Weekend Escape ke Bukit Campuhan

Sudah cukup lama saya tidak berkunjung ke Ubud pagi-pagi buta. Terakhir kalinya jalan kesana menjelang matahari terbit sekitar 2016 lalu. Rindu memang. Apalagi sekarang teman seperjalanan di Bali sedang sibuk dengan beragam aktivitas, mau kesana sendiri berasa sepi. Tapi pada dasarnya memang saya kurang suka untuk jalan-jalan sendiri sih, berasa seperti orang hilang arah dan tujuan (aseeekkk).

Akhirnya Minggu lalu Wulan, seorang teman yang belum lama tinggal di Bali mengajak kabur sejenak dari rutinitas sehari-hari. Setelah berpikir-pikir beberapa tempat piknik yang enak untuk seharian leha-leha, terpilihlah Ubud.

Setelah mengajak beberapa keluarga maupun sahabat lainnya, sekitar pukul 05.00 Wita kami berempat, saya beserta Wulan, Nina, dan Moory, bersiap berangkat menuju Ubud dari Denpasar. Kali ini tujuan utama kami hanya ke Bukit Campuhan. Menyapa sang mentari dari bukit tersohor di Ubud tersebut.

Sesampainya disana, untungnya tidak banyak orang yang berkunjung. Beberapa wisatawan dan warga sekitar terlihat berolahraga ringan sekadar unutuk menyegarkan badan. Ada juga beberapa orang yang memilih untuk jalan-jalan santai sekaligus mengabadikan gambar seperti kami.

 

Menyambut pagi di Bukit Campuhan. (Photo by Moory)

 

Semburat matahari pagi di Bukit Campuhan.

 

Bukit Campuhan dari atas (Photo by Moory).

 

Bagi sebagian orang yang tinggal di Bali, khususnya Denpasar, Ubud memang tempat paling nyaman untuk weekend escape dari hiruk pikuk kota, termasuk kami. Kami yang sehari-hari tinggal dan bertahan hidup di Kota Denpasar, memang perlu sesekali menyegarkan diri, menghirup udara bersih, dan menikmati pemandangan alam yang menyejukkan mata. Karena itu kami memilih Bukit Campuhan sebagai destinasi piknik kami kali ini. Selain tempatnya bersih, bisa menghirup udara pagi hari yang segarnya minta ampun sepuasnya, ditambah alam di sekelilingnya juga tak kalah indah dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya di Pulau Dewata. Jarak dari Denpasar menuju Ubud pun tidak jauh, cukup ditempuh 1 jam perjalanan santai saja.

Menurut informasi yang saya baca-baca, bukit ini juga disebut Bukit Suci Gunung Lebah oleh warga lokal karena letaknya di belakang Pura Gunung Lebah. Sedangkan oleh wisatawan, bukit ini disebut dengan Bukit Campuhan atau Campuhan Ridge Walk. Memasuki kawasan ini tidak dipungut biaya dan sedikit mudah ditemukan asalkan kita jeli membaca petunjuk yang sudah banyak disediakan di mesin pencarian dunia maya. Jalan masuk menuju tempat ini berada di sebelah Ibah Hotel. Di sebelah pintu masuk hotel tersebut, ada jalan turunan menuju Bukit Campuhan. Kita bisa memarkirkan kendaraan bermotor di sebuah tanah kosong sebelah pintu masuk Ibah Hotel. Namun jika sedang banyak pengunjung, biasanya tanah kosong tersebut sudah penuh dan kita harus mencari parkir di pinggir jalan raya.

Setelah memarkirkan kendaraan, kita bisa langsung berjalan di sebelah kanan pintu masuk pura, yang merupakan titik awal trekking menuju bukit Campuhan. Mulai dari sini, kita tidak akan bertemu dengan kendaraan bermotor satupun. Jadi kita hanya bisa berjalan kaki atau naik sepeda. Setelah trekking beberapa menit dari start point, kita langsung menemukan jogging track yang bakal bikin mata kalian seger dan langsung melek. Apalagi sampai di bukit ini pagi-pagi setelah bangun tidur.

 

Joging Track Bukit Campuhan.

 

Joging Track Bukit Campuhan yang juga sering dipakai untuk foto prewed (Photo by Moory).

 

Jogging track inilah yang menjadi daya tarik dari Bukit Campuhan. Jalan berpaving sepanjang sekitar 2 kilometer ini diapit oleh ilalang-ilalang tinggi di kanan-kirinya. Disalah satu sisi jalan, terdengar gemericik lembah sungai Campuhan yang dikelilingi pohon tropis. Di sisi lainnya, terlihat hamparan sawah yang tak kalah menyejukkan mata. Disini kita bisa jalan kaki, lari-lari kecil, maupun bersepeda sepuasnya. Atau jika kalian ingin berbaring sebentar sambil menikmati hangatnya sang mentari, atau duduk-duduk cantik, bsah-sah saja asalkan jangan di tengah jalan ya biar ngga mengganggu orang yang lalu lalang disana. Selain itu, tempatnya juga benar-benar bersih jadi kalau kesini jangan buang sampah sembarangan ya.

Menyusuri bukit ini bisa dilakukan kapan saja dan jam berapa saja karena memang selalu terbuka untuk umum, tanpa harus mengeluarkan uang untuk tiket masuk. Hanya saja jam-jam favorit banyak pengunjung kesini adalah pagi hari dan sore hari. Namun saya pribadi lebih senang kemari di pagi hari karena udaranya masih benar-benar sejuk dan segar sekali. Selain itu, jika beruntung, kita bisa menikmati pemandangan matahari terbit.

Yuk piknik!

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM