pecatu

Pantai Impossible Uluwatu, Bali.

Menanti Senja di Pantai Impossible

Kira-kira 3 bulan lebih saya berusaha berkompromi dengan segala kondisi pandemi dan sebisa mungkin tetap diam di rumah. Sejak akhir Maret, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sembari menjalankan Dapur Joni besama Bettam. Hingga beberapa hari lalu, sebuah ajakan random untuk menikmati senja di pantai mencuat dengan spontan. Tentu saja pantai yang ingin saya tuju harus sepi dan masih bisa diakses. Karena semenjak pandemi Covid-19 menerpa, hampir semua objek wisata termasuk pantai di Bali ditutup aksesnya untuk umum.Saya mengirim pesan singkat kepada Galih, seorang kawan yang memang belum pernah muncul di laman manapun dalam blog ini. Gayung pun bersambut. Saya, Galih, Febian, bersiap berangkat saat sepasang kawan lainnya; Anggey dan Kevin, memberi kabar kalau mereka akan turut serta. Kami pun memilih Pantai Impossible yang berada di daerah Bukit Ungasan, Uluwatu.Tak tahu siapa yang pertama menyematkan nama “Impossible”, namun karena memang letak pantai ini begitu tersembunyi di balik tebing kapur Bukit Ungasan dan sukar ditemukan, mungkin memang tepat menyandang nama “Tidak Mungkin”. Ditambah lagi jika air laut sedang pasang dan ombak cukup kencang, makin tidak mungkin lah kita turun hingga ke bibir pantai.Dengan pertimbangan “ketidakmungkinan” itu, maka logika saya, pantai ini pasti tidak banyak pengunjung. Benar saja, begitu kami tiba setelah meniti anak tangga di sisi tebing kapur, pantai dengan ombak yang sangat tenang dan nyaris tanpa pengunjung lain sudah menyambut. Persis beberapa saat sebelum mentari senja bergaya di barat cakrawala. Pemandangan Pantai Impossible dari atas tebing. Seperti halnya dengan pantai-pantai lain yang bersembunyi di balik bukit-bukit kapur Ungasan, Pantai Impossible ini ibarat pantai pribadi. Terlebih dengan adanya beberapa villa megah dan resort mewah yang gagah di puncak bukit, Pantai Impossible lebih mirip dengan pantai pribadi akomodasi-akomodasi tersebut. Tapi ya namanya Anak Piknik Masa Kini, cukup pinter lah saya menemukan jalan tersembunyinya. Warga sekitar yang siap menangkap ikan. Saya dan Galih langsung mencari tempat paling nyaman untuk bersantai. Febian, Anggey, dan Kevin sigap memanfaatkan senja yang syahdu untuk menangkap gambar lewat kamera masing-masing. Sore itu air Pantai Impossible sedang surut-surutnya, langit juga sedang cerah- cerahnya. Selain kami, hanya ada beberapa pengunjung saja yang ada di pantai, para pemburu ombak yang sedang berselancar di kejauhan, dan juga warga sekitar yang akan memancing ikan.Karena ombak sangat tenang, tepi pantai yang berbatu karang dan berpasir putih ini seperti kolam renang saja. Setelah menemukan tempat untuk menaruh barang-barang, kami bergegas berganti baju dan berlari ke pantai untuk berendam. Setelah tiga bulan lebih berdiam di rumah, memendam hasrat piknik sore, momen sore ini terasa sangat, sangat……sangat istimewa! Pantai Impossible yang memukau I. Pantai Impossible yang memukau II. Sambil berendam, kami bertukar cerita tentang pengalaman selama #dirumahaja, berfoto, bercerita lagi, berfoto lagi. Hingga golden hour tiba. Mentari yang beranjak pulang mengubah rona cakrawala dari biru yang cerah menjadi jingga, berubah emas sebelum gelap menabur selubungnya. Pemburu ombak di Pantai Impossible. Sunset di Pantai Impossible. Bagi saya, senja itu candu. Berkali-kali menikmatinya tak pernah bosan. Suasananya selalu terasa menenangkan, menghangatkan jiwa yang lelah, seperti mengajari untuk merelakan segala sesuatu yang yang harus terganti. Well, sebuah sore yang luar biasa. Meski hanya sebentar, namun sore ini rasanya cukup menjadi pengobat rindu. Rindu kepada kawan, rindu kepada laut, rindu kepada senja. Semoga pandemi ini segera berakhir, dan semua kembali seperti semula.Anyway, kalau kalian penasaran seperti apa sih sore yang kami habiskan waktu itu, sila mampir di kanal YouTube-nya Febian ini –> Walking with Febian .Yuk piknik! Bersama Kevin, Anggey, dan Galih. Sedangkan Febian sedang merekam video di sisi yang lain. (Foto oleh Galih) Langit senja yang semakin memesona sebelum malam gelap datang. 

Continue reading