jepun

Istana Taman Jepun

Istana Taman Jepun, Oase di Tengah Riuh Kota Denpasar

Ruang Terbuka Publik di Bali, khususnya Denpasar sebenarnya cukup banyak. Sebut saja Lapangan Niti Mandala Renon, Lapangan Puputan, Lapangan Lumintang hingga Taman Gong Perdamaian Kertalangu. Sayangnya, selama pandemi yang entah kapan usai ini, tempat-tempat tersebut lebih kerap ditutup untuk publik. Sudah pasti alasannya untuk meminimalisir potensi persebaran virus Covid-19.Untung saja, tepat di tengah kota Denpasar ada sebuah lokasi ruang terbuka hijau yang beroperasi. Namanya Istana Taman Jepun. Tempat ini menawarkan leganya ruang terbuka, lengkap dengan rimbun sejuk pohon-pohon Jepun Bali yang menjadi primadonanya. Beberapa tahun lalu, saat saya dan Bettam tengah mencari lokasi untuk mengadakan syukuran pernikahan kami, tempat ini menjadi salah satu yang masuk dalam incaran kami. Namun saat itu, isi tabungan kami belum cukup bersahabat untuk menggunakan tempat ini sebagai lokasi pilihan.Awalnya saya menyangka Istana Taman Jepun hanyalah open space yang khusus dipakai untuk penyelenggaraan acara-acara besar seperti gathering, syukuran pernikahan atau acara musik skala sedang. Rupanya saya tidak sepenuhnya benar. Taman yang terletak di jalur hijau kota ini ternyata juga terbuka sebagai tempat wisata dan rekreasi keluarga. Istana Taman Jepun yang berada di tengah keramaian Kota Denpasar. Jaraknya terhitung sangat dekat dengan tempat tinggal kami di Panjer. Masih satu kompleks lah boleh dibilang. Hampir setiap sore hari saya menghabiskan waktu di sana. Sebelum memasuki kawasan taman, setiap pengunjung diharuskan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Kemudian dilakukan pengecekan suhu tubuh oleh petugas yang berada di lobby. Maklumlah, di masa Adaptasi Kebiasaan Baru ini, prosedur kesehatan semacam ini jadi syarat mutlak yang diterapkan di fasilitas publik.Di balik lobi, saya disambut dengan sebuah kolam buatan yang cukup luas. Sebuah perahu ditambatkan di ujung sebelah timur. Beberapa ekor bebek dan 3 ekor Angsa Hitam langsung mencuri perhatian saya. Siapa sangka, unggas cantik yang sering saya lihat saya melalui film atau tayangan National Geographic itu bisa saya lihat di sini. Di pulau tropis seperti Bali ini pula.Beberapa lapangan rumput terbentang di setiap sisi. Jalan setapak dengan rerimbun pohon Jepun teduh menaungi sepanjang langkah menuntun. Bunga Jepun sendiri mempunyai makna sakral bagi masyarakat Hindu Bali. Karena itu banyak ditemukan bertebaran hampir di setiap tempat di Bali, dan banyak pula yang menanamnya di depan rumah mereka. Jepun merupakan lambang Dewa Siwa, yang sering digunakan untuk ritual sembahyang seperti diapit dengan dua telapak tangan. Kemudian setelah beribadah, Jepun ditajukan di atas kepala atau diselipkan di daun telinga. Bunga ini dipakai untuk menunjukkan kesucian hati saat memuja Sang Hyang Widi Wasa, oleh karena itu Jepun juga digunakan untuk isi upacara atau sesajen yang dipersembahkan kepada Tuhan maupun roh-roh para leluhur.Istana Taman Jepun mempunyai luas sekitar 2,5 hektar dengan koleksi sekitar 400 jenis pohon Kamboja alias Jepun. Di bagian depan kawasan terdapat sebuah restoran yang bisa digunakan untuk duduk-duduk santai sambil menyantap makanan maupun minuman segar. Namun, Istana Taman Jepun bukan hanya sebuah taman rekreasi saja. Disini banyak pula aktivitas luar ruangan yang bisa dilakukan sembari piknik di tengah kota. Jalan setapak dengan rerimbunan Bunga Jepun. Black Swan dan Danau BuatanSaya mulai menyusuri kawasan Istana Taman Jepun perlahan. Pertama saya disapa oleh 3 ekor angsa hitam, dan beberapa angsa putih yang sedang berenang dengan elok di kolam atau danau buatan. Tentu saja danau ini dikelilingi oleh pepohonan dan juga pohon Jepun. Beberapa meja dan kursi dari batu ceper ada di bagian tepi danau. Bisa digunakan untuk nongkrong sambil memberi makan angsa. Black Swan yang cantik nan anggun siap menemani santai disini. Lapangan GateballDi sisi lain danau, terdapat sebuah lapangan Gateball berstandar internasional yang sering digunakan untuk latihan para atlet maupun pengunjung yang ingin mencoba bermain olahraga tersebut. Olahraga yang disebut juga dengan bola gawang ini bisa dimainkan siapa saja, tanpa perbedaan umur. Bola dimainkan dengan cara digulirkan, dan pemain yang dibagi ke dalam tim harus memukul bola dengan palu selama 10 detik. Masing-masing tim berlomba untuk mengumpulkan skor terbanyak selama 30 menit permainan. Rerumputan yang seringkali dijadikan tempat untuk Gateball maupun acara lainnya. Santai di Antara Pohon-pohon JepunSemakin ke dalam Istana Taman Jepun, saya disambut pohon-pohon Jepun yang lebih rimbun dengan beragam warna Jepun yang menghiasinya. Mulai dari Jepun berwarna putih, kuning, merah muda, merah tua, maupun warna kombinasinya. Bagian ini merupakan tempat favorit saya untuk bersantai, menghirup udara segar sepuasnya. Ada beberapa bale bengong maupun bangku kecil yang bisa digunakan untuk bersantai. Spot favorit untuk berfoto dan bengong diantara Jepun warna-warni.  Lapangan Futsal, Area Panahan, dan Lempar PisauDi bagian paling belakang kawasan Istana Taman Jepun terdapat lapangan lainnya yang bisa digunakan untuk bermain futsal. Di sebelah lapangan terdapat sepetak tanah yanng sering digunakan berlatih oleh klub panahan, serta klub lempar pisau. Jika saya sedang tak ingin berjalan kaki memutar area taman, saya paling suka duduk di bawah pohon-pohon Jepun di sisi ini sembari menunggu Bettam bermain lempar pisau. Fun Wheels BaliYang terakhir saya temukan saat berjalan menyusuri Istana Taman Jepun adalah bermain pedal go-cart dan trampolin! Permainan ini dikelola oleh Fun Wheels Bali. Operator wahana ini memberikan jaminan keamanan faslitas berstandar Eropa, karena semua pedal go-cart diimpor langsung dari Belanda. Puas berjalan kaki, tentu saja saya mencoba salah satu pedal go-cart mereka untuk kembali berkeliling Istana Taman Jepun. Namun sayangnya saya tidak bisa mencoba trampolin, karena disediakan hanya untuk anak-anak saja. Tapi berkeliling taman rindang nan menyegarkan, siapa yang tak puas? Main pedal go-cart sambil nikmatin cantiknya bunga-bunga Jepun. Istana Taman Jepun berada di jalan Hayam Wuruk no. 104H, Kota Denpasar. Kalian bisa berkunjung kemari mulai pukul 09.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita untuk area tamannya, sedangkan restoran mereka buka sampai pukul 00.00 Wita. Sore hari merupakan waktu favorit saya untuk piknik kesini, karena sinar matahari tak lagi menyengat, dan bisa menikmati pohon-pohon Jepun sepuasnya saat momen golden hour tiba sebelum senja. Jika ingin lebih tahu tentang Istana Taman Jepun, kalian bisa mengikuti akun Instagram mereka: @istanatamanjepun .Yuk Piknik!     (Beberapa foto diabadikan oleh Calvin Damas Emil , dan saya lepas masker saat difoto saja. Sisanya tentu saja masker dipakai terus menerus disana.) 

Continue reading