Riuh Bali Yang Harus Terhenti

Seperti yang dialami oleh hampir semua penduduk di Bumi, situasi beberapa bulan belakangan ini memang mengharuskan kita untuk lebih banyak membatasi interaksi. Sudah sekitar dua bulan saya hanya diam di rumah. Sesekali keluar untuk membeli bahan makanan, atau hanya ingin berkeliling sebentar menghirup udara segar. Meskipun saya sudah lama banyak bekerja dari rumah dan sering keluar untuk jalan-jalan mencari konten atau kerja bareng di coffee shop, kali ini terasa sangat berbeda.

Bisa dibilang semua tiba-tiba berubah 180 derajat karena pandemi Covid-19. Nyaris semua bidang terkena imbasnya, tempat usaha, toko bahkan tempat-tempat piknik di Bali yang biasanya penuh sesak akan turis, kini sepi. Jalanan yang biasanya padat merayap tak kenal jam berapa, kini pun sunyi. Hanya sedikit sekali kendaraan yang melintas.

 

Suasana di Ground Zero Bali.

 

Jalan Raya Legian yang sebelum pandemi terjadi tak pernah tidur.

 

Sepi itu semakin terasa nyata saat saya bersama Shu berjalan kaki di Legian dan Kuta, mengabadikan dan merekamnya dalam kamera kami. Dimulai dari Monumen Panca Benua, atau lebih dikenal dengan Ground Zero Bali untuk mengenang tragedi bom Bali 1. Tempat yang tak pernah sepi kapan pun, terutama saat malam hari ketika klub malam dan diskotik sekitarnya menyalakan musik kencang untuk berjoged ria. Kini menjadi senyap. Semua tutup, tak ada aktivitas sama sekali.

Kami lanjut berjalan hingga jalan Pantai Kuta. Yang sudah pernah ke Bali pasti tahu akan jalan ini. Jalan berpaving menuju Pantai Kuta yang tersohor. Bahkan banyak yang bilang belum ke Bali kalau belum berkunjung ke Pantai Kuta. Pasti kalian juga tahu betapa ramainya jalan ini, apalagi saat sore hari menjelang matahari terbenam. Ditambah saat akhir pekan maupun musim liburan, bisa-bisa jalan ini amat sangat ramai dan macet. Sekarang suasananya benar-benar lengang seperti kota mati.

 

Jalan Pantai Kuta yang juga benar-benar sepi.

 

 

Ini di kawasan Kuta Square.

 

Sebelum sampai ke Pantai Kuta, kami berbelok ke Kuta Square dan tembus ke jalan Kartika Plaza. Keadaan tak berbeda jauh. Hampir semua toko tutup. Ada beberapa restoran cepat saji yang buka, dan hanya menerima pesanan untuk dibawa pulang. Pasar Seni Kuta yang tak kalah ramai dengan Pasar Seni Sukawati juga tutup, begitu pula dengan restoran-restoran yang banyak menjajakan seafood di ujung jalan Kartika Plaza. Suasana makin terasa tegang dengan adanya seorang polisi dan para satpam hotel yang berjaga-jaga di sana.

 

Pasar Seni Kuta tutup.

 

 

 

Kami memutar balik menuju arah Pantai Kuta. Palang bambu dan kayu sudah terpasang rapat di setiap pintu masuk pantai. Bahkan untuk menyelinap di sela-sela palang pun tak bisa dilakukan. Jalan raya yang selalu macet dan padat karena kendaraan lalu lalang maupun Komotra parkir berjajar di tepian, kini kosong melompong. Kami hanya melihat seorang bapak polisi berdiri di depan Pos Polisi Kuta, dan satpam yang duduk di depan hotel-hotel megah untuk tetap berjaga. Kendaraan yang lewat pun bisa dihitung dengan jari. Entah mereka yang masih harus bekerja, para ojek online, maupun beberapa penjaja makanan yang terus berusaha memutar roda rupiahnya.

 

 

Perjalanan kami lanjutkan dengan berbelok ke jalan Poppies II. Semua mungkin tahu, Poppies Lane bisa dibilang sangat padat saat hari-hari biasa. Turis domestik maupun mancanegara sangat setia memenuhi badan hingga bahu jalan. Belum lagi saat malam datang, kalian pasti sering bertemu dengan ojek lokal yang membonceng 2 penumpang sekaligus, bersama bule-bule yang ingin menghabiskan malam dengan ajojing ria di Legian.

 

Jalan Poppies II.

 

 

 

Kami berjalan lebih perlahan di sini. Mencoba merasakan betapa sunyi daerah ini. Selain toko dan restoran, beberapa tempat spa kecil pun turut tutup. Dengan tempelan tulisan tutup karena Covid-19 yang saat kami baca terasa menyesakkan dada. Semakin jauh ke dalam kami melangkah, kami bertemu dengan beberapa orang yang memang masih harus bekerja.

“Ojek-ojek, transport, mau diantar dengan ojek mbak?”

Ujar bapak-bapak ojek online yang kami temui di jalan, yang masih mencari orderan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kami berdua pun hanya tersenyum di balik masker sambil menggelengkan kepala. Saya sendiri pekerja lepas dengan tabungan cukup untuk bertahan pun merasa sedih dengan keadaan ini, apalagi mereka.

 

Bapak ojek yang masih harus bekerja dan setia menunggu pelanggan.

 

Salah satu restoran yang mengumumkan tutup karena pandemi Covid-19.

 

Perjalanan kami berhenti di tempat kami memarkirkan kendaraan. Sambil mengobrol sebentar dan bercanda sebelum pulang, terucap doa serta harapan,

“Kamu baik-baik dan sehat-sehat terus ya. Kalau ada apa-apa saling berkabar.”

Sebuah kalimat yang sebelumnya terasa biasa saja, kini menjadi sangat bermakna.

Sebelum pulang ke rumah, saya sempatkan mampir ke daerah Sanur. Tak jauh beda dengan Legian dan Kuta, Sanur pun sepi ditinggal penghuni. Hanya warga sekitar serta pecalang saja yang nampak. Semua akses menuju pantai juga ditutup, toko-toko, maupun restoran hampir semuanya tutup.

 

Jalan masuk pantai Sanur yang selalu padat kendaraan maupun turis.

 

Akses masuk ke pantai Sindu yang ditutup juga.

 

Semua memang telah berubah, dan kita sendiri belum tahu sampai kapan pandemi ini berakhir. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah saling menjaga, saling membantu bergandengan tangan, dan tentunya bertahan. Benar-benar bertahan. Kami berharap semua kondisi ini segera berakhir, dan kembali seperti semula. Tetap kuat dan jangan patah semangat, teman-teman sekalian. Suatu hari nanti, kita pasti bisa kembali bertatap muka secara langsung, berjalan-jalan menikmati keindahan alam secara langsung, dan kembali bebas beraktivitas seperti semula.

 

 

 

 

 

 

Sebelumnya Shu juga membuat video pendek kondisi Kuta saat pandemi ini dan bisa dilihat disini Instagram-nya dia ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM