wisata bali

Terbuai Keindahan Pantai Pura Geger

Selepas memarkirkan sepeda motor, saya berdiri di tepi tebing. Angin laut membelai wajah… Selepas memarkirkan sepeda motor, saya berdiri di tepi tebing. Angin laut membelai wajah…

Continue reading

Piknik Sore New Normal di Pura Luhur Uluwatu

Iklim pariwisata Bali pelan-pelan mulai bangkit. Setelah tertidur panjang sejak akhir Maret lalu, beberapa destinasi wisata yang telah melalui proses verifikasi diijinkan untuk buka dan beroperasi kembali. Meski bayang-bayang suram pandemi Covid-19 belum sirna, para penggiat pariwisata mulai bergeliat. Mematutkan diri dengan segala protokol kesehatan yang menjadi syarat untuk beroperasi kembali. Salah satunya adalah Objek Wisata Pura Luhur Uluwatu.Sekitar pukul 15.00 Wita, saya sampai di tujuan. Kali ini saya melepas sore bersama Sugianto Shu; seorang kawan yang bekerja sebagai fotografer profesional, yang kebetulan mempunyai tugas untuk mengumpulkan beberapa footage video dan foto di tempat-tempat wisata di Bali. Suasana kali ini terasa cukup berbeda, kesan sunyi tak dapat dihindari. Sebelum memasuki kawasan pura, kami diharuskan memakai masker, dan diminta untuk mencuci tangan terlebih dahulu di tempat yang sudah disediakan. Kami melangkahkan kaki menuju pintu masuk kawasan luar pura dan diharuskan untuk melakukan pengecekan suhu tubuh. Jika hasil pengecekan dianggap tidak melebihi batas yang ditetapkan, baru kami dipersilakan untuk membeli tiket, dan diingatkan untuk selalu jaga jarak sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku. Tentu saja pesan yang selalu diulang setiap datang ke tempat ini adalah: hati-hati membawa barang karena banyak monyet usil dengan sejuta rasa penasaran yang siap menyambar barang-barang bawaanmu!Jalan berpaving memasuki kawasan pura sangat-sangat sepi. Bisa dibilang saat itu tidak ada turis lain yang berkunjung selain kami berdua. Memang ada beberapa warga yang ingin melakukan sembahyang ke pura, selain beberapa penjaga yang dengan ramah mengganggukkan kepala sebagai sebuah gestur sapaan. Sungguh terasa aneh, tempat yang biasanya ramai pengunjung kali ini begitu sunyi. Di beberapa titik bahkan terasa lebih mencekam. Begitu terasa dampak dari pandemi Covid-19 hingga sekarang. Patung Kumbakarna yang berada di Pura Luhur Uluwatu. Tangga menuju Pura Luhur Uluwatu yang selalu ramai pengunjung, kini sepi. Selain sebagai tempat ibadah umat Hindu Bali, pura ini juga menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan yang berlibur ke Bali. Berlokasi di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Pura Luhur Uluwatu terletak di atas bukit karang dengan ketinggian sekitar 97 meter dari permukaan laut. Pura ini dipercaya oleh umat Hindu Bali sebagai penyangga dari 9 mata angin. Dalam bahasa Sansekerta, kata “Ulu” bermakna ujung, atas, atau puncak. Sedangkan Watu berarti batu. Nama Pura Luhur Uluwatu dapat diartikan sebagai tempat suci yang dibangun di puncak batu karang.Kami berdua berjalan perlahan dalam diam menuju pintu masuk utama pura. Sesekali langkah kami terhenti untuk mengambil foto maupun merekam gambar. Entah berapa kali kami mengulang ucapan “Sepi sekali ya” saking sepinya tempat ini. Menapaki tangga pelan-pelan, hingga sampai di pintu masuk pura kami langsung disapa sang bapak penjaga.“Siang, dek. Mohon maaf, selain yang ingin sembahyang tidak diperbolehkan masuk ke dalam area pura. Kalau mau ambil gambar bisa dari pintu ini ya, saya bukakan. Sama hati-hati kacamatanya kalau diambil sama monyet.”, ujarnya dengan keramahan yang sangat khas.Kami berdua menganggukkan kepala dengan santun dan menyunggingkan senyum. Tapi siapa yang tahu kalau kami tersenyum, wong muka kami tertutup masker. Shu langsung mengambil beberapa video yang dia butuhkan, sementara saya memilih untuk duduk-duduk santai menikmati angin sepoi-sepoi sambil sesekali mengingatkan Shu yang berkacamata untuk hati-hati jika ada monyet mendekat.Setelah merasa cukup mengambil gambar di sekitar pura, kami bergeser ke arah bagian tepi tebing. Keindahan sisi tebing ini telah memikat jutaan pasang mata, pesonanya seperti sihir dengan tebing tinggi menjulang, berlatarkan lautan lepas Samudra Hindia ada di depan mata. Sembari menunggu Shu merekam gambar, saya menikmati pemandangan ini sepuasnya. Biasanya jalan setapak bagian tepi tebing ini selalu penuh dengan pengunjung. Namun kali ini benar-benar kosong. Menyedihkan sebenarnya, namun di saat yang bersamaan kami juga merasa lega karena bisa menikmati Pura Luhur Uluwatu yang damai sepuasnya tanpa harus berdesakan dengan tamu-tamu lainnya. Pemandangan tebing menjulang di Uluwatu. Syahdunya lamunan saya dibuai keindahan tebing Uluwatu mendadak buyar saat teriakan Shu terdengar cukup kencang.“JANGAN DONG. AKU NGGAK BISA LIHAT NANTI!!…”Saya bergegas menghampirinya. Rupanya seekor monyet usil tak mampu membendung rasa penasaran dan sukses merampas paksa kacamata Shu. Sungguh saya kasihan melihat anak ini. Sudahlah itu badan kerempeng, kacamata pun harus dirampas si monyet. Namun justru saya tak mampu menahan tawa melihatnya (maaf ya, Shu :p). Pelan-pelan Shu mendekati si monyet sembari membujuknya untuk mengembalikan kacamata, sedangkan saya bergegas meminta bantuan bapak penjaga. Meskipun sudah sangat berhati-hati dan selalu diingatkan oleh para penjaga pura, masih kecolongan oleh si monyet. Mungkin ini pertanda kami akan mendapat keberuntungan? Atau memang sedang sial saja ya?Akhirnya kacamata Shu bisa didapatkan kembali setelah si monyet diiming-imingi dengan makanan oleh bapak penjaga. Karena kapok dan takut diambil lagi, Shu memilih melepas kacamatanya dan mengambil gambar dengan jarak dekat agar masih tetap kelihatan. Monyet liar yang kadang usil di Uluwatu. Kami lanjut menyusuri jalan setapak, hingga sampai di sisi lain dari kawasan Pura Luhur Uluwatu yang ditumbuhi pepohonan lebat. Meski sudah beberapa kali datang ke sini, saya malah belum pernah menjelajah area di bagian ini. Pohon-pohon rimbun tinggi menjulang, dengan hiasan Bunga Kertas atau Bougainvillea merah jingga di sepanjang jalan setapak menambah keindahan kawasan pura. Hutan kecil ini disebut dengan Alas Kekeran, yang berfungsi sebagai penyangga kesucian pura. Hingga sekarang, hutan ini tetap dibiarkan lestari dan menjadi tempat tinggal oleh ratusan monyet liar.Tak berani lebih jauh berjalan karena takut akan monyet-monyet usil lainnya dan juga hari sudah sangat sore, kami kembali mengambil gambar dari sisi yang lain sambil ditemani seorang penjaga dan….kali ini seekor anjing putih yang selalu mengikuti ke manapun kami berjalan. Jalan setapak tepi tebing Uluwatu yang kosong. Anjing putih sang penjaga. Sudah cukup mengambil stok video dan foto, kami kembali menuju lokasi utama pura untuk menikmati tenggelammnya sang surya. Tepi tebing di dekat panggung terbuka menjadi pilihan kami untuk kembali merekam gambar. Panggung terbuka ini biasanya digunakan untuk pertunjukkan Tari Kecak yang menawan, karena langsung berlatarkan senja emas dan lautan luas. Suasana yang benar-benar berbeda kembali terasa. Loket tiket pertunjukkan Tari Kecak Uluwatu yang nyaris tak pernah sepi, kini kosong melompong tanpa ada antrian yang mengular. Panggung terbuka untuk pertunjukan pun kosong dan masih tertutup rapat.Kami berdua berbincang santai, sambil menunggu senja. Hingga beranjak petang, langit perlahan mulai berubah warna. Mentari berwarna kuning keemasan pun turun pelan-pelan, siap kembali ke peraduannya. Senja di Uluwatu yang berbeda, namun terasa sangat spesial bagi saya. Tak ada riuh suara penari Kecak, atau sorak sorai penonton. Tak ada hiruk pikuk turis yang takjub dan sibuk mengabadikan momen matahari terbenam. Hanya sayup-sayup terdengar Puja Tri Sandhya bersama deburan ombak yang mengucap salam kepada senja.Sebuah penutup perjalanan saya dan Shu yang menakjubkan. Kami pun bergegas pulang sebelum semakin gelap. Sembari terus saling memberi semangat untuk menguatkan.Bagi kalian yang ingin berkunjung ke kawasan Pura Luhur Uluwatu, sudah dibuka sekarang. Dan tentunya harus tetap memperhatikan protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak ya.Yuk piknik! Semburat matahari senja sebelum tenggelam di tepi tebing Uluwatu. Golden Hour di Alas Kekeran (Difotoin oleh Shu). Senja menawan di Pura Luhur Uluwatu (Difotoin oleh Shu juga). 

Continue reading
Pantai Impossible Uluwatu, Bali.

Menanti Senja di Pantai Impossible

Kira-kira 3 bulan lebih saya berusaha berkompromi dengan segala kondisi pandemi dan sebisa mungkin tetap diam di rumah. Sejak akhir Maret, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sembari menjalankan Dapur Joni besama Bettam. Hingga beberapa hari lalu, sebuah ajakan random untuk menikmati senja di pantai mencuat dengan spontan. Tentu saja pantai yang ingin saya tuju harus sepi dan masih bisa diakses. Karena semenjak pandemi Covid-19 menerpa, hampir semua objek wisata termasuk pantai di Bali ditutup aksesnya untuk umum.Saya mengirim pesan singkat kepada Galih, seorang kawan yang memang belum pernah muncul di laman manapun dalam blog ini. Gayung pun bersambut. Saya, Galih, Febian, bersiap berangkat saat sepasang kawan lainnya; Anggey dan Kevin, memberi kabar kalau mereka akan turut serta. Kami pun memilih Pantai Impossible yang berada di daerah Bukit Ungasan, Uluwatu.Tak tahu siapa yang pertama menyematkan nama “Impossible”, namun karena memang letak pantai ini begitu tersembunyi di balik tebing kapur Bukit Ungasan dan sukar ditemukan, mungkin memang tepat menyandang nama “Tidak Mungkin”. Ditambah lagi jika air laut sedang pasang dan ombak cukup kencang, makin tidak mungkin lah kita turun hingga ke bibir pantai.Dengan pertimbangan “ketidakmungkinan” itu, maka logika saya, pantai ini pasti tidak banyak pengunjung. Benar saja, begitu kami tiba setelah meniti anak tangga di sisi tebing kapur, pantai dengan ombak yang sangat tenang dan nyaris tanpa pengunjung lain sudah menyambut. Persis beberapa saat sebelum mentari senja bergaya di barat cakrawala. Pemandangan Pantai Impossible dari atas tebing. Seperti halnya dengan pantai-pantai lain yang bersembunyi di balik bukit-bukit kapur Ungasan, Pantai Impossible ini ibarat pantai pribadi. Terlebih dengan adanya beberapa villa megah dan resort mewah yang gagah di puncak bukit, Pantai Impossible lebih mirip dengan pantai pribadi akomodasi-akomodasi tersebut. Tapi ya namanya Anak Piknik Masa Kini, cukup pinter lah saya menemukan jalan tersembunyinya. Warga sekitar yang siap menangkap ikan. Saya dan Galih langsung mencari tempat paling nyaman untuk bersantai. Febian, Anggey, dan Kevin sigap memanfaatkan senja yang syahdu untuk menangkap gambar lewat kamera masing-masing. Sore itu air Pantai Impossible sedang surut-surutnya, langit juga sedang cerah- cerahnya. Selain kami, hanya ada beberapa pengunjung saja yang ada di pantai, para pemburu ombak yang sedang berselancar di kejauhan, dan juga warga sekitar yang akan memancing ikan.Karena ombak sangat tenang, tepi pantai yang berbatu karang dan berpasir putih ini seperti kolam renang saja. Setelah menemukan tempat untuk menaruh barang-barang, kami bergegas berganti baju dan berlari ke pantai untuk berendam. Setelah tiga bulan lebih berdiam di rumah, memendam hasrat piknik sore, momen sore ini terasa sangat, sangat……sangat istimewa! Pantai Impossible yang memukau I. Pantai Impossible yang memukau II. Sambil berendam, kami bertukar cerita tentang pengalaman selama #dirumahaja, berfoto, bercerita lagi, berfoto lagi. Hingga golden hour tiba. Mentari yang beranjak pulang mengubah rona cakrawala dari biru yang cerah menjadi jingga, berubah emas sebelum gelap menabur selubungnya. Pemburu ombak di Pantai Impossible. Sunset di Pantai Impossible. Bagi saya, senja itu candu. Berkali-kali menikmatinya tak pernah bosan. Suasananya selalu terasa menenangkan, menghangatkan jiwa yang lelah, seperti mengajari untuk merelakan segala sesuatu yang yang harus terganti. Well, sebuah sore yang luar biasa. Meski hanya sebentar, namun sore ini rasanya cukup menjadi pengobat rindu. Rindu kepada kawan, rindu kepada laut, rindu kepada senja. Semoga pandemi ini segera berakhir, dan semua kembali seperti semula.Anyway, kalau kalian penasaran seperti apa sih sore yang kami habiskan waktu itu, sila mampir di kanal YouTube-nya Febian ini –> Walking with Febian .Yuk piknik! Bersama Kevin, Anggey, dan Galih. Sedangkan Febian sedang merekam video di sisi yang lain. (Foto oleh Galih) Langit senja yang semakin memesona sebelum malam gelap datang. 

Continue reading

UC Group Company Bali Berikan Pengalaman Wisata Lengkap Lewat Konsep One Stop Destination

Traveling sudah menjadi bagian dari gaya hidup masa kini. Bisa dengan mengeksplor tempat baru, menghabiskan waktu dengan orang terdekat, atau hanya sekedar ingin beristirahat dari kesibukan sehari-hari. Pilihannya pun sangat banyak, mulai dari wisata alam, wisata budaya, hingga ada pula trend yang disebut wisata belanja. Meski saya senang sekali mengeksplor tempat-tempat baru yang bernuansa alam, tak jarang saya ingin menikmati pengalaman jalan-jalan ke tempat-tempat yang cukup nyaman namun tetap berkesan. Beruntunglah, kali ini saya berkunjung ke UC Silver Gold, Museum Naga Sanga Amurwabhumi dan UC Restaurant, Café & Bakery yang merupakan member of UC Group Company. Tempat yang berada di Jalan Raya Batubulan, Gianyar ini menawarkan pengalaman wisata lengkap dalam satu areal. Salah satu “one stop destination” paling unik yang saya kunjungi.Tak salah jika banyak yang menyangka UC Silver Gold adalah galeri perhiasan, karena bisnis inilah yang menjadi mula UC Group Company berdiri. Namun selain galeri perhiasan, tempat ini juga memiliki berbagai fasilitas pelengkap lainnya. Bangunannya pun megah dan artistik. Ukiran capung dan ornamen sulur putih dengan aksen berwarna emas, menjadi ciri khas UC Silver Gold yang membuatnya dapat ditemukan dengan mudah. Tenang saja, berkunjung ke sini tidak perlu bayar. Kecuali jika ingin ke museum, maka tiap orang dikenakan tiket masuk. Salah satu bangunan artistik di UC. Naga Sanga AmurwabhumiSelepas memarkirkan kendaraan, saya memilih untuk masuk ke bangunan museum terlebih dahulu karena tempatnya berada di bagian paling depan. Memasuki museum, saya disambut ruangan megah berwarna natural dengan langit-langit tinggi. Persis di bagian tengah ruangan, terdapat karya The Masterpiece Naga Sanga Amurwabhumi sebuah patung naga raksasa berkepala sembilan yang terbuat dari perak. Patung ini berhasil memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai patung perak terberat dan terbesar di Indonesia. Karya ini terbuat dari 720 kilogram perak yang diusung oleh 18 buah patung manusia.Karya yang digagas oleh I Nyoman Eriawan ini dikerjakan selama 5 tahun karena kerumitan dalam karya seni ini sangat tinggi. Selain itu angka 9 juga mempunyai makna sebuah kebersamaan di dalam kehidupan. Di kalangan masyarakat Hindu Bali, angka 9 juga kerap dihubungkan sebagai pengider-ider atau sembilan arah mata angin. Maka tak berlebihan jika museum ini diberi nama Naga Sanga Amurwabhumi, karena mempunyai kesesuaian dengan apa yang ada di dalamnya. Dengan tiket masuk museum Rp 125.000,- per orang dan gratis untuk pengunjung usia 0 – 5 tahun, kita sudah dapat menikmati keberagaman seni kriya khas Bali di museum ini.   The Masterpiece Naga Sanga Amurwabhumi tepat berada di tengah-tengah museum. Informasi setiap koleksi dapat diakses di perangkat tablet yang tersedia.  Di samping itu, kentalnya budaya Bali dapat kita nikmati juga lewat berbagai barang seni yang berbentuk perlengkapan sembahyang Bali, perhiasan yang dikenakan oleh para pendeta Hindu Bali dalam setiap upacara, senjata khas Bali, serta puluhan dekorasi khas Bali yang biasa dipasang di rumah, pura, maupun tempat-tempat lainnya. Beragam manekin yang mengenakan pakaian adat pengantin dari berbagai daerah di Indonesia serta patung hewan juga menjadi koleksi museum ini. UC Silver GoldPerjalanan saya berlanjut ke UC Silver Gold, sebuah galeri dua lantai yang menjual beragam perhiasan khas UC. Sweet Dragonfly adalah merek dagang UC Silver Gold secara resmi, melambangkan filosofi hidup Capung yang memiliki semangat untuk hidup dan menjadi manfaat bagi mahluk hidup lainnya. Dengan memiliki koleksi perhiasan Sweet Dragonfly, UC Silver Gold ingin menularkan semangat mencintai alam sebagai tempat tinggal dan berlangsungnya kehidupan semua mahkluk. Berbagai koleksi UC Silver Gold tersedia di sini.   Satu lagi yang membuat produk-produk di UC Silver Gold menarik adalah semua desain yang dibuat berbeda satu dengan lainnya. Keunikan ini karena semua perhiasan dibuat handmade satu persatu oleh para pengrajin. Harga perhiasan di UC Silver Gold bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga ratusan juta tersedia di sini. Makin unik lagi karena saya bisa melihat langsung proses pengolahan perak & emas hingga menjadi perhiasan di workshop Silver Class mereka yang terbuka untuk umum. Seru bukan? Tempat pembuatan perhiasan UC Silver Gold yang terbuka untuk umum.     UC Restaurant Café & BakeryPuas melihat proses pembuatan perhiasan perak & emas, saya beranjak menuju UC Restaurant Café & Bakery yang berada di lantai 3. Lagi-lagi saya kagum dibuatnya. Beberapa meja kursi dengan berwarna kayu natural tertata dengan sangat rapi. Pilar-pilar kayu besar dengan ujung serupa payung menyangga atap dengan kokoh, ditambah suara gemericik air kolam dan ujung-ujung tanaman berbunga yang ditingkahi hembusan angin. Benar-benar menyejukkan!  UC Restaurant Café & Bakery yang luas dan sejuk banget.  UC Restaurant Café & Bakery ini mengusung konsep family restaurant dengan menawarkan makanan dan minuman tradisional klasik yang disajikan dalam presentasi modern. Harga makanan dan minuman di sini relatif terjangkau, mulai dari Rp 10.000,- hingga Rp 150.000,- saja. Salah satu menu andalan yang saya rekomendasikan adalah Bebek Tungku. Masakan daging bebek yang diolah dengan rempah-rempah asli Indonesia. Selain itu, saya juga mencicipi Nasi Campur Spesial. Menu ini adalah salah satu menu baru yang ditawarkan oleh UC Restaurant Café & Bakery, terdiri dari pilihan 2 jenis nasi, 2 jenis sayur, 2 jenis lauk, 2 jenis menu pendamping, kerupuk, serta aneka sambal dengan harga Rp 20.000,- nett per orang. Murah bukan? Tak lupa juga saya menikmati minuman dingin untuk pelepas dahaga di tengah terik Pulau Bali. Bebek Tungku & Nasi Campur Spesial.   UC Restaurant Café & Bakery dapat menampung hingga 300 orang sekaligus. Tersedia pula ruang serbaguna bernama Balakosa Room dengan kapasitas hingga 150 orang, dan Abinaya Room yang memiliki kapasitas hingga 40 orang. Kedua ruangan tersebut bisa digunakan untuk berbagai acara mulai dari meeting, wedding, maupun gathering. Salah satu ruang serbaguna di UC Restaurant. UC Coffee Shop by UC Restaurant Café & BakeryMasih ada satu lagi kejutan yang ada di UC Silver yaitu UC Coffee Shop by UC Restaurant Café & Bakery yang berada di lantai 1. Sesuai namanya UC Coffee Shop menyajikan pilihan kopi Nusantara, minuman dingin, snack, kue kering, hingga kue basah. Sebagai penggemar kopi, sudah selayaknya saya mencoba kopi di UC Coffee Shop. Sepotong Cheese cake dan es kopi susu saya pilih sebagai senjata pamungkas dalam kunjungan ke UC Silver kali ini. Sebelum pulang, menikmati segarnya es kopi susu UC dulu. Lengkaplah sudah perjalanan saya ke UC Silver Gold, Museum Naga Sanga Amurwabhumi dan UC Restaurant, Café & Bakery yang merupakan member of UC Group Company kali ini. Benar-benar sebuah pengalaman yang sangat lengkap. Sungguh tak berlebihan jika menyebut UC sebagai One stop Destination yang menawarkan pengalaman wisata memuaskan, nyaman dan juga nikmat. Dengan lengkapnya fasilitas yang disediakan oleh UC, tempat ini sangat tepat untuk bermacam acara, seperti kumpul keluarga, arisan, perayaan ulang tahun, wedding, gathering, business meeting bahkan romantic dinner dengan pasangan. Ditambah lagi, keunikan desain eksterior dan interiornya pun sangat pas untuk dijadikan lokasi pemotretan. Jadi, jangan bingung memilih destinasi saat berwisata di Bali. Tinggal datang ke UC Silver Gold dan nikmati pengalaman wisata terlengkap di satu tempat.Yuk piknik! UC GROUP COMPANYUC SILVER GOLD | MUSEUM NAGA SANGA AMURWABHUMI | UC RESTAURANT CAFE & BAKERYJl. Raya Batubulan Gg. Candrametu No. 01 Batubulan, Gianyar – Bali 80582Mobile            : 085 331 520 165Phone             : 0361 – 461511 / 0361 461512Fax                  : 0361 – 461512Website          : www.uc-silver.com  Semua foto diabdikan oleh Calvin Damas Emil   

Continue reading

Jalan-jalan Sehari ke Air Terjun Tibumana

Hari ini puas sekali rasanya bermain air di Tukad Cepung (Menyimak Sunyi di Balik Deru Air Terjun Tukad Cepung). Suasana yang masih alami dan tidak terlalu ramai berhasil kami abadikan dengan lewat tangkapan kamera. Sesuai itinerary yang sudah kami susun, kami akan melanjutkan perjalanan ke obyek berikutnya yaitu Air Terjun Tibumana.Beruntung jarak dari Tukad Cepung menuju Tibumana tidak terlalu jauh. Sekitar 30 menit hingga 45 menit perjalanan santai, kami pun tiba di Air Terjun Tibumana yang berada di Desa Apuan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli. Awan mendung terlihat mulai bergelayut di kejauhan. Turun dari mobil, kami segera bergegas menuju loket tiket dan membayar retribusi Rp15.000,- per orang.Berbeda dengan Tukad Cepung sebelumnya yang masih cukup sepi saat kami datang, di Air Terjun Tibumana terlihat area tempat parkir sudah penuh dengan kendaraan. Ya namanya juga piknik ke tempat yang sedang naik daun, harap maklum jika memang ramai pengunjung. Jembatan kayu pertama yang kami lewati. Jembatan kayu kedua. Dari loket tiket, kami mulai melangkah perlahan. Jalur menuju air terjun hampir semuanya sudah berupa jalan atau tangga beton, sedikit berbeda dengan Tukad Cepung yang masih dominan jalan tanah. Senangnya lagi, selama perjalanan kami ditemani dengan rimbunnya pepohonan di kanan-kiri tangga. Lalu melewati sebuah jembatan kayu yang sederhana tapi aman. Sekitar 15 menit berjalan, kami pun sampai tepat di depan Air Terjun Tibumana.Sudah banyak orang yang berendam maupun duduk-duduk di pinggir menikmati suasana alamnya. Sayangnya air berwarna kecoklatan karena memang sedang musim hujan sehingga airnya agak bercampur dengan tanah. Air Terjun Tibumana mempunyai tinggi kurang dari 20 meter yang mengalir dari sungai di bagian atasnya. Air terjun ini sering disebut juga dengan air terjun kembar karena terdapat dua aliran air yang berdampingan. Namun saat saya sampai disana hanya ada satu saja yang mengalir deras. Di bagian depan air terjun terdapat sebuah kolam yang tidak terlalu dalam sehingga aman untuk berenang atau berendam. Air terjun Tibumana yang ramai pengunjung. Di belakang air terjun terdapat sebuah lubang yang menganga cukup besar. Konon kabarnya lubang ini dulunya sebuah gua yang dipercaya sebagai jalan menuju Pura Goa Raja Besakih. Namun tidak saya sarankan untuk masuk ke dalam maupun berenang dekat dengan air terjun karena tempat ini rawan longsor. Untung saja ada penjaga air terjun yang memberikan tanda larangan dan menegur pengunjung yang masih ngeyel bermain dekat dengan air terjun maupun bagian tanah yang rawan longsor.Saya langsung mencari posisi “pewe” untuk menikmati suasana air terjun dari tepi. Sedangkan Tasya sudah bersiap untuk berendam.“Fotoin aku dong di depan air terjun.”, cetus Tasya.Saya pun bergegas mencari angle kamera yang terbaik. Untung saja pengunjung hari ini sadar wisata, jadi meski peminat foto cukup ramai namun mereka tertib antri bergantian untuk berfoto di depan air terjun, termasuk Tasya. Agak berbeda dengan kunjungan kami sebelumnya ke air terjun Tukad Cepung yang sedikit rebutan untuk berfoto ria.Di depan air terjun juga terdapat sebuah gazebo yang bisa digunakan untuk bersantai. Bahkan di sampingnya pun sungai kecil mengalir tenang, menambah suasana sejuk disana. Di sebelah gazebo ada ruang ganti serta loker penitipan barang. Tenang, ada bapak penjaganya kok. Tempat sampah pun disediakan di sana, jadi jangan buang sampah sembarangan ya. Sungai kecil di dekat gazebo Tibumana. Tak berselang lama, gerimis perlahan menitik. Untungnya sudah puas menikmati Air Terjun Tibumana dan saatnya untuk melanjutkan perjalanan.Yuk piknik! Tanaman dan patung yang tertata cantik di sepanjang jalan setapak Tibumana. 

Continue reading

Menyimak Sunyi di Balik Deru Air Terjun Tukad Cepung

Beberapa hari sebelum tahun 2019 berakhir, Calvin yang akan mudik ke Yogyakarta berkirim pesan singkat lewat WhatsApp, “Kamu kira-kira sedang sibuk nggak? Ada Tasya, teman kita satu kampus sedang di Bali, tolong ditemani jalan-jalan ya.” Padat, jelas, dan susah banget untuk ditolak. Beberapa hari kemudian, saya akhirnya bersua dengan Tasya untuk menentukan akan piknik kemana. Saking banyaknya tempat piknik di Bali ini, akhirnya kami memilih untuk berkunjung ke Air Terjun Tukad Cepung dan Air Terjun Tibumana. Dua air terjun tersohor di Kabupaten Bangli. Mengingat Bali sedang ramai-ramainya liburan akhir tahun dan juga cuaca yang tidak menentu, kadang panas menyengat, kadang juga mendadak mendung serta hujan, piknik ke air terjun kami pikir merupakan pilihan yang pas. Pagi hari kami sudah memulai perjalanan menuju Tukad Cepung. Dengar-dengar air terjun itu sudah ramai pengunjung sejak sering masuk dalam postingan Instagram para traveler. Jadi saya usulkan untuk berangkat pagi dari Denpasar agar sesampainya di sana, kami masih bisa menikmati suasana sepuasnya. Air terjun ini terletak di Dusun Penida Kelod, Tembuku, Kabupaten Bangli dan bisa ditempuh sekitar 1,5 jam perjalanan dari Denpasar. Sesampainya di lokasi, beberapa tempat sudah diubah menjadi lebih baik dan lebih rapi, berbeda dengan dua tahun lalu pertama kali saya kesini. Tempat parkir yang luas sudah tersedia sekarang. Lalu ada tulisan nama objek wisata, sebagai tanda jalan masuk ke air terjun. Kami pun langsung membeli tiket masuk seharga Rp15.000,- per orang, kemudian mulai menuruni beberapa anak tangga. Trekking pun dimulai dari loket tiket masuk turun menuju air terjun. Di jalur ini saya pun kaget, sekarang sudah banyak penjaja makanan, minuman, hingga oleh-oleh khas Bali. Padahal dulu hanya ada satu warung saja yang menjual makanan dan minuman ringan. Kami terus berjalan santai sambil sesekali senyum kepada mereka yang menjajakan dagangannya. Belum juga sampai ke air terjun, masa sudah belanja hehehehe. Sekitar 15 – 20 menit melewati jalur trekking tangga beton dan jalan setapak, kami disambut dengan sungai kecil yang sangat jernih. Segarnya udara dan angin sepoi-sepoi menemani kami. Hingga sampai di tangga menurun terakhir menuju air terjun.       Sampai di bawah, kami ambil jalan ke kiri. Di sini pemandangan yang tersaji benar-benar sangat asri, dengan bebatuan tinggi di kanan kiri, ditambah pancaran sinar matahari menembus sela-selanya. Pelan-pelan sambil sesekali berhenti menikmati pemandangan. Mencapai air terjun, kami masih berjalan hingga menemukan batu besar yang menutup jalur. Kami harus masuk melalui celah batu tersebut, dan Tukad Cepung yang tersembunyi pun terlihat di depan mata. Air terjun ini mempunyai ketinggian sekitar 15 meter dengan latar dinding padas yang terukir datar dan langsung mengalir ke dalam sungai kecil di depannya. Hanya beberapa orang saja disana. Berangkat pagi-pagi menuju kesini merupakan pilihan yang tepat. Namun sayangnya, 5 menit kemudian berbondong-bondong orang datang memenuhi lokasi air terjun. Dan tentu saja semuanya antri hanya untuk berfoto ria. Debit air di Tukad Cepung sedang tinggi, sehingga air yang turun pun deras sekali. Meskipun sedang berdiri agak jauh dari air terjun, sekujur tubuh kami tetap saja basah. Harap hati-hati jika sedang membawa kamera atau ponsel untuk berfoto disini, karena bisa basah terkena percikan air.       Puas menikmati kesegaran Air Terjun Tukad Cepung dan mengabadikan momen bersama Tasya, kami pun beranjak. Melanjutkan perjalanan menuju air terjun berikutnya, Tibumana.   Yuk piknik!            

Continue reading