Perang Pandan, Ritual Adat Bagi Sang Dewa

Sejak pagi hari, warga Desa Tenganan Dauh Tukad, Karangasem, Bali sudah sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk ritual adat, mulai dari sembahyang di rumah mereka masing-masing, para perempuan mulai berdandan, sedangkan para laki-laki bersantai sambil minum tuak menunggu ritual Perang Pandan atau Mekare-kare yang berlangsung mulai pukul 13.00 Wita.

Kali ini saya diajak dengan Mba Dea untuk pergi melihat serta mendokumentasikan Perang Pandan Desa Tenganan Dauh Tukad. Kami sengaja berangkat dari Denpasar pagi hari agar masih dapat menikmati suasana desa tersebut dari pagi hari dan melihat persiapan mereka sebelum melakukan ritual adat yang rutin dilaksanakan setahun sekali itu.

Sesampainya di Dauh Tukad, kami sempat menyapa seorang perempuan yang sedang dirias dan bersiap-siap mengikuti Perang Pandan. Masyarakat Desa Tenganan Dauh Tukad pun ramah terhadap para pengunjung maupun wisatawan. Kami juga dipersilahkan masuk ke dalam rumah mereka, untuk memotret seorang perempuan yang sudah selesai berias dan melakukan sembahyang di rumahnya. Bahkan kami diajak untuk minum tuak bersama para laki-laki. Namun karena masih pagi dan kami juga masih mengumpulkan tenaga untuk mendokumentasikan Perang Pandan, kami harus menolak tawaran menarik tersebut.

Seorang perempuan yang sedang berias, bersiap untuk mengikuti ritual Perang Pandan

 

Setelah selesai berdandan, para perempuan bermain ayunan sebelum Perang Pandan dimulai

Perang Pandan atau yang disebut juga Mekare-kare merupakan simbol ngayah atau berbakti kepada desa serta leluhur mereka. Tradisi tersebut rutin dilakukan setahun sekali setiap bulan kelima kalender Hindu Bali. Selain Desa Tenganan Dauh Tukad, Desa Tenganan Pegringsingan yang terletak di sebelahnya juga melakukan ritual yang sama, namun pelaksanaannya lebih dahulu.

Perang pandan merupakan sebuah keyakinan dan orang-orang yang melakukan mekare-kare ini (yakni warga laki-laki) dengan tulus memberikan darahnya bagi sang dewa. Selain itu, ritual ini juga bertujuan untuk melatih sportivitas serta kesabaran para pemuda maupun bapak-bapak yang mengikuti Perang Pandan.

Pukul 13.00 Wita, arena Bale Agung yang digunakan untuk Perang Pandan sudah mulai dipenuhi orang-orang yang ingin menyaksikan ritual tersebut serta para peserta yang akan mengikuti Perang Pandan. Para perempuan yang berdandan cantik dengan pakaian adat pun sudah duduk di pinggir panggung, menunggu para laki-laki yang akan berperang. Sebelum mulai perang, para peserta melakukan sembahyang agar ritual dapat berjalan lancar. Setelah itu, mereka berjalan berkeliling diseputar arena perang.

Seorang Pedanda melakukan sembahyang di arena Perang Pandan

Tak berselang lama kemudian, mulai dari anak-anak umur 10 tahun hingga orang tua berumur sekitar 65 tahun sudah memegang pandan yang akan digunakan dalam perang sambil menunggu seorang Pedanda berdoa diatas panggung dan memercikkan air suci. Satu demi satu para juri perang pun menaiki panggung yang diikuti dengan para peserta perang.

Prak… prok… prak… prok!

Suara pandan yang mengena tameng, maupun yang terkena pandan lawan. ditambah dengan suara sorak sorai penonton Perang Pandan mulai bergema dipanggung perang. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa satu lawan satu, mereka pun saling memukul dengan seikat daun pandan dan menggeret tubuh lawan tandingannya. Gamelan khas Desa Tenganan juga mengiringi pertandingan yang berlangsung hingga sekitar pukul 16.00 Wita.

Pukul 13.00 Wita Perang Pandan dimulai dari anak-anak hingga dewasa

 

Usai Perang Pandan, para peserta perang saling mengoleskan ramuan campuran kunyit untuk mengobati luka akibat perang tersebut. Pandan berduri yang dipilih warga Desa Tenganan sendiri tidak berbahaya karena sifat duri pandan sederhana dan sangat baik. Jika melukai lawan, secara langsung akan terlepas daunnya, dan lawan yang terkena duri tersebut tidak akan mengalami luka berat. Setelah semua prosesi Perang Pandan selesai, uniknya lagi di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad ini semua warganya langsung menggelar upacara bersama di area Perang Pandan.

Punggung peserta Perang Pandan yang terluka diolesi ramuan kunyit untuk menghilangkan luka

 

Sembahyang bersama seluruh penduduk Desa Tenganan Dauh Tukad usai Perang Pandan

Desa Tenganan merupakan salah satu dari tiga desa utama di Bali yang penduduknya adalah orang Bali asli atau Bali Aga. Bali Aga adalah penduduk asli Pulau Bali yang sudah mendiami pulau ini sebelum masuknya pengaruh agama Hindu dan Budha. Masyarakat Bali Aga sendiri mempunyai beberapa perbedaan dibandingkan dengan masyarakat Hindu Bali lainnya seperti saat masyarakat HIndu Bali lainnya melaksanakan hari raya Nyepi, di Desa Tenganan dan desa-desa masyarakat Bali Aga lainnya tidak ikut serta merayakan Nyepi.

Desa ini terbagi dalam lima banjar dinas yakni Dauh Tukad, Pegringsingan, Gumung, Bukit Kangin, dan Bukit Kauh. Ada 2 banjar yang mempunyai banyak kesamaan dalam budaya yaitu Dauh Tukad dan Pegringsingan yang mana keduanya masih melakukan ritual Perang Pandan hingga sekarang ini.

Tak perlu saat berlangsung Perang Pandan untuk mengunjungi Desa Tenganan ini. Kalian pun bisa mengunjunginya kapan saja karena desa ini terbuka untuk umum maupun wisatawan. Di desa ini, kamu bisa melihat bentuk, besar bangunan, pekarangan, hingga letak pura yang dibuat dengan mengikuti aturan adat yang secara turun temurun dipertahankan hingga saat ini. Selain itu, kalian juga bisa melihat warga Desa Tenganan yang masih menenun kain Gringsing serta membelinya sebagai buah tangan khas Desa Tenganan.

Menuju Desa Tenganan juga sangat mudah. Perjalanan normal menuju desa ini menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat sekitar 1,5 jam dari Kota Denpasar, atau sekitar 2 jam hingga 2,5 jam dari Kuta melalui bypass Ida Bagus Mantra. Banyak petunjuk jalan menuju desa ini dan mudah ditemukan juga di peta online maupun offline sehingga sedikit kemungkinan kalian nyasar menuju tempat ini.

Yuk Piknik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM