travel

Gunung Batur

Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Batur

Setiap perjalanan pasti ada yang pertama kalinya dilakukan dan dirasakan. Pertama kali pergi ke luar kota, pertama kali pergi ke pantai, pertama kali piknik ke cagar budaya, pertama kali masuk museum, pertama kali mencoba camping, maupun pertama kali mendaki gunung. Bagi saya pribadi, pengalaman yang pertama selalu berkesan dan membekas. Baik yang susah, sedih, atau yang membuat tertawa terbahak-bahak.Seperti akhir minggu lalu yang saya lakukan bersama Nina, Moory, dan si kecil Bentala. Kami mendaki salah satu puncak tertinggi di Bali, Gunung Batur. Bagi kedua sepupu saya yang sudah sering naik gunung, perjalanan kali ini terasa mudah. Sedangkan saya, kondisinya tak semudah itu. Satu-satunya gunung yang pernah saya daki hingga puncak adalah Gunung Bromo bertahun-tahun silam. Persoalan lain yang menambah kekhawatiran saya adalah sejak Pandemi Covid-19 merajalela, makin jarang gerak atau berolahraga. Sungguh saya bayangkan, ajakan untuk mendaki Gunung Batur bakalan jadi sebuah perjalanan seru sekaligus (sangat, sangat, sangat!) melelahkan. Jadi setelah menguatkan tekad, dan mempertimbangkannya sungguh-sungguh dengan nurani yang tulus, saya putuskan untuk turut mendaki ke Gunung Batur. Inilah pertama kalinya saya naik Gunung Batur setelah hampir 8 tahun tinggal di Bali. Jangan tanya bagaimana perasaan saya, deg-degan, takut, excited, semuanya campur aduk menjadi satu. Gunung Batur di ketinggian 1.717 mdpl. Jumat malam kami bertolak dari Denpasar menuju Kintamani. Karena Bentala pun turut serta, maka kami memilih bermalam di salah satu penginapan di sana. Bagi saya pilihan ini adalah yang paling tepat, setidaknya agar dapat mengistirahatkan badan dengan layak, sebelum menjawab tantangan mendaki Gunung Batur. Esoknya, sekitar pukul 04.00 dini hari kami sudah bersiap untuk berjalan pelan dari penginapan. Dinginnya Kintamani kala itu terasa tak begitu menusuk tulang, angin bertiup perlahan saja, tak kencang. Beruntung cuaca cukup cerah dan tidak tertutup mendung. Saya sudah berpikir macam-macam jika nanti hujan, bakal lebih sulit lagi untuk mendaki.Ada beberapa pilihan jalur pendakian Gunung Batur. Kami memilih jalur Toya Bungkah yang paling dekat dengan lokasi penginapan. Sebelum sampai di start point pendakian, kami berhenti sebentar di dekat sebuah pura desa sambil menunggu rombongan teman-teman Moory yang akan ikut serta. Setelah berkumpul semua, kami memulai pendakian yang tentu saja diawali dengan doa bersama.Langkah kaki mulai saya gulirkan perlahan. Semangat menaklukkan gagahnya Gunung Batur yang semula berkobar-kobar, terasa pelan-pelan meredup. Nasib. Bahkan belum sampai di titik awal pendakian, napas saya terasa mulai ngos-ngosan. Hingga akhirnya kami sampai di titik start point pendakian Toya Bungkah yang sebenarnya. Beberapa bapak paruh baya warga setempat menawarkan ojek untuk naik sampai mendekati puncak.“Apa pula ini? Saya mau mendaki gunung, bukan membonceng ojek! Sorry, mental saya tak sekrupuk itu!”, gerutu saya dalam hati, meski setengah hati yang lain ingin mengiyakan jasa baik si bapak pengemudi ojek. Eh, lha kok Nina dan Moory kompak sekali menggoda:“Natsky mau naik ojek? Nggak sayang po belum pernah naik Gunung Batur tapi nggak ngerasain jalan kaki sampai puncak?”Cih! Sorry ya… saya pilih jalan kaki. Dengan bulat hati dan tekad yang berusaha saya sugesti namun seakan tak bergeming dari godaan jasa baik “Si Bapak Ojek Gunung” saya putuskan SAYA MAU HIKING JALAN KAKI SAMPAI PUNCAK!Dengan ketinggian 1.717 mdpl, banyak yang bilang bahwa jalur pendakian Gunung Batur ini cukup (ingat, cukup, bukan sangat!) mudah. Meskipun begitu, bagi saya yang lumayan lama tak berolahraga dan belum pernah naik gunung sebenarnya, pendakian ini seperti ajang pembuktian bahwa naik gunung ‘is not that hard’. Bukannya saya anti naik gunung, hanya saja lebih memilih berjalan kaki di tanah datar, mendaki bukit kecil, maupun naik turun tangga ke pantai. Tapi kalau bukan sekarang mendaki gunung, kapan lagi?Moory mulai memimpin untuk melanjutkan hiking. Saya (dengan sadar diri) memilih jadi orang paling akhir dalam rombongan.“Supaya kalian jalannya santai dan nggak terganggu lah”, begitu kira-kira dalih saya. Padahal sebenarnya biar bisa ambil napas kalau lelah makin merongrong tekad. Untung saja Nina dan tiga teman Moory setia menunggu saya yang berkali-kali berhenti untuk istirahat dan mengatur langkah lagi. Matahari mulai nampak di sela-sela pendakian. Satu jam berlalu begitu saja. Tenaga mulai terasa berkurang drastis. Berjalan sebentar, kemudian berhenti atur napas lagi. Dalam beberapa kali berhenti, tak jarang terlintas harapan ‘Si Bapak Ojek Gunung’ melintas sambil menawarkan lagi jasanya. Asli, momen-momen ini sungguh membuat saya merasa sangat-sangat jompo dan renta. Sampai Pak Matius, salah satu teman Moory yang menemani di belakang mencarikan dahan pohon untuk membantu mendaki. Nina pun dengan setia memberi semangat dan menunggu. Akhirnya saya kembali berjalan pelan, hingga semburat kuning-oranye matahari terlihat di sisi kiri pendakian. Dalam hati, wah sudah sunrise dan belum sampai puncak. Padahal salah satu yang diagung-agungkan adalah pemandangan sunrise di puncak Gunung Batur.Hingga akhirnya kami berhenti lagi di pos pendakian dengan sebuah warung yang tutup untuk menikmati matahari terbit. Saya sendiri tidak tahu ini pos berapa, hanya langsung duduk, minum sedikit air untuk penawar dahaga, dan terdiam. Pemandangan sunrise yang magis persis ada di depan mata. Dengan warna kekuningan sempurna di balik puncak gunung, dan berlatar awan-awan putih menggumpal. Tak lama kemudian kami mengeluarkan teknologi tercanggih abad ini; ponsel dan kamera, tentu saja untuk mengabadikannya. Sunrise Gunung Batur yang magis. Bersama Nina dan Pak Matius yang setia menemani di barisan paling belakang. Setelah dirasa cukup mengumpulkan tenaga, kami lanjut hiking. Matahari mulai meninggi, jaket dan baju sudah basah bersimbah keringat. Meskipun angin dingin masih berhembus sesekali. Hingga akhirnya saya, Nina, Moory bersama Bentala, dan Pak Matius sampai di pos terakhir. Pak Matius langsung duduk dan berencana untuk tidak melanjutkan sampai puncak. Saya sendiri sedang diuji, lanjut atau menyerah.Nina dengan seringai tawa ejekan mautnya langsung bertanya, “Ayo, mau sampai puncak atau sini saja? Tinggal sedikit lagi tuh puncaknya sudah kelihatan yang ada warung juga”.“Sebentar… sebentar… sebentar…”, sahut saya dengan tak begitu jelas karena bercampur dengan napas yang makin tak teratur. Kondisi fisik saya benar-benar diuji. Lutut sudah lemas sekali, kaki berasa tak bisa berjalan lagi, jantung sudah berdetak kencang dengan napas pendek-pendek. Sambil mengatur napas pelan-pelan dan berpikir, sembari dua tangan bertumpu pada tongkat dahan pohon. Sudah sampai sini mau nyerah gitu aja? Akhirnya dengan sisa-sisa tenaga yang ada, saya memaksa kaki untuk melangkah lagi, dan berujung kami semua melanjutkan perjalanan sampai puncak.Sudah bisa diduga, saya pasti yang terakhir sampai puncak gunung setelah lebih dari 3 jam mendaki. Dan benar saja. Begitu menapakkan kaki di puncak, semuanya sudah duduk manis di sebuah warung sambil bersorak sorai menyambut saya. Akhirnya benar-benar sampai, dan belum pernah terbayangkan sebelumnya. Terharu? Iya! Senang? Tentu saja! Setelah sekian lama akhirnya saya benar-benar mendaki gunung dan sampai puncak! Mereka yang sudah bersantai di puncak saat saya tiba. Wajah sumringah dan ngos-ngosan di puncak Gunung Batur. Bersama Bentala di gendongan Moory dan Nina. Memang benar kata pepatah ‘the best view comes after the hardest climb’. Berada di puncak gunung, saya hanya duduk menikmati pemandangan sembari ditemani mi instan dan kopi susu yang masih panas mengepul. Beberapa kali mengarahkan kamera untuk mengabdikan gambar yang belum pernah saya lihat langsung sebelumnya. Sambil sesekali berbincang dengan teman-teman lainnya, maupun bermain dengan Bentala. Sebahagia ini ternyata rasanya sampai dan berada di puncak gunung.Semua lelah dan tenaga yang terkuras habis, terbayarkan dengan pemandangan menakjubkan. Sejauh mata memandang, rumah-rumah pemukiman terlihat kecil diantara lembah gunung, berlatarkan langit biru dengan kabut yang sesekali lewat terbawa angin. Saya tak lagi berjalan mengeksplor puncak Gunung Batur, benar-benar hanya di satu spot saja saya menikmatinya. Di atas gunung ini pula, saya merasa kecil sebagai manusia dibandingkan dengan alam yang luar biasa besar nan indah. Sama halnya ketika kita sedang mengarungi lautan luas. Memang benar adanya bahwa kita jangan macam-macam dengan alam, jangan merusaknya, dan harus tetap terus menjaganya.Cukup lama kami berada di puncak, hingga tak terasa matahari semakin meninggi dan suasana pun semakin sepi. Kami memutuskan untuk turun sebelum semakin siang dan tak tahan akan teriknya matahari. Sama dengan ketika naik, bagi saya turun juga bukan perkara mudah. Saya terus mengikuti arahan Nina dan Moory yang ada di depan, mencari pijakan yang tepat agar tidak terpeleset jatuh ke bawah. Sambil sesekali menikmati pemandangan pohon-pohon menjulang dan ilalang yang tak terlihat saat kami mendaki subuh tadi.Yuk piknik!

Continue reading

Camping Bertabur Bintang di Danau Tamblingan

“Weekend ini kalian mau jalan-jalan kemana?” Pertanyaan yang cukup sering dilontarkan kepada saya dan Bettam. Meski sudah menikah, kami berdua…

Continue reading

Camping Seru di Bukit Sari

Pagi itu suasana di ruang kamar saya sudah mulai riuh. Diantara celoteh saling mengingatkan agar barang-barang tak tertinggal, ditambah…

Continue reading

Menghabiskan Waktu di Kota Medan Bisa Piknik Kemana Saja?

Usai pesta pernikahan menakjubkan ala Batak dan melihat kemegahan Danau Toba, kami harus melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Medan. Sayang memang, namun kami tak punya waktu yang lama untuk menjelajah Sumatra Utara. Ditambah lagi Bettam dan Mba Nian yang pekerja kantoran tak punya cuti banyak.Pagi hari kami sudah berada di pool Paradep, menunggu kendaraan yang akan membawa kami balik ke Medan. Hari ini kami punya waktu hingga malam hari, sebelum terbang meninggalkan Sumatra Utara.Saya ingat perjalanan pagi itu tak banyak yang kami lakukan. Kecuali tidur. Iya, kami menyadari dengan usia yang tak lagi belia, tak ada tenaga sisa-sisa yang bisa berlarian kesana kemari. Sehari penuh mengikuti acara pernikahan ditambah dua hari perjalanan, lelahnya bukan main. Membuat kami nggak ngoyo buang-buang tenaga lagi.Menjelang tengah hari, kami sudah sampai di Kota Medan. Sama dengan kota-kota besar lainnya, Medan pun ramai, panas, dan macet di beberapa titik jalan raya. Turun di pool Paradep, kami langsung memesan taksi online. Lapar, kami butuh makan. Bettam yang penggila babi pun langsung mengarahkan pesanan taksi online ke warung BPK (lagi! Hahahahaha). I. Graha Santa Maria Annai VelangkanniSudah kenyang, tenaga terisi penuh, lanjut jalan lagi kita. Destinasi pertama yang kita kunjungi adalah Graha Santa Maria Annai Velangkanni. Sebuah Gereja Katolik dengan arsitektur khas Indo-Mughal serta menyerupai sebuah kuil Hindu. Memasuki gerbang utamanya, saya sudah terkagum-kagum dengan keindahan bangunannya. Gereja ini terdiri dari kombinasi warna coklat, abu-abu, dan merah, pagoda di bagian atasnya, serta dua tangga berkelok-kelok di bagian depan. Cantik sekali!   Dibangun pada tahun 2005, gereja ini didesain oleh Pastor James Bharataputra S.J. Dia mempunyai visi untuk membuat Graha Maria menjadi sebuah tempat dimana semua orang dari berbagai ras, agama, kaya, maupun miskin dapat menyebutnya rumah untuk mencari kedamaian, penyembuhan, pelipur lara, dan juga mendekatkan diri dengan Tuhan. Oleh karena itu, bangunan ini tidak ada ciri khas Katolik khusus yang terlihat. Semua orang diperbolehkan datang dan masuk ke dalam gereja ini, siapapun itu.Sambil memandang takjub, saya berkeliling pelan melihat gereja ini. Tak hanya bangunan utama saja yang menarik perhatian saya. Disini juga terdapat patung-patung orang dari berbagai ras dan budaya Indonesia di salah satu dinding gereja yang melambangkan kesatuan diantara umat Tuhan. Patung-patung ini juga sebagai simbol bahwa setiap orang selalu disambut disini, terlepas dari latar belakang iman maupun budaya mereka. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah gereja ini menyematkan salam maria dalam berbagai bahasa di bangunannya.   II. Istana MaimunDari Graha Santa Maria Annai Velangkanni, kami melanjutkan persinggahan berikutnya yaitu Istana Maimun. Banyak yang bilang belum sah rasanya ke Medan kalau belum mampir ke tempat ini. Bangunan ini memang menjadi salah satu ikon Kota Medan dan juga saksi bisu jayanya Kesultanan Deli pada zaman dahulu.Istana ini dibangun pada tahun 1887 silam oleh Sultan Deli yang memindahkan ibu kota dari Kota Labuhan ke Medan. Dengan luas tanah 4,5 hektar dan bangunan seluas 2.700 meter persegi, istana ini dibangun dengan paduan beragam gaya arsitektur seperti Timur Tengah, Arab Saudi, dan Eropa.  Sayangnya saat kami berkunjung kesini, sedang ada pembongkaran beberapa tenda di halaman istana usai acara. Sehingga halaman istana terlihat sedikit berantakan dan kotor. Kami pun tak lama berada disini, karena sudah semakin sore dan kami harus segera menuju ke bandara.Saatnya pulang, saatnya kembali ke kesibukan sehari-hari. Terima kasih Sumatra Utara atas kehangatan, keramahan, dan keindahan dalam perjalanan kami.Yuk piknik!

Continue reading

Pertama Kali ke Sumatra Utara, Tak Lupa Berkunjung ke Danau Toba

Horas!Setelah menempuh perjalanan cukup panjang (yang tentunya berbekal tiket murah dari Denpasar), akhirnya saya dan Bettam menginjakkan kaki di tanah Sumatra Utara. Perjalanan kali ini sekaligus dalam rangka menghadiri kondangan sepupu, Nina & Moory, calon suaminya yang orang Batak tulen. Selain itu, jalan-jalan tentu menjadi agenda wajib kami saat bepergian ke tempat yang baru.Setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Kualanamu, kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Pematangsiantar menggunakan bus Paradep yang mudah ditemukan di pintu luar bandara. Selama perjalanan darat, kami berencana untuk tidur sebentar menyimpan tenaga, namun sayangnya sopir antar kota di Medan ini sedikit lebih ngawur dibandingkan di pulau Jawa. Dengan mata terus terbuka serta perut dikocok melewati jalanan yang kadang rata dan kadang tidak, akhirnya kami sampai di Pematangsiantar 3 jam kemudian.Kami langsung menuju penginapan yang sudah dipesan sebelumnya. Saya ingat waktu itu masih sore hari. Kami turun di pangkalan Paradep, kemudian lanjut menggunakan taksi online. Sembari menunggu taksi online datang, saya menikmati keramaian pusat kota Pematangsiantar dikala sore hari. Sama seperti kota-kota lainnya di Jawa maupun Bali, disini pun tak kalah ramai orang hilir mudik. Ada yang duduk-duduk santai menikmati sore, ada yang pulang dari rumah atau sekolah, dan juga angkutan-angkutan umum yang ngetem di salah satu sudut kota. Satu hal yang paling khas dari kota ini adalah adanya Bentor atau becak motor yang menggunakan motor Birmingham Small Arm (BSA). Yang bikin Bettam bengong terkagum-kagum terus memandanginya tanpa henti (namanya juga laki-laki ya kan…).Selama di Pematangsiantar, kami tidak banyak mengeksplor tempat-tempat piknik. Kami hanya sempat mampir ke warung BPK (babi panggang karo) untuk mengobati lapar yang sudah tak tertahan. Kemudian kami hanya santai di penginapan saja, bersiap untuk acara pernikahan keesokan harinya.Selain ini pertama kalinya kami menginjakkan kaki di Pulau Sumatra maupun Pematangsiantar, ini juga pertama kalinya kami mengikuti pernikahan secara adat Batak dari awal hingga akhir. Benar-benar menakjubkan! Kita diajak untuk benar-benar berpesta bersukacita atas terlaksananya pernikahan ini dengan iringan musik dan tarian selama seharian penuh. Benar-benar hari yang melelahkan, namun kami semua sangat bahagia.Keesokan harinya, petualangan baru dimulai. Setelah mengantarkan rombongan keluarga besar yang akan pulang lebih dulu ke Jawa, saya, Bettam, Mba Nian, dan Mas Agung berkendara menuju Danau Toba. Setelah 1,5 jam perjalanan santai dengan kendaraan pribadi, akhirnya kami sampai di Parapat, salah satu akses menuju danau terluas di Indonesia ini.   Pelan-pelan langit mendung mulai merayap ke arah kami. Tanpa berpikir lebih lama lagi, kami langsung bergabung dengan kapal penumpang yang akan membawa kami semua ke Pulau Samosir. Naik kapal ini kami cukup membayar Rp10.000,- per orang dengan perjalanan bolak-balik kembali ke Parapat.Tak berselang lama setelah kami masuk, kapal mulai berjalan pelan membelah perairan Danau Toba yang saat itu tenang sekali. Tiba-tiba langit gelap sudah di depan mata, gerimis pelan pun datang. Membuat suasana di Danau Toba semakin syahdu.Danau Toba merupakan danau berkawah dengan luas sekitar 1.130 kilometer persegi, yang diperkirakan terbentuk setelah letusan gunung api sekitar 73.000 – 75.000 tahun lalu. Oleh karena itu danau ini ditempatkan sebagai danau terluas di Asia Tenggara dan terbesar kedua di dunia. Danau ini mempunyai kedalaman sekitar 450 meter dan termasuk danau terdalam di dunia. Di bagian tengah danau terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Samosir yang luasnya sekitar 630 kilometer persegi. Danau dan pulau ini merupakan keindahan alam yang belum terjamah, tak heran jika menjadi tujuan wisata sejak lama.   Sebelum merapat ke Samosir, sang nakhoda kapal mengajak kami untuk melihat Batu Gantung di salah satu tepi Danau Toba. Batu ini merupakan legenda cerita rakyat tentang seorang gadis cantik yang bunuh diri karena akan dinikahkan oleh ayahnya dengan naborunya. Calon suaminya ini seorang laki-laki bodoh dan berasal dari keluarga yang kaya. Akhirnya gadis tersebut melarikan diri dan memutuskan terjun dari tepi jurang bersama dengan anjing kesayangannya. Pada saat terjun, rambut gadis ini tersangkut di salah satu pepohonan yang tumbuh di tepi jurang. Hingga tubuhnya tergantung saja disana bersama dengan anjingnya, dan menjadi batu hingga sekarang.  Kapal melaju kembali dan kami pun sampai di dermaga Tomok, sebuah kampung wisata di Samosir. Kami turun dari kapal dan membayar retribusi Rp3.000,- per orang. Kami berkeliling sebentar disini. Dari dermaga, kami masuk ke dalam sebuah pasar yang menjajakan makanan maupun oleh-oleh khas Danau Toba seperti kain Ulos, kaos, maupun pernak-pernik lainnya.  Semakin masuk ke dalam, kami menjumpai Kawasan Kampung Batak dengan rumah adat yang khas dan dilengkapi dengan boneka sigale-gale. Disini kita bisa ikut menari tor-tor atau tarian sigale-gale, lengkap dengan menggunakan pakaian khas Batak. Kami sendiri tidak ikut mencoba menari, hanya menikmati pertunjukkan tersebut sambal berkeliling melihat rumah adat.  Tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah komplek makam Raja Sidabutar berumur sekitar lebih dari 460 tahun. Raja ini merupakan manusia pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Samosir. Sebelum memasuki kawasan makam, kami diminta untuk mengenakan ulos yang diletakkan di atas bahu untuk menjaga kesopanan. Konon, jika kita melanggar aturan tersebut, sang raja akan menghampiri kita melalui mimpi.Perlahan masuk ke dalam makam, kami langsung disambut dengan makam batu yang tertata rapi dengan ornamen warna merah, putih, dan hitam. Makam sang raja ini terbuat dari batu utuh tanpa sambungan yang dipahat. Selain itu, makam ini juga tidak dikubur dalam tanah, melainkan diletakkan di atas permukaan tanah.Keunikan lainnya dari makam ini adalah dihiasi oleh sebuah simbol, bukan dihiasi oleh batu nisan. Ada gambar lukisan kepala besar yang melambangkan Raja Sidabutar, lalu ada ukiran kepala lebih kecil di bagian ujung satunya yang melambangkan makam permaisuri atau Boru Damanik. Disamping itu, terdapat juga ukiran laki-laki yang ada di bagian bawah kepala raja merupakan simbol dari Panglima Guru Saung Lang Meraji. Tak hanya mereka saja, semua keturunan dan ajudan sang raja juga dimakamkan disini.    Tak terasa waktu semakin sore dan mendung kembali datang menghantui kami. Waktunya untuk pulang, sebelum hujan lebat. Kami segera beranjak menuju dermaga Tomok, masuk ke dalam kapal yang sudah menunggu kami. Tapi sebelum itu, tentu saja mampir untuk beli buah tangan sebagai kenang-kenangan. Jalo asi das jumpa, Toba!Yuk piknik!

Continue reading

Tips Packing untuk Traveler Pemula

Traveling sekarang ini sudah menjadi bagian dari kebutuhan bagi generasi milenial. Baik backpacker, luxury tourist ataupun flashpacker, ketiganya memerlukan…

Continue reading