Never been there… 🙁

Lokasi Desa Petulu sebenarnya tidak terlampau jauh dari pusat kota Ubud, sekitar 5 kilometer ke utara, dan bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor maupun bersepeda. Kalau kamu lebih suka berjalan kaki, boleeeh…. Asal jangan lupa siapkan air minum dan selembar handuk kecil demi kebaikan bersama. Jalanan menuju desa ini cukup sepi, tidak banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Suasana desa yang masih asri, hijau dan segar sudah barang tentu menciptakan ambience yang membuat perasaan santai.

Daya tarik utama dari Desa Petulu ini adalah sebagai tempat tinggal burung bangau (atau disebut dengan burung Kokokan dalam bahasa Bali). Setiap pagi, burung ini terbang untuk mencari makan, dan pada sore harinya mereka akan pulang kembali ke sarang mereka yang letaknya di atas beberapa pohon yang hanya ada di Desa Petulu. Sore hari juga menjadi waktu favorit wisatawan untuk berkunjung ke desa ini karena mereka sekaligus bisa melihat ribuan burung yang kembalil ke sarang mereka.

Sekitar pukul 17.00 WITA, saya dan Irsa sudah sampai di lokasi dan segera menuju loket untuk membeli tiket masuk menikmati pulangnya burung Kokokan. Setiap orang dikenakan biaya Rp 20.000 untuk melihat burung ini. Menurut penjelasan warga desa, biaya tiket ini dipergunakan untuk merawat pohon-pohon yang menjadi sarang serta menjaga ekosistem burung Kokokan itu sendiri. Bagi warga Desa Petulu, burung ini dianggap suci dan setiap dua tahun sekali mereka menggelar upacara bagi burung ini.

Setelah mendapatkan tiket, kami diarahkan oleh penjaga tiket untuk berjalan sekitar 300 meter dari loket menuju bale banjar. Sesampainya di bale banjar, tiket kami diperiksa dan kami dipersilahkan untuk naik ke lantai 2 yang digunakan sebagai tempat untuk melihat burung. Di bale banjar disediakan makan dan minuman ringan bagi pengunjung yang ingin membeli sembari menunggu burung tersebut berdatangan. Selain itu, disana kami juga dijelaskan oleh seorang guide dari desa tersebut mengenai Desa Petulu dan Burung Kokokan itu sendiri.

 

Pohon di sekitar Bale Banjar tempat sarang Burung Kokokan.

 

Sekitar pukul 17.30 WITA, beberapa burung pun sudah mulai terlihat terbang pulang ke salah satu pohon diseberang bale banjar. Semakin sore, semakin banyak burung yang terlihat. Kemudian pukul 18.00 WITA, kami diarahkan menuju salah satu rumah warga karena di rumah warga ini, kami bisa melihat ribuan burung yang akan terbang kembali ke pohonnya. Dan ternyata benar, sekitar pukul 18.10 WITA ribuan Burung Kokokan terbang diatas kami dan kembali ke sarangnya. Jika kamu beruntung, kamu juga bisa menikmati pemandangan langit senja dengan ribuan burung terbang di dalamnya. Sayangnya kemarin saat saya disana langit cukup mendung sehingga tidak bisa menikmati senja disana.

Yuk piknik!

 

Menjelang malam Burung Kokokan terbang menghiasi langit senja.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *