Staycation Seru di Kayangan Villa Ubud

Beberapa hari terakhir ini cuaca di Bali memang sedang panas-panasnya. Merunut informasi di kanal berita daring, karena gerak semu matahari yang bergeser ke selatan Khatulistiwa mengakibatkan cuaca panas terasa makin panas, terlebih di Bali. Jadi tak salah kan kalau saya lebih memilih untuk tetap teduh di rumah sembari melaksanakan kewajiban tulis menulis. Telusur sana sini di laman internet, hingga akhirnya saya (maaf, khilaf) menemukan potongan kalimat paling menggiurkan; “DISKON AKHIR PEKAN DI BALI! YUKK, BOOK SEKARANG!”

Beberapa saat saya diam, berkonsentrasi berusaha merancang kalimat paksaa…AJAKAN yang paling tepat supaya susah ditolak. Segera saya ambil handphone dan mengirim pesan singkat ke mas suami plus koki tercinta.

“Kamu mau nggak kalo bulan ini nginep di luar? Mumpung lagi ada diskon nih.” SEND!

Tak tunggu lama, emoticon 🙂 plus kata “Yukk!” terpampang di layar ponsel saya. Yes!! Piknik!!!!

Untung saja masih awal bulan, dan Bettam (sudah pasti, saya yakin!) akan bilang iya. Selain itu, Nina, Moory, dan si kecil Bentala pun ikut serta dalam staycation akhir pekan ini. Seru! Terpilihlah Kayangan Villa Ubud, sebuah tempat yang terlihat menarik untuk pamer konten. Hahahaha. Meski beberapa tahun terakhir ini Ubud semakin macet dan mampet dengan arus lalu lintasnya, untung saja penginapan ini berada cukup jauh dari pusat Ubud. Tepatnya di Desa Kenderan, Tegallalang, Gianyar, Bali.

Sebelum jam makan siang tiba, kami sudah mulai berkendara menuju Ubud. Kami memilih saat akhir pekan untuk menginap karena mereka bertiga merupakan pekerja kantoran yang harus menyesuaikan jadwal liburnya. Untungnya weekend kali ini perjalanan menuju Ubud lancar dan aman. Kami sendiri sempat heran, tumben sekali ini Ubud lumayan sepi saat hari libur. Sebelum memasuki daerah Tegallalang, kami mampir dulu untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Sudah puas makan, saatnya menuju ke Kayangan. Yippie!

 

Poolside Villa kami berdua yang paling ujung. (Photo by Lambertus Moory)

 

Satu kasur dan bantal-bantal nan empuk.

 

Awalnya kami mengira penginapan ini berada dekat dengan jalan raya. Namun nyatanya tidak. Dari jalan raya Tegallalang, kami masih harus masuk menempuh perjalanan lebih dari 1 kilometer dengan jalan naik turun. Hingga akhirnya memasuki jalan kecil menuju Kayangan Villa Ubud, kami disambut dengan hijaunya persawahan yang baru mulai ditanami. Ditambah lagi udara segar khas pedesaan. Benar-benar diluar dugaan dan mengagumkan.

Vila ini dikelilingi oleh area persawahan dan berada di tepi lembah sungai kecil. Hanya ada 12 kamar saja yang terbagi menjadi Private Pool Villa, Private Villa, dan Poolside Villa. Setelah urusan check in selesai, kami pun langsung diantar menuju kamar. Kami memilih kamar Poolside Villa yang berada di bagian paling ujung. Alasannya, jika ingin nyemplung tidak jauh-jauh dari kamar dan mau berisik sedikit tidak mengganggu tetangga. Ops!

Memasuki kamar, kami langsung dijelaskan oleh pegawai vila mengenai semua fasilitas yang bisa dinikmati di dalam kamar. Interiornya didominasi bahan kayu, mulai dari lantai, dinding, dan daun pintu. Kamar ini terlihat sederhana sekaligus eklektik pada saat yang bersamaan. Tempat tidur ukuran queen size yang dilengkapi dengan bantal-bantal empuk terletak di tengah-tengah kamar. Ada televisi, lemari, kulkas, serta safety box yang bisa digunakan semuanya. Di bagian belakang kamar, terdapat kamar mandi semi terbuka yang dilengkapi dengan closet duduk, shower, air panas, dan juga toiletries yang (surprisingly) benar-benar lengkap.

 

Kamar mandi semi terbuka di belakang ruang tidur.

 

Toiletries yang benar-benar lengkap.

 

Selesai menata barang bawaan, saatnya untuk beristirahat menghabiskan waktu. Menjelang sore hari, kami bersiap-siap untuk menikmati sejuknya kolam renang yang ada tepat di depan kamar. Pas betul cuaca sedang cerah-cerahnya. Tak berselang lama, pemandangan matahari tenggelam berlatarkan persawahan pun datang. Syahdu sangat!

Puas berenang dan menikmati senja, rencana santap malam mulai disusun. Awalnya kami berencana untuk makan di luar sekaligus menikmati suasana Ubud downtown saat malam hari. Tapi setelah mandi, kami enggan beranjak dari vila yang benar-benar nyaman ini. Ditambah lagi membayangkan keluar masuk vila dengan jalan yang naik turun, rasanya berat banget. Namanya saja liburan ya, kalau mager-nya keterlaluan sih bebas, hahahaha. Akhirnya kami memesan makan malam lewat telepon di kamar vila. Malam itu kami menghabiskan dengan duduk-duduk santai di teras kamar menikmati hidangan. Diiringi dengan suara-suara jangkrik yang bersahut-sahutan, serta kunang-kunang yang berterbangan kesana kemari di sawah sekeliling vila.

 

Di sebelah kamar juga ada halaman kecil yang bisa digunakan buat santai atau yoga.

 

Pemandangan sunset di Kayangan Villa Ubud.

 

Pagi harinya, kami berdua berencana bangun lebih awal untuk menikmati pemandangan matahari terbit di sekitar vila. Namun apa daya rencana berubah menjadi wacana. Saya dan Bettam sudah sempat bangun pagi, namun nikmatnya kasur tak bisa kami tinggalkan begitu saja. Kemudian baru benar-benar bangun saat matahari mulai meninggi. Sedangkan Nina, Moory, dan Bentala berhasil bangun pagi lalu sunrise-an.

Tak berselang lama, room service datang untuk menanyakan menu sarapan kepada kami.

“Bapak, Ibu, mau sarapan di restoran, teras kamar, atau floating breakfast?

Saya dan Nina saling memandang lalu menjawab kompak, “Floating breakfast, please!”

Menikmati sarapan terapung dengan pemandangan vila yang menawan, mana mungkin kami tolak ya kan.. Selain itu, menu sarapan pun kami bebas memilih apa saja dari 3 style menu; Indonesian Breakfast, American Breakfast, atau Continental Breakfast.

Sambil menunggu sarapan datang, saya dan Bettam kembali asik renang ke sana ke mari. Pagi itu kolam renang sangat sepi, hanya kami saja yang nyemplung. Berasa seperti kolam renang pribadi. Tak berselang lama, sarapan pun tiba. Kami berempat bersiap-siap berendam di kolam dan berfoto ria demi konten tentu saja. Sedangkan si kecil Bentala, sudah terlelap lagi di dalam kamar. Sesi foto-foto selesai, kami langsung menghabiskan menu sarapan kami masing-masing. Namun ternyata menikmati floating breakfast tak seindah foto-foto di majalah wisata. Kami harus berusaha seimbang dan memotong atau mengambil makanan dengan perlahan agar tidak jatuh ke dalam kolam. Karena sudah tidak sabar untuk menghabiskan makanan, akhirnya kami menyerah. Sepaket sarapan pagi yang masih tersisa setengah kami angkat ke teras kamar untuk dilahap habis.

 

Floating Breakfast di Kayangan Villa Ubud. (Photo by Lambertus Moory)

 

Puas mengisi perut dan tenaga, masih ada cukup waktu untuk bersantai dan berkemas. Saya pun kembali melanjutkan berenang sepuasnya. Hingga akhirnya waktu check out pun tiba. Sedih sih karena waktu libur telah usai. Namun kami semua benar-benar puas dengan relaksasi serta kenyamanan yang diberikan oleh Kayangan Villa Ubud. Salah satu tempat yang tepat untuk beristirahat dari kesibukan sehari-hari, sekaligus untuk staycation menyatu dengan alam sekitar.

Yuk piknik!

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM