Bingin & Senja Dipelukan Bukit Karang

Sudah lama banget rasanya tidak jalan-jalan ke pantai baru berdua dengan Bettam. Harap maklum, kami berdua memang selalu terlihat (sok) sibuk dan jarang bisa cocok jadwalnya satu dengan yang lain. Terkadang juga saat sama-sama senggang di akhir pekan atau hari libur, kami memilih untuk menghabiskan waktu bermalas-malasan di rumah saja. Tumben sekali akhir pekan kali ini kami ingin sekali jalan-jalan berduaan di akhir pekan.

Setelah memilah berbagai pilihan tempat-tempat piknik di Bali, akhirnya Pantai Bingin jadi tujuan kami piknik kali ini. Sebenarnya pantai ini sudah cukup dikenal, terutama dikalangan para peselancar pengendara ombak, baik dari dalam maupun luar negeri. Padahal letak pantai ini bersebelahan dengan pantai-pantai lainnya di Bali Selatan yang pernah kami datangi sebelumnya. Hanya saja memang kami selalu melewatkannya.

Usai jam makan siang, kami bersiap beranjak menuju Pantai Bingin. Sekalipun cuaca Pulau Bali sedang panas-panasnya di kala siang, tak menyurutkan niat kami untuk berpiknik ria. Sesampainya kami di daerah Pecatu, agak kebingungan kami membaca peta online di telepon genggam. Sinyal yang timbul tenggelam ditambah minimnya petunjuk fisik papan penunjuk arah. Sempat kami nyasar hingga bertemu jalan buntu. Kami putuskan berbalik arah dan melihat ada beberapa turis mancanegara yang sedang berjalan kaki memasuki jalan gang kecil. Berbekal ikut-ikut, kami pilih untuk ikuti saja jalan yang dipilih turis-turis itu. Toh kalaupun salah, nggak akan ada yang rugi. Hehehe…. Dan ternyata benar, gang kecil tersebut berujung pada tempat parkir kendaraan yang ingin menuju Pantai Bingin.

 

Jalan kecil dari tempat parkir kendaraan menuju pantai.

 

Setelah parkir dan mengunci sepeda motor, kami mulai berjalan memasuki jalan setapak yang sempit diantara rumah warga dan penginapan. Semakin ke dalam, semakin tidak tahu ada ujungnya atau tidak. Kami pun mulai ragu, beneran ini atau bukan jalannya? Maju terus pantang mundur, atau balik kanan? Mulai bimbang dan bingung. Ditambah lagi saat kami memasuki pemukiman warga, tidak ada orang yang berbarengan dengan kami. Akhirnya dengan tekad “ya sudah dicoba aja” kami tetap berjalan semakin masuk perlahan. Akhirnya pemandangan laut terbentang luas di depan mata kita. Tapi tunggu dulu, jalan untuk turun ke bibir pantai lewat mana?

 

Pemandangan Pantai Bingin sebelum menyentuh bibir pantai.

 

Ada beberapa jalan setapak di depan kami, namun hampir semuanya berujung pada sebuah penginapan. Dengan sisa ke-ngawur-an “ya sudah dicoba saja” yang masih tersisa, kami pilih salah satu jalan setapak. Dan ternyata memang semua jalan setapak tersebut berujung ke bibir pantai. Kami harus melewati beberapa penginapan sebelum menyentuh pantai. Benar-benar tersembunyi!

 

 

Jalan yang sama kecilnya menuju bibir pantai.

 

Dengan letaknya dibalik tebing, Pantai Bingin menawarkan suasana dan pemandangan yang tak kalah indah dengan pantai-pantai lainnya di wilayah Uluwatu. Hamparan pasir putih dengan air laut berwana biru kehijauan terbentang di depan mata. Ditambah lagi garis pantainya yang panjang sehingga bisa memilih tempat dimana saja untuk bersantai di tepi pantai. Tapi jika tidak ingin duduk-duduk di pasir pantai bisa memilih salah satu kafe atau tempat makan yang ada disana seperti kami. Tak banyak yang berkunjung ke pantai ini, hanya beberapa wisatawan mancanegara yang terlihat bermain surfing. Salah satu keunggulan pantai ini memang ombaknya yang bisa mencapai 5 meter saat air laut sedang pasang, sehingga lebih banyak turis mancanegara yang datang kemari.

Puas duduk-duduk ngadem sambil minum dingin penghilang dahaga, kami mulai menyusuri garis pantai perlahan. Untung saja air laut sedang tidak pasang dan akhirnya kami menemukan salah satu sisi pantai ini yang sepi pengunjung, entah kenapa. Padahal sisi ini pemandangannya luar biasa! Sejauh mata memandang, tebing kapur menjulang tinggi ditingkahi gemericik air laut yang perlahan menyentuh bibir pantai. Tanpa babibu lagi saya bilang pada Bettam, “Fotoin aku disini!”.

 

Sisi pantai yang lebih sepi dengan lanskap menakjubkan.

 

Sudah mengabadikan momen, kami bersiap pulang. Namun sebelum beranjak ke tempat parkir, langkah kaki kami tertahan oleh langit sore Pantai Bingin. Matahari mulai turun, warna oranye kekuningan dengan semburat hitam terlihat menghiasi langit luas. Benar-benar akhir pekan yang indah.

Yuk piknik!

 

Sunset di Pantai Bingin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM