Sehari Menjelajah Kemegahan Angkor

 

Pukul 04.00 waktu setempat, saya dan Steffi sudah bersiap di lobby penginapan menunggu tuk-tuk yang sudah kami pesan hari sebelumnya datang menjemput. Tak berselang lama, sang bapak tuk-tuk pun datang, dan segera mengemudikan kendaraannya menuju Angkor. Selama perjalanan kami tak banyak bicara karna masih menahan kantuk yang belum juga hilang. Jalanan juga sangat lengang dan gelap. Rintik-rintik hujan semalam pun masih membekas di sisi kiri dan kanan jalan raya. Setelah beberapa menit terlewati, akhirnya kami sampai di loket tiket yang letaknya terpisah dengan kawasan Angkor.

“Silahkan membeli tiket terlebih dahulu disini. Saya akan menunggu kalian di luar sini ya,” ujar pengemudi tuk-tuk sambil menepi.

Meskipun masih pagi-pagi buta, bahkan matahari belum menampakkan batang hidungnya, suasana loket tiket benar-benar ramai dipenuhi pengunjung yang ingin menuju Angkor. Petugas loket pun dengan sigap melayani para pengunjung dengan sabar, menyuruh kami antri dengan tertib, serta mengingatkan kami agak memakai pakaian yang pantas dan sopan (atasan berlengan dan bawahan yang harus di bawah lutut).

Ada beberapa pilihan tiket yang ditawarkan bagi pengunjung mulai dari tiket harian, tiket terusan 3 hari, hingga tiket terusan selama 1 minggu. Pihak pengelola Angkor juga menyediakan lebih dari 1 loket, khususnya loket untuk tiket harian, supaya para pengunjung tidak terlalu lama antre untuk mendapatkan tiket. Proses pembelian tiket tidak membutuhkan waktu lama. Setelah memberikan sejumlah uang sesuai tiket yang dibutuhkan, kita akan difoto semacam foto untuk paspor, lalu petugas akan mencetak tiket sesuai yang kita inginkan disertai dengan foto wajah kita di dalam tiket tersebut. Keren ya!

Dari awal saya sudah diberitahu oleh Steffi bahwa harga tiket kawasan Angkor memang tidak murah. Untuk 1 hari, harga tiket dibanderol $37. Sedangkan untuk tiket 3 hari seharga $62, dan untuk 1 minggu seharga $72.

 

Suasana loket tiket Angkor Wat

 

Tiket pun sudah di tangan. Pengemudi tuk-tuk langsung membawa kami menuju Angkor Wat, candi terbesar di kawasan Angkor ini. Loket tiket dengan pintu masuk Angkor Wat tidak jauh, sekitar 5 menit perjalanan dengan tuk-tuk, kami pun sampai di tujuan. Memasuki pintu masuk Angkor Wat, kami langsung mencari tempat untuk menunggu matahari terbit. Namun sayangnya langit mendung masih bergelantung di atas dan gerimis pun datang. Akhirnya kami hanya duduk disalah satu warung yang ada disana sambil menunggu kopi untuk menghilangkan kantuk.

Pagi itu cuaca belum bersahabat dengan kami. Mendung masih menemani kami selama berkeliling Angkor Wat. Sekalipun cuaca tak mendukung bukan berarti kami hanya duduk-duduk saja sambil menunggu, akhirnya kami pun berjalan memasuki Angkor Wat.

Angkor Wat merupakan candi terbesar di Angkor yang dibagun pada pertengahan abad ke 12. Dengan luasnya mencapai 200 kilometer persegi, Angkor Wat menyimpan banyak sejarah dan terawat dengan baik hingga saat ini. Baru masuk kawasannya saja, saya sudah terpana dengan bangunan candinya yang begitu megah. Kami berdua pelan-pelan menyusuri setiap bagian dari candi tersebut, menikmati dan melihat relief-reliefnya yang menakjubkan. Saking besarnya, menurut saya pribadi sehari berkeliling saja masih kurang waktunya. Namun apa daya kami hanya mempunyai waktu yang sangat singkat.

 

Angkor Wat tanpa sunrise

 

Bagian lain dari Angkor Wat

 

Salah satu relief di Angkor Wat

 

 

Selepas dari Angkor Wat, kami beranjak menuju Candi Bayon yang masih berada di komplek yang sama dengan Angkor Wat. Berdasarkan beberapa review dan saran dari sopir tuk-tuk, candi ini merupakan destinasi favorit yang harus dikunjungi selain Angkor Wat. Bayon memang tidak seluas dan semegah Angkor Wat, namun keindahan candinya pun tak kalah dengan Angkor Wat. Disini relief yang berupa pahatan berbagai ekspresi dari wajah Buddha menarik perhatian saya. Candi ini juga dijuluki sebagai Temple Of Faces. Terlihat dengan relief-relief wajah yang tinggi menjulang yang mendominasi candi tersebut. Selain itu, candi ini mempunyai relief dengan gambaran kehidupan masa lalu kerajaan Khmer yang berada disekitar relief wajah.

 

Candi Bayon dari depan

 

Batu-batu candi yang runtuh masih tersimpan dengan baik disini

 

Puas berkeliling di Candi Bayon, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Ta Keo. Disini kami berkeliling sejenak dan mengabadikan foto. Setelah itu, kami langsung menuju Ta Prohm, candi yang terkenal sebagai lokasi syuting film Tomb Rider. Candi ini juga menjadi favorit para turis selain Angkor Wat dan Bayon. Salah satu keunikan candi ini dibandingkan dengan candi-candi lainnya adalah adanya akar pohon besar yang memeluk tubuh candi. Suasana rimba liar juga lebih terasa disini dibandingkan dengan Angkor Wat dan Bayon yang sudah saya kunjungi sebelumnya.

 

Ta Prohm

 

Saya dan Steffi dengan muka-nahan-kantuk di Ta Prohm

 

Selanjutnya, kami menuju Banteay Kdei yang menjadi destinasi terakhir kami di kawasan Angkor ini. Tak berbeda jauh dengan candi-candi sebelumnya, Banteay Kdei juga mempunyai sisi menarik yang membuat saya tetap mlongo saking takjubnya dengan kawasan ini. Dalam Bahasa Khmer, Banteay Kdei bermakna benteng berkamar dengan arsitektur mirip Ta Prohm yang lebih sederhana dan lebih kecil.

 

Banteay Kdei

 

Tak terasa seharian penuh kami sudah berkeliling di beberapa tempat peninggalan Kerajaan Khmer ini. Sekalipun belum semua peninggalan sejarah disini kami kunjungi, kami sangat puas dan bahagia bisa langsung datang serta melihat kemegahan Angkor. Yang membuat saya benar-benar takjub secara pribadi adalah peninggalan tersebut benar-benar dijaga dan dirawat dengan baik hingga saat ini. Suatu hari saya berharap bisa kembali berkunjung kesini lebih lama lagi dan lebih banyak berkeliling di situs-situs sejarah Angkor lainnya.

Yuk Piknik!

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *