sunset bali

Piknik Sore New Normal di Pura Luhur Uluwatu

Iklim pariwisata Bali pelan-pelan mulai bangkit. Setelah tertidur panjang sejak akhir Maret lalu, beberapa destinasi wisata yang telah melalui proses verifikasi diijinkan untuk buka dan beroperasi kembali. Meski bayang-bayang suram pandemi Covid-19 belum sirna, para penggiat pariwisata mulai bergeliat. Mematutkan diri dengan segala protokol kesehatan yang menjadi syarat untuk beroperasi kembali. Salah satunya adalah Objek Wisata Pura Luhur Uluwatu.Sekitar pukul 15.00 Wita, saya sampai di tujuan. Kali ini saya melepas sore bersama Sugianto Shu; seorang kawan yang bekerja sebagai fotografer profesional, yang kebetulan mempunyai tugas untuk mengumpulkan beberapa footage video dan foto di tempat-tempat wisata di Bali. Suasana kali ini terasa cukup berbeda, kesan sunyi tak dapat dihindari. Sebelum memasuki kawasan pura, kami diharuskan memakai masker, dan diminta untuk mencuci tangan terlebih dahulu di tempat yang sudah disediakan. Kami melangkahkan kaki menuju pintu masuk kawasan luar pura dan diharuskan untuk melakukan pengecekan suhu tubuh. Jika hasil pengecekan dianggap tidak melebihi batas yang ditetapkan, baru kami dipersilakan untuk membeli tiket, dan diingatkan untuk selalu jaga jarak sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku. Tentu saja pesan yang selalu diulang setiap datang ke tempat ini adalah: hati-hati membawa barang karena banyak monyet usil dengan sejuta rasa penasaran yang siap menyambar barang-barang bawaanmu!Jalan berpaving memasuki kawasan pura sangat-sangat sepi. Bisa dibilang saat itu tidak ada turis lain yang berkunjung selain kami berdua. Memang ada beberapa warga yang ingin melakukan sembahyang ke pura, selain beberapa penjaga yang dengan ramah mengganggukkan kepala sebagai sebuah gestur sapaan. Sungguh terasa aneh, tempat yang biasanya ramai pengunjung kali ini begitu sunyi. Di beberapa titik bahkan terasa lebih mencekam. Begitu terasa dampak dari pandemi Covid-19 hingga sekarang. Patung Kumbakarna yang berada di Pura Luhur Uluwatu. Tangga menuju Pura Luhur Uluwatu yang selalu ramai pengunjung, kini sepi. Selain sebagai tempat ibadah umat Hindu Bali, pura ini juga menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan yang berlibur ke Bali. Berlokasi di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Pura Luhur Uluwatu terletak di atas bukit karang dengan ketinggian sekitar 97 meter dari permukaan laut. Pura ini dipercaya oleh umat Hindu Bali sebagai penyangga dari 9 mata angin. Dalam bahasa Sansekerta, kata “Ulu” bermakna ujung, atas, atau puncak. Sedangkan Watu berarti batu. Nama Pura Luhur Uluwatu dapat diartikan sebagai tempat suci yang dibangun di puncak batu karang.Kami berdua berjalan perlahan dalam diam menuju pintu masuk utama pura. Sesekali langkah kami terhenti untuk mengambil foto maupun merekam gambar. Entah berapa kali kami mengulang ucapan “Sepi sekali ya” saking sepinya tempat ini. Menapaki tangga pelan-pelan, hingga sampai di pintu masuk pura kami langsung disapa sang bapak penjaga.“Siang, dek. Mohon maaf, selain yang ingin sembahyang tidak diperbolehkan masuk ke dalam area pura. Kalau mau ambil gambar bisa dari pintu ini ya, saya bukakan. Sama hati-hati kacamatanya kalau diambil sama monyet.”, ujarnya dengan keramahan yang sangat khas.Kami berdua menganggukkan kepala dengan santun dan menyunggingkan senyum. Tapi siapa yang tahu kalau kami tersenyum, wong muka kami tertutup masker. Shu langsung mengambil beberapa video yang dia butuhkan, sementara saya memilih untuk duduk-duduk santai menikmati angin sepoi-sepoi sambil sesekali mengingatkan Shu yang berkacamata untuk hati-hati jika ada monyet mendekat.Setelah merasa cukup mengambil gambar di sekitar pura, kami bergeser ke arah bagian tepi tebing. Keindahan sisi tebing ini telah memikat jutaan pasang mata, pesonanya seperti sihir dengan tebing tinggi menjulang, berlatarkan lautan lepas Samudra Hindia ada di depan mata. Sembari menunggu Shu merekam gambar, saya menikmati pemandangan ini sepuasnya. Biasanya jalan setapak bagian tepi tebing ini selalu penuh dengan pengunjung. Namun kali ini benar-benar kosong. Menyedihkan sebenarnya, namun di saat yang bersamaan kami juga merasa lega karena bisa menikmati Pura Luhur Uluwatu yang damai sepuasnya tanpa harus berdesakan dengan tamu-tamu lainnya. Pemandangan tebing menjulang di Uluwatu. Syahdunya lamunan saya dibuai keindahan tebing Uluwatu mendadak buyar saat teriakan Shu terdengar cukup kencang.“JANGAN DONG. AKU NGGAK BISA LIHAT NANTI!!…”Saya bergegas menghampirinya. Rupanya seekor monyet usil tak mampu membendung rasa penasaran dan sukses merampas paksa kacamata Shu. Sungguh saya kasihan melihat anak ini. Sudahlah itu badan kerempeng, kacamata pun harus dirampas si monyet. Namun justru saya tak mampu menahan tawa melihatnya (maaf ya, Shu :p). Pelan-pelan Shu mendekati si monyet sembari membujuknya untuk mengembalikan kacamata, sedangkan saya bergegas meminta bantuan bapak penjaga. Meskipun sudah sangat berhati-hati dan selalu diingatkan oleh para penjaga pura, masih kecolongan oleh si monyet. Mungkin ini pertanda kami akan mendapat keberuntungan? Atau memang sedang sial saja ya?Akhirnya kacamata Shu bisa didapatkan kembali setelah si monyet diiming-imingi dengan makanan oleh bapak penjaga. Karena kapok dan takut diambil lagi, Shu memilih melepas kacamatanya dan mengambil gambar dengan jarak dekat agar masih tetap kelihatan. Monyet liar yang kadang usil di Uluwatu. Kami lanjut menyusuri jalan setapak, hingga sampai di sisi lain dari kawasan Pura Luhur Uluwatu yang ditumbuhi pepohonan lebat. Meski sudah beberapa kali datang ke sini, saya malah belum pernah menjelajah area di bagian ini. Pohon-pohon rimbun tinggi menjulang, dengan hiasan Bunga Kertas atau Bougainvillea merah jingga di sepanjang jalan setapak menambah keindahan kawasan pura. Hutan kecil ini disebut dengan Alas Kekeran, yang berfungsi sebagai penyangga kesucian pura. Hingga sekarang, hutan ini tetap dibiarkan lestari dan menjadi tempat tinggal oleh ratusan monyet liar.Tak berani lebih jauh berjalan karena takut akan monyet-monyet usil lainnya dan juga hari sudah sangat sore, kami kembali mengambil gambar dari sisi yang lain sambil ditemani seorang penjaga dan….kali ini seekor anjing putih yang selalu mengikuti ke manapun kami berjalan. Jalan setapak tepi tebing Uluwatu yang kosong. Anjing putih sang penjaga. Sudah cukup mengambil stok video dan foto, kami kembali menuju lokasi utama pura untuk menikmati tenggelammnya sang surya. Tepi tebing di dekat panggung terbuka menjadi pilihan kami untuk kembali merekam gambar. Panggung terbuka ini biasanya digunakan untuk pertunjukkan Tari Kecak yang menawan, karena langsung berlatarkan senja emas dan lautan luas. Suasana yang benar-benar berbeda kembali terasa. Loket tiket pertunjukkan Tari Kecak Uluwatu yang nyaris tak pernah sepi, kini kosong melompong tanpa ada antrian yang mengular. Panggung terbuka untuk pertunjukan pun kosong dan masih tertutup rapat.Kami berdua berbincang santai, sambil menunggu senja. Hingga beranjak petang, langit perlahan mulai berubah warna. Mentari berwarna kuning keemasan pun turun pelan-pelan, siap kembali ke peraduannya. Senja di Uluwatu yang berbeda, namun terasa sangat spesial bagi saya. Tak ada riuh suara penari Kecak, atau sorak sorai penonton. Tak ada hiruk pikuk turis yang takjub dan sibuk mengabadikan momen matahari terbenam. Hanya sayup-sayup terdengar Puja Tri Sandhya bersama deburan ombak yang mengucap salam kepada senja.Sebuah penutup perjalanan saya dan Shu yang menakjubkan. Kami pun bergegas pulang sebelum semakin gelap. Sembari terus saling memberi semangat untuk menguatkan.Bagi kalian yang ingin berkunjung ke kawasan Pura Luhur Uluwatu, sudah dibuka sekarang. Dan tentunya harus tetap memperhatikan protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak ya.Yuk piknik! Semburat matahari senja sebelum tenggelam di tepi tebing Uluwatu. Golden Hour di Alas Kekeran (Difotoin oleh Shu). Senja menawan di Pura Luhur Uluwatu (Difotoin oleh Shu juga). 

Continue reading

FOLLOW @ INSTAGRAM