kopi

Bhineka Djaja, Kopi, dan Obrolan yang Tak Pernah Habis

Januari 2020Sudah cukup lama saya tidak mampir ke tempat ini. Menikmati secangkir Cappuccino hangat di tengah hiruk pikuk lalu lintas sudut kota tua Denpasar. Ini jadi kali pertama di tahun yang baru, saya datang kembali ke kedai kopi ini.Tulisan kali terasa sangat spesial buat saya. Cerita ini saya anggap sebagai hutang lama yang baru bisa saya lunasi untuk sebuah tempat yang lebih dari 6 tahun telah menemani hari-hari saya saat masih menjadi wartawan sebuah harian nasional. Di tempat ini pula saya bertemu dengan banyak orang baru, sesama penggemar kopi yang kemudian menjadi kerabat dan sahabat.Awal pindah ke Kota Denpasar, saya dan Bettam yang juga penggemar kopi cukup kebingungan karena susah sekali mencari warung kopi. Sampai suatu hari, Nina, sepupu saya yang sudah lebih dulu pindah ke Bali berkata, “Kamu harus mampir ke Bhineka Djaja, tempat ngopi enak dan murah di Denpasar”. Pikir saya waktu itu, “Bhineka Djaja kan merek kopi, mosok ada tempat ngopinya”.    Letaknya berada di jajaran ruko-ruko Pecinan di pusat kota Denpasar. Bangunan-bangunan tua di kawasan ini sekarang dijadikan salah satu kawasan heritage Kota Denpasar, tepatnya di jalan Gajah Mada, Denpasar Utara. Jangan bayangkan kalo kedai kopi ini seindah coffee shop yang fancy macam di film Filosofi Kopi. Bangunannya adalah sebuah ruko dengan pilar bata berwarna terracotta. Di bagian luar ada beberapa meja bulat kecil dengan empat kursi, sementara di bagian dalam terdapat juga meja kayu dengan bangku yang muat untuk 2 orang di setiap sisinya. Di bagian sudut kanan, sebuah Nuova Simonelli betengger gagah di atas meja. Di sisi lain rak-rak besi berisi beragam varian kopi dalam kemasan tertata rapi. Sementara untuk membatasi pandangan dari sisi luar, dipasang rak pajang kaca yang diisi berbagai alat giling kopi manual, moka pot, kompor kecil untuk menyeduh kopi Syphon.Hampir setiap sisi dinding berpanel kayu yang dicat dengan warna coklat natural terpampang pigura-pigura dengan foto-foto, potongan koran tahun 90-an, serta beberapa lukisan dari kopi. Ada juga sebuah “alat giling kopi kuno” dengan wadah keramik warna putih gading bertuliskan ‘Cafe’ di antara pigura-pigura tadi. Beberapa orang staf yang sudah paruh baya sigap menyeduh kopi dan menyajikannya untuk para pelanggan. Yang kini bikin makin nyentrik, ada sebuah Vespa klasik tahun 1983 berwarna putih dilukis dengan apik dengan guratan warna coklat bertekstur kasar (belakangan saya diberitahu bahwa cat itu dibuat dari campuran bubuk kopi). Nah, jadi bayangkan, berkunjung ke Bhineka Djaja itu ibarat melompat ke dalam mesin waktu sembari melarutkan diri dalam buaian secangkir kopi.      Usaha kopi ini mulai dirintis sejak tahun 1935. Awalnya bermula sebagai pengepul biji kopi Bali yang kemudian diolah dan dijual dalam kemasan kiloan dengan merek Kupu-kupu Bola Dunia. Merek ini memang ibarat “mbah buyut-nya” kopi Bali. Bermula dari memperdagangkan kopi Bali, Bhineka Djaja mulai menambah barang dagangannya dengan menjual ragam kopi lain dari seantero Nusantara, misalnya kopi Papua, kopi Toraja, hingga kopi Sumatera. Ragam Arabika, Robusta hingga house-blend semua tersedia.    Kedai ini mulai buka pukul 09.00 Wita hingga tutup pukul 15.30 Wita. Kesan pertama saat mencicip kopi di Bhineka Djaja, saya langsung jatuh cinta. Rasa kopinya unik sekali. Kalau meminjam istilahnya Bettam “Roastingannya pas banget, robustanya bold tapi enggak pahit. Kopi arabika-nya juga berasa banget taste citrus-nya tapi engga terlalu asem”. Jadi tak heran jika tempat ini selalu ramai pengunjung. Hampir setiap hari saya datang untuk menikmati secangkir kopi di sini, berkenalan dengan orang-orang baru, om-om hingga bapak-bapak yang rasanya setiap hari pasti nongkrong di sini. Hingga suatu hari saya disapa oleh Wirawan Tjahjadi, yang akrab dipanggil Om Wewe, sang pemilik Bhineka Djaja.“Bagaimana kopinya? Kalau ada yang kurang bilang saja ya.”, ujarnya ramah.Selain kopi yang enak dan murah, kesederhanaan, kehangatan, serta keramahan Bhineka Djaja pun membuat saya takjub. Dari yang awalnya hanya menikmati satu cangkir kopi, lama-lama kemudian menikmati dua cangkir kopi dalam sekali kunjungan. Dari awalnya datang hanya sekitar satu jam menikmati kopi, lama-kelamaan selalu nongkrong dari siang hingga sore sampai toko tutup. Bahan obrolan tidak akan pernah habis. Mulai dari obrolan ringan dengan selingan canda tawa, hingga obrolan berat mulai dari bisnis sampai dengan politik.    Keramahan ini yang susah saya temukan di coffeeshop-coffeeshop lain. Di tempat lain, barista adalah jagoannya. Di sini lain cerita. Para pembelilah yang jadi jagoannya. Benar-benar warung kopi yang saya bayangkan, di mana ada obrolan hangat, candaan seru (yang kadang juga ngga mutu). Meski baru pertama datang, jangan sungkan untuk bergabung dengan pengunjung lainnya dan dijamin obrolan pun akan terus mengalir tanpa henti. Kerapkali Om Wewe menyapa para pengunjung dan ikut duduk ngobrol dengan mereka. Di waktu lain yang tak terduga, suatu kali Om Wewe pernah menawarkan secangkir kopi Luwak yang harganya selangit di coffeeshop di hotel berbintang for FREE alias gratis. Opo yo ngga ajaib kedai kopi ini. Selalu ada saja bahan untuk bercanda atau mengobrol bersama, hingga rasanya waktu benar-benar berjalan lambat di sini.Sudah 6 tahun lebih dan Bhineka Djaja masih menjadi tempat ngopi favorit saya dan (mungkin) tak tergantikan. Sungguh, mesin waktu itu bernama Bhineka Djaja.Yuk piknik!  Bersama Om Wewe, pemilik Bhineka Djaja.

Continue reading

FOLLOW @ INSTAGRAM