bali destination

Menyusuri Kawasan Denpasar Heritage

Sore itu, suasana jalan Gajah Mada Denpasar lengang. Setelah mengajak dan mengenalkan Diki dengan Kopi Bhineka Djaja, kami blusukan di kawasan Denpasar Heritage.Kota Tua Denpasar ini terletak di Jalan Gajah Mada. Dengan panjang jalan sekitar 1,5 kilometer, kawasan ini menyimpan berbagai bangunan tua yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Selain itu, daerah ini juga dikenal sebagai pusat bisnis sejak dulu. Ditambah lagi terdapat pasar terbesar di Denpasar yang bernama Pasar Badung, sehingga menjadi tempat berkumpulnya para pedagang. Mereka yang mendirikan bangunan di wilayah ini bukan hanya masyarakat lokal Bali saja. Seiring dengan perkembangannya, Denpasar Heritage menjadi tempat tinggal orang-orang dari berbagai etnis.Sebelum mulai perjalanan, kami mampir menikmati secangkir kopi di kedai favorit saya, Bhineka Djaja. Kebetulan kedai ini terletak di Denpasar Heritage juga.Puas ngopi, kami mulai menyusuri jalan Gajah Mada. Di sepanjang kiri dan kanan, kami ditemani bangunan tinggi dengan nuansa Tionghoa dan Arab yang kental. Beberapa pilar bangunan terlihat kusam, menandakan bangunan yang telah dimakan zaman. Di ujung jalan ini, terdapat titik nol kilometer Denpasar dan Patung Catur Muka yang menjadi landmark Kota Denpasar. Patung Catur Muka Denpasar. Patung yang mempunyai empat wajah, dan masing-masing menghadap keempat arah mata angin ini bukan hanya sekadar hiasan belaka. Patung ini menggambarkan sosok Dewa Brahma dengan empat sifat berbeda. Wajah yang menghadap ke timur disebut Sanghyang Iswara yang mewakili sifat bijaksana. Wajah yang menghadap ke barat disebut Sanghyang Mahadewa yang mewakili sifat kasih sayang. Kemudian wajah yang menghadap ke utara disebut Sanghyang Wisnu atau sifat kuat dan mensucikan jiwa. Yang terakhir wajah menghadap ke selatan disebut dengan Sanghyang Brahma, mewakili sifat menjaga ketentraman.Kami melanjutkan perjalanan dengan berbelok ke Jalan Veteran. Disini kami melihat bangunan gedung tua dengan desain arsitektur kolonial, yaitu Inna Bali Heritage. Hotel ini berdiri pada Agustus 1927 dan menjadi saksi sejarah Bali prakemerdekaan. Bangunan bergaya vintage ini juga pernah menjadi tempat persinggahan tokoh dunia sejak dulu.Perjalanan kami lanjutkan dengan masuk gang-gang di seputar Denpasar Heritage. Rumah-rumah penduduk berjajar rapi, seperti pemukiman kota pada umumnya. Arsitekturnya pun sudah beragam, ada yang berupa rumah biasa, dan juga rumah adat Bali. Hanya ada satu dua rumah tua yang masih berdiri kokoh dimakan zaman. Rumah sederhana dengan jendela vintage. Kawasan pemukiman yang terlihat dari lantai 4 Pasar Badung. Bangunan rumah tua lainnya yang bisa ditemukan di kawasan Denpasar Heritage. Setelah berjalan memutar, kami kembali ke Jalan Gajah Mada. Hingga akhirnya berujung pada Tukad Badung yang memisahkan Pasar Badung dan Pasar Kumbasari. Sungai sepanjang 22 kilometer ini sudah ditata dan dipercantik dengan taman di tepiannya. Ada teras berundak dengan pepohonan rindang yang bisa digunakan untuk duduk santai menghabiskan waktu. Selain itu, sungai ini juga dihias dengan air mancur serta lampu warna-warni saat malam hari. Tukad Badung sering juga disebut dengan Tukad Korea karena seperti Sungai Cheonggyecheon di Seoul yang ditata sedemikian rupa secara estetis dan ekologis.   Kami naik ke lantai teratas Pasar Badung yang sudah direnovasi. Dari sini, kami melihat hiruk pikuk kawasan Denpasar Heritage. Pertokoan yang sudah dimakan umur panjang lebih jelas terlihat coraknya. Meskipun terlihat tua, bangunan-bangunan ini terlihat cantik dengan dekorasi tanaman yang menghiasinya. Beberapa juga mempunyai rooftop kosong di atasnya. Kami pun bergumam, enak ya kalau bisa duduk di atas sana sambil menikmati secangkir kopi. Pemandangan dari sisi lain lantai 4 Pasar Badung. Salah satu mural yang menghiasi Pasar Badung. Perjalanan sore yang sungguh menyenangkan. Berjalan kaki santai, sambil menikmati hiruk pikuk Kota Denpasar. Melihat lebih dalam bangunan dan suasana kota tua yang tak pernah pudar oleh waktu.Yuk piknik!

Continue reading
Masker wajah Pakka Boo

Piknik Bersama Pakka Boo

Tahun 2020 mungkin sangat layak dinobatkan sebagai tahun yang penuh kejutan. Pandemi global Covid-19 merajalela di seantero bumi. Dan sejak pertama kali ada 2 barang yang menjadi incaran hampir semua orang. Yup, hand sanitizer dan masker wajah.Meski keduanya bukan sesuatu yang baru, namun hand sanitizer dan masker wajah diincar banyak orang sebagai alat pendukung kesehatan paling penting untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Semua orang (setidaknya mereka yang saya kenal) berusaha melengkapi diri dengan kedua benda ini. Syukurlah, saya dikelilingi oleh teman-teman yang memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan diri sendiri juga orang di sekitarnya.    Bagi saya, masker wajah bukanlah hal baru. Bisa dibilang sejak masih berkuliah di Jogja, saya selalu mengenakan masker wajah. Terkadang saya menggunakan kain sapu tangan, syal, dan kadang jika ada sisa uang bulanan saya membeli masker medis standar. Maklumlah, sebagai mahasiswa rantau kala itu, pembagian uang bulanan kiriman orang tua ataupun hasil kerja partime harus dibagi-bagi dengan memperhatikan strategi ekonomi yang sangat ketat.Saat awal-awal merebaknya pandemi Covid-19 di Indonesia, keberadaan masker wajah sempat menjadi begitu langka. Ditambah lagi dengan adanya “pedagang-pedagang oportunis” yang menimbun stok masker dan dijual lagi dengan harga selangit. Namun untung saja, keberadaan masker medis mendapat substitusi dengan munculnya masker kain. Terlebih dengan adanya pernyataan dari banyak ahli kesehatan tentang efektivitas masker kain untuk mencegah persebaran virus Covid-19. Dan lagi-lagi hukum ekonomi berbicara, ketika ada pasar maka disanalah muncul penjual.Dari sekian banyak pilihan model, motif serta variasi masker kain di pasaran, ada satu produk yang mencuri perhatian saya. Adalah Pakka Boo; produk masker kain buatan Bandung yang muncul dengan desain serta kualitas mumpuni. Pakka Boo tampil dengan desain ceria, lengkap dengan wajah si Pakka; Alpaca berbulu putih yang didapuk menjadi maskot Pakka Boo.    Wajah saya berubah sumringah begitu paket kiriman Pakka Boo mendarat di Denpasar. Sesuai dengan protokol kesehatan penerimaan barang ekspedisi dari luar kota yang saya dan pak suami terapkan, paket kami semprot dengan larutan disinfektan. Barang saya bongkar, dan dicuci terlebih dahulu. Kemudian siap dipakai keluar rumah untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, maupun piknik sejenak ke tempat sepi tentunya.Terbuat dari katun, masker Pakka Boo terasa sangat nyaman dan pas dengan kontur wajah saat dipakai. Bagian dalam masker menggunakan kain katun berlapis dengan warna yang lebih gelap. Terdapat pula kantong untuk menambahkan lapisan tisu maupun kain tipis sebagai filter ekstra. Bagian earloop terbuat dari karet elastis yang lembut dan nyaman, yang bisa disesuaikan dengan masing-masing telinga kita.    Pakka Boo rupanya menyediakan bermacam produk daily wear yang dibuat di Kota Kembang Bandung. Selain masker kain untuk wajah, Pakka Boo juga membuat tas lipat serbaguna dari bahan polyester yang sangat durable. Dibuat dengan warna yang chic, desain yang lucu dan menarik. Ditambah dengan gemasnya muka si Pakka, tingkat kepercayaan diri rasanya langsung terdongkrak beberapa level.    Ukuran tas lipat yang cukup longgar memungkinkan saya memuat banyak barang tanpa khawatir tas akan rusak. Mulai dari bekal, buku, hingga kain pantai semuanya masuk menjadi satu tempat saja. Sesuai dengan namanya, tas serbaguna ini dapat juga dibawa untuk berbelanja, jalan-jalan, dan tentu saja, piknik!    Coba bayangkan, piknik ke pantai yang sepi, pakai masker dan tas lipat dengan desain muka si Pakka yang menggemaskan. Makin pede, makin aman, juga makin gaya! Coba deh intip koleksi produk Pakka Boo di akun Instagram mereka @pakka.boo Yuk piknik!   Fun Fact Pakka Boo:Semua desain bahan dan proses pembuatan dilakukan handmade dari Bandung.Nyaman dipakai dan mudah dicuci menggunakan air mengalir maupun air hangat.Kemasan pengiriman luar kota juga sangat aman, dan disemprot dengan larutan disinfektan terlebih dahulu oleh si penjual. Bahkan, diberi kartu ucapan yang bisa digunakan juga untuk gift kepada orang lain.Bisa digunakan kapan saja dan dimana saja saat kita piknik di era new normal sekarang ini.Wajah si Pakka nan gemas, selalu mengingatkan kita akan kegembiraan dan harapan baru esok hari. Disamping itu, sebagai pengingat juga agar kita tetap sehat, pakai masker, jaga jarak, dan rajin mencuci tangan. Semua foto diabadikan oleh Calvin Damas Emil  

Continue reading

Terbuai Keindahan Pantai Pura Geger

Selepas memarkirkan sepeda motor, saya berdiri di tepi tebing. Angin laut membelai wajah… Selepas memarkirkan sepeda motor, saya berdiri di tepi tebing. Angin laut membelai wajah…

Continue reading

Piknik Sore New Normal di Pura Luhur Uluwatu

Iklim pariwisata Bali pelan-pelan mulai bangkit. Setelah tertidur panjang sejak akhir Maret lalu, beberapa destinasi wisata yang telah melalui proses verifikasi diijinkan untuk buka dan beroperasi kembali. Meski bayang-bayang suram pandemi Covid-19 belum sirna, para penggiat pariwisata mulai bergeliat. Mematutkan diri dengan segala protokol kesehatan yang menjadi syarat untuk beroperasi kembali. Salah satunya adalah Objek Wisata Pura Luhur Uluwatu.Sekitar pukul 15.00 Wita, saya sampai di tujuan. Kali ini saya melepas sore bersama Sugianto Shu; seorang kawan yang bekerja sebagai fotografer profesional, yang kebetulan mempunyai tugas untuk mengumpulkan beberapa footage video dan foto di tempat-tempat wisata di Bali. Suasana kali ini terasa cukup berbeda, kesan sunyi tak dapat dihindari. Sebelum memasuki kawasan pura, kami diharuskan memakai masker, dan diminta untuk mencuci tangan terlebih dahulu di tempat yang sudah disediakan. Kami melangkahkan kaki menuju pintu masuk kawasan luar pura dan diharuskan untuk melakukan pengecekan suhu tubuh. Jika hasil pengecekan dianggap tidak melebihi batas yang ditetapkan, baru kami dipersilakan untuk membeli tiket, dan diingatkan untuk selalu jaga jarak sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku. Tentu saja pesan yang selalu diulang setiap datang ke tempat ini adalah: hati-hati membawa barang karena banyak monyet usil dengan sejuta rasa penasaran yang siap menyambar barang-barang bawaanmu!Jalan berpaving memasuki kawasan pura sangat-sangat sepi. Bisa dibilang saat itu tidak ada turis lain yang berkunjung selain kami berdua. Memang ada beberapa warga yang ingin melakukan sembahyang ke pura, selain beberapa penjaga yang dengan ramah mengganggukkan kepala sebagai sebuah gestur sapaan. Sungguh terasa aneh, tempat yang biasanya ramai pengunjung kali ini begitu sunyi. Di beberapa titik bahkan terasa lebih mencekam. Begitu terasa dampak dari pandemi Covid-19 hingga sekarang. Patung Kumbakarna yang berada di Pura Luhur Uluwatu. Tangga menuju Pura Luhur Uluwatu yang selalu ramai pengunjung, kini sepi. Selain sebagai tempat ibadah umat Hindu Bali, pura ini juga menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan yang berlibur ke Bali. Berlokasi di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Pura Luhur Uluwatu terletak di atas bukit karang dengan ketinggian sekitar 97 meter dari permukaan laut. Pura ini dipercaya oleh umat Hindu Bali sebagai penyangga dari 9 mata angin. Dalam bahasa Sansekerta, kata “Ulu” bermakna ujung, atas, atau puncak. Sedangkan Watu berarti batu. Nama Pura Luhur Uluwatu dapat diartikan sebagai tempat suci yang dibangun di puncak batu karang.Kami berdua berjalan perlahan dalam diam menuju pintu masuk utama pura. Sesekali langkah kami terhenti untuk mengambil foto maupun merekam gambar. Entah berapa kali kami mengulang ucapan “Sepi sekali ya” saking sepinya tempat ini. Menapaki tangga pelan-pelan, hingga sampai di pintu masuk pura kami langsung disapa sang bapak penjaga.“Siang, dek. Mohon maaf, selain yang ingin sembahyang tidak diperbolehkan masuk ke dalam area pura. Kalau mau ambil gambar bisa dari pintu ini ya, saya bukakan. Sama hati-hati kacamatanya kalau diambil sama monyet.”, ujarnya dengan keramahan yang sangat khas.Kami berdua menganggukkan kepala dengan santun dan menyunggingkan senyum. Tapi siapa yang tahu kalau kami tersenyum, wong muka kami tertutup masker. Shu langsung mengambil beberapa video yang dia butuhkan, sementara saya memilih untuk duduk-duduk santai menikmati angin sepoi-sepoi sambil sesekali mengingatkan Shu yang berkacamata untuk hati-hati jika ada monyet mendekat.Setelah merasa cukup mengambil gambar di sekitar pura, kami bergeser ke arah bagian tepi tebing. Keindahan sisi tebing ini telah memikat jutaan pasang mata, pesonanya seperti sihir dengan tebing tinggi menjulang, berlatarkan lautan lepas Samudra Hindia ada di depan mata. Sembari menunggu Shu merekam gambar, saya menikmati pemandangan ini sepuasnya. Biasanya jalan setapak bagian tepi tebing ini selalu penuh dengan pengunjung. Namun kali ini benar-benar kosong. Menyedihkan sebenarnya, namun di saat yang bersamaan kami juga merasa lega karena bisa menikmati Pura Luhur Uluwatu yang damai sepuasnya tanpa harus berdesakan dengan tamu-tamu lainnya. Pemandangan tebing menjulang di Uluwatu. Syahdunya lamunan saya dibuai keindahan tebing Uluwatu mendadak buyar saat teriakan Shu terdengar cukup kencang.“JANGAN DONG. AKU NGGAK BISA LIHAT NANTI!!…”Saya bergegas menghampirinya. Rupanya seekor monyet usil tak mampu membendung rasa penasaran dan sukses merampas paksa kacamata Shu. Sungguh saya kasihan melihat anak ini. Sudahlah itu badan kerempeng, kacamata pun harus dirampas si monyet. Namun justru saya tak mampu menahan tawa melihatnya (maaf ya, Shu :p). Pelan-pelan Shu mendekati si monyet sembari membujuknya untuk mengembalikan kacamata, sedangkan saya bergegas meminta bantuan bapak penjaga. Meskipun sudah sangat berhati-hati dan selalu diingatkan oleh para penjaga pura, masih kecolongan oleh si monyet. Mungkin ini pertanda kami akan mendapat keberuntungan? Atau memang sedang sial saja ya?Akhirnya kacamata Shu bisa didapatkan kembali setelah si monyet diiming-imingi dengan makanan oleh bapak penjaga. Karena kapok dan takut diambil lagi, Shu memilih melepas kacamatanya dan mengambil gambar dengan jarak dekat agar masih tetap kelihatan. Monyet liar yang kadang usil di Uluwatu. Kami lanjut menyusuri jalan setapak, hingga sampai di sisi lain dari kawasan Pura Luhur Uluwatu yang ditumbuhi pepohonan lebat. Meski sudah beberapa kali datang ke sini, saya malah belum pernah menjelajah area di bagian ini. Pohon-pohon rimbun tinggi menjulang, dengan hiasan Bunga Kertas atau Bougainvillea merah jingga di sepanjang jalan setapak menambah keindahan kawasan pura. Hutan kecil ini disebut dengan Alas Kekeran, yang berfungsi sebagai penyangga kesucian pura. Hingga sekarang, hutan ini tetap dibiarkan lestari dan menjadi tempat tinggal oleh ratusan monyet liar.Tak berani lebih jauh berjalan karena takut akan monyet-monyet usil lainnya dan juga hari sudah sangat sore, kami kembali mengambil gambar dari sisi yang lain sambil ditemani seorang penjaga dan….kali ini seekor anjing putih yang selalu mengikuti ke manapun kami berjalan. Jalan setapak tepi tebing Uluwatu yang kosong. Anjing putih sang penjaga. Sudah cukup mengambil stok video dan foto, kami kembali menuju lokasi utama pura untuk menikmati tenggelammnya sang surya. Tepi tebing di dekat panggung terbuka menjadi pilihan kami untuk kembali merekam gambar. Panggung terbuka ini biasanya digunakan untuk pertunjukkan Tari Kecak yang menawan, karena langsung berlatarkan senja emas dan lautan luas. Suasana yang benar-benar berbeda kembali terasa. Loket tiket pertunjukkan Tari Kecak Uluwatu yang nyaris tak pernah sepi, kini kosong melompong tanpa ada antrian yang mengular. Panggung terbuka untuk pertunjukan pun kosong dan masih tertutup rapat.Kami berdua berbincang santai, sambil menunggu senja. Hingga beranjak petang, langit perlahan mulai berubah warna. Mentari berwarna kuning keemasan pun turun pelan-pelan, siap kembali ke peraduannya. Senja di Uluwatu yang berbeda, namun terasa sangat spesial bagi saya. Tak ada riuh suara penari Kecak, atau sorak sorai penonton. Tak ada hiruk pikuk turis yang takjub dan sibuk mengabadikan momen matahari terbenam. Hanya sayup-sayup terdengar Puja Tri Sandhya bersama deburan ombak yang mengucap salam kepada senja.Sebuah penutup perjalanan saya dan Shu yang menakjubkan. Kami pun bergegas pulang sebelum semakin gelap. Sembari terus saling memberi semangat untuk menguatkan.Bagi kalian yang ingin berkunjung ke kawasan Pura Luhur Uluwatu, sudah dibuka sekarang. Dan tentunya harus tetap memperhatikan protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak ya.Yuk piknik! Semburat matahari senja sebelum tenggelam di tepi tebing Uluwatu. Golden Hour di Alas Kekeran (Difotoin oleh Shu). Senja menawan di Pura Luhur Uluwatu (Difotoin oleh Shu juga). 

Continue reading
Pantai Impossible Uluwatu, Bali.

Menanti Senja di Pantai Impossible

Kira-kira 3 bulan lebih saya berusaha berkompromi dengan segala kondisi pandemi dan sebisa mungkin tetap diam di rumah. Sejak akhir Maret, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sembari menjalankan Dapur Joni besama Bettam. Hingga beberapa hari lalu, sebuah ajakan random untuk menikmati senja di pantai mencuat dengan spontan. Tentu saja pantai yang ingin saya tuju harus sepi dan masih bisa diakses. Karena semenjak pandemi Covid-19 menerpa, hampir semua objek wisata termasuk pantai di Bali ditutup aksesnya untuk umum.Saya mengirim pesan singkat kepada Galih, seorang kawan yang memang belum pernah muncul di laman manapun dalam blog ini. Gayung pun bersambut. Saya, Galih, Febian, bersiap berangkat saat sepasang kawan lainnya; Anggey dan Kevin, memberi kabar kalau mereka akan turut serta. Kami pun memilih Pantai Impossible yang berada di daerah Bukit Ungasan, Uluwatu.Tak tahu siapa yang pertama menyematkan nama “Impossible”, namun karena memang letak pantai ini begitu tersembunyi di balik tebing kapur Bukit Ungasan dan sukar ditemukan, mungkin memang tepat menyandang nama “Tidak Mungkin”. Ditambah lagi jika air laut sedang pasang dan ombak cukup kencang, makin tidak mungkin lah kita turun hingga ke bibir pantai.Dengan pertimbangan “ketidakmungkinan” itu, maka logika saya, pantai ini pasti tidak banyak pengunjung. Benar saja, begitu kami tiba setelah meniti anak tangga di sisi tebing kapur, pantai dengan ombak yang sangat tenang dan nyaris tanpa pengunjung lain sudah menyambut. Persis beberapa saat sebelum mentari senja bergaya di barat cakrawala. Pemandangan Pantai Impossible dari atas tebing. Seperti halnya dengan pantai-pantai lain yang bersembunyi di balik bukit-bukit kapur Ungasan, Pantai Impossible ini ibarat pantai pribadi. Terlebih dengan adanya beberapa villa megah dan resort mewah yang gagah di puncak bukit, Pantai Impossible lebih mirip dengan pantai pribadi akomodasi-akomodasi tersebut. Tapi ya namanya Anak Piknik Masa Kini, cukup pinter lah saya menemukan jalan tersembunyinya. Warga sekitar yang siap menangkap ikan. Saya dan Galih langsung mencari tempat paling nyaman untuk bersantai. Febian, Anggey, dan Kevin sigap memanfaatkan senja yang syahdu untuk menangkap gambar lewat kamera masing-masing. Sore itu air Pantai Impossible sedang surut-surutnya, langit juga sedang cerah- cerahnya. Selain kami, hanya ada beberapa pengunjung saja yang ada di pantai, para pemburu ombak yang sedang berselancar di kejauhan, dan juga warga sekitar yang akan memancing ikan.Karena ombak sangat tenang, tepi pantai yang berbatu karang dan berpasir putih ini seperti kolam renang saja. Setelah menemukan tempat untuk menaruh barang-barang, kami bergegas berganti baju dan berlari ke pantai untuk berendam. Setelah tiga bulan lebih berdiam di rumah, memendam hasrat piknik sore, momen sore ini terasa sangat, sangat……sangat istimewa! Pantai Impossible yang memukau I. Pantai Impossible yang memukau II. Sambil berendam, kami bertukar cerita tentang pengalaman selama #dirumahaja, berfoto, bercerita lagi, berfoto lagi. Hingga golden hour tiba. Mentari yang beranjak pulang mengubah rona cakrawala dari biru yang cerah menjadi jingga, berubah emas sebelum gelap menabur selubungnya. Pemburu ombak di Pantai Impossible. Sunset di Pantai Impossible. Bagi saya, senja itu candu. Berkali-kali menikmatinya tak pernah bosan. Suasananya selalu terasa menenangkan, menghangatkan jiwa yang lelah, seperti mengajari untuk merelakan segala sesuatu yang yang harus terganti. Well, sebuah sore yang luar biasa. Meski hanya sebentar, namun sore ini rasanya cukup menjadi pengobat rindu. Rindu kepada kawan, rindu kepada laut, rindu kepada senja. Semoga pandemi ini segera berakhir, dan semua kembali seperti semula.Anyway, kalau kalian penasaran seperti apa sih sore yang kami habiskan waktu itu, sila mampir di kanal YouTube-nya Febian ini –> Walking with Febian .Yuk piknik! Bersama Kevin, Anggey, dan Galih. Sedangkan Febian sedang merekam video di sisi yang lain. (Foto oleh Galih) Langit senja yang semakin memesona sebelum malam gelap datang. 

Continue reading

Menikmati Nyepi di Villa Matahari

Bulan Maret datang lagi di Bali. Seperti tahun lalu, Hari Raya Nyepi Caka pada tahun ini jatuh di bulan Maret. Hari Raya Nyepi merupakan perayaan tahun baru menurut kalender Hindu Bali. Pada hari raya Nyepi ini umat Hindu Bali melakukan Catur Brata Penyepian dengan berdiam diri di rumah, tidak melakukan aktivitas bepergian, tidak melakukan pekerjaan, tidak bersenang-senang, dan tidak menyalakan api maupun cahaya.Karena Nyepi dirayakan di seluruh pulau Bali, maka semua orang wajib mengikuti aturan ini, termasuk pula kami. Seperti tahun sebelumnya, tahun ini pun kami dan beberapa kawan serta saudara berencana untuk menikmati malam Nyepi bersama-sama di vila. Beberapa hari menjelang Nyepi, saya dan Bettam mulai siap-siap belanja berbagai kebutuhan bahan makanan. Bettam selalu jadi tukang masak andalan, karena memang dia satu-satunya yang mampu mengolah makanan. Sehari sebelum Nyepi tiba, kami sudah siap berangkat menuju vila. Sayang, sehari sebelumnya, rencana yang sudah disusun sedemikian rupa tak berjalan mulus. Semenjak pandemi Corona menerpa Bali, banyak pertimbangan yang harus dibuat saat ingin bepergian. Beberapa kerabat kami urung ikut karena kondisi yang tidak memungkinkan. Akhirnya, tinggal 7 orang yang memutuskan untuk berangkat menginap di vila yang sudah dipesan sebelumnya. Pintu masuk menuju vila.  Untung saja perjalanan lancar dan cuaca benar-benar cerah. Kami sampai di vila tepat saat waktu check in dan disambut Andre, bule Perancis yang sudah sangat fasih berbahasa Indonesia. Rupanya Andre adalah orang yang ditunjuk untuk mengelola vila yang akan kami tempati ini. Urusan check in beres, saya langsung berkeliling melihat sekeliling vila yang bernama Villa Matahari ini. Villa Matahari dari atas. Vila yang kami tempati ini berada di wilayah Bukit Ungasan, Kuta Selatan. Sengaja kami pilih agar dekat jika esok harinya Bettam harus langsung bekerja. Vila ini berada dalam satu lahan yang luas namun cukup terisolir. Di bagian depan, ada vila lain yang masih dalam satu area, sedangkan vila yang kami tempati ada di bagian belakang. Bonusnya tidak ada tetangga dan hanya tanah kosong di baliknya sehingga kalau kami ribut pun tak akan terlalu kentara. Hahaahaa…Vila ini terdiri dari sebuah ruang keluarga yang jadi satu dengan dapur dan ruang makan. Satu kamar terletak berseberangan dengan ruang keluarga, sedangkan 3 kamar lainnya berada di bagian luar dengan sebuah kolam renang terbuka berukuran sedang. Beberapa bench tersedia di tepi kolam, ditambah taman kecil yang membuat suasana semakin teduh dan menyejukkan.Dalam ruang utama vila ini ada sebuah dapur modern dengan kompor gas 3 tungku, serta berbagai peralatan memasak tersedia lengkap. Ditambah beberapa peralatan lain seperti microwave, penanak nasi, toaster, kulkas, mesin kopi hingga dispenser komplit dengan galon airnya. Meja makan dengan 8 kursi terletak di bagian tengah ruangan, televisi layar datar di seberang lain meja ini. Di sisi lainnya, sebuah sofa empuk dan meja kopi juga tersedia untuk bersantai. Salah satu sudut ruang utama vila. Kamar tidurnya pun ditata apik, dengan satu tempat tidur ukuran Queen, dan dibungkus kain kelambu. Dilengkapi dengan satu lemari pakaian finishing washed paint, ditambah pula meja kecil dan kursi kayu. Kamar mandi serta toilet terletak di balik dinding dengan konsep luar ruang. Tersedia pula pemanas air yang memadai untuk menyediakan air hangat untuk mandi. Amenitas seperti bath towel, pool towel hingga pernik toiletries pun lengkap tersedia.     Puas berkeliling, tentu saja saya langsung mencoba kolam renangnya bersama dengan yang lain. Sedangkan Bettam mulai sibuk dengan perlengkapan perangnya di dapur. Selama Nyepi, kegiatan kami hanya makan, minum, renang, tidur, ngobrol ngalur-ngidul, dan bermalas-malasan. Selama 3 hari 2 malam penuh kami benar-benar menikmati Nyepi. Cuaca yang sangat cerah menjadi bonus luar biasa tahun ini, karena pada Nyepi tahun sebelumnya hujan mengguyur tanpa henti selama 3 hari. Yang selalu dinanti saat Nyepi, Milky Way. Malam hari saat perayaan Nyepi begitu spesial karena tanpa adanya polusi cahaya, hamparan bintang di langit malam terlihat sangat jelas. Tak sabar rasanya menunggu gugusan Milky Way lewat di malam buta. Berulang kali kami menghitung munculnya shooting star yang melesat tiba-tiba. Gugusan bintang nampak tersebar, kelap kelipnya pun menambah kecantikan akan langit malam yang sesungguhnya.Semoga suatu hari nanti kami dapat mengulang waktu kembali, berkumpul bersama, menyepi bersama, dan memandang taburan bintang bersama.Yuk piknik! Peserta Nyepi kali ini: Bettam, Wulan, Praven, Aryo, Nia, dan Diki. Semua foto diabadikan oleh Diki Cahyo Gumelar 

Continue reading