Sejarah Perang Pandan di Tenganan, Pegringsingan, Bali

Tradisi Perang pandan merupakan tarian sakral atau yang disebut bali-balihan, salah satu tradisi yang ada di tradisi Perang Pandan atau mekare-kare atau mageret pandan di Desa Tenganan, Kecamatan Karangasem, Bali.

Sejauh ini tidak ada sumber sejarah tertulis mengenai Perang Pandan. Hal ini kemungkinan besar dikarenakan tradisi Perang Pandan merupakan rangkaian upacara yang dijalankan turun- temurun oleh penduduk desa Tenganan, Pegringsingan, Bali.

Warga Desa Tenganan menganut kepercayaan yang berbeda dengan warga Bali lainnya. Warga Desa Tenganan menganut agama Hindu Indra. Pemeluk agama Hindu Indra tidak membedakan umatnya dalam kasta, mereka juga menganggap Dewa Indra adalah dewa dari segala dewa dan merupakan dewa tertinggi.

Legenda munculnya Perang Pandan di desa Tenganan

Menurut sejarahnya, zaman dahulu kawasan Tenganan dan sekitarnya diperintah oleh raja bernama Maya Denawa. Maya Denawa adalah raja yang kejam dan menganggap dirinya sebagai Tuhan dan melarang orang Bali untuk melakukan ritual keagamaan. Pengakuan Maya Denawa sebagai Tuhan membuat murka para dewa di surga. Kemudian, para dewa mengangkat Dewa Indra sebagai panglima perang dan mengutus Dewa Indra untuk menyadarkan atau membinasakan Maya Denawa.

Setelah melewati pertempuran yang sengit dan memakan korban yang tidak sedikit, Dewa Indra dapat mengalahkan Maya Denawa. Kemenangan Dewa Indra atas Maya Denawa yang kejam tersebut kini diperingati masyarakat Desa Tenganan dengan upacara Perang Pandan, karena Dewa Indra adalah dewa perang.

Perkembangan tradisi Perang Pandan

Sampai saat ini tradisi ini masih rutin dilaksanakan warga Desa Tangenan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wasatawan lokal maupun asing.

Ritual upacara Perang Pandan didahului dengan mengelilingi desa sebagai wujud permintaan keselamatan kepada Dewa. Rangkaian ritual kemudian dilanjutkan dengan minum tuak bersama.

Tuak kemudian dikumpulkan bersama dan dibuang di sebelah panggung. Setealh persiapan cukup dan peserta siap, pemangku adat akan memberikan aba-aba tanda perang dimulai. Perang dilakukan berpasangan. Peserta Perang Pandan akan menari-nari dan sesekali menyabetkan pandan berduri kepada pasangannya secara bergantian.

Geretan atau sabetan pandan berduri tentu saja menimbulka luka yang lumayan. Namun disinilah keunikannya. Para peserta justru nampak bersukacita dan tertawa lepas meski darah menetes dari punggung maupun lengannya.

Setelah perang selesai peserta yang diolesi ramuan tradisional yang terbuat dari kunyit. Kemudian acara selanjutnya adalah sembahyang di pura dilanjutkan dengan megibung (makan bersama dimana nasi dan lauk disajikan dengan alas daun pisang.red).

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM